Ekonomi, Bobroknya Orde Baru VS Hebatnya Jokowi

3
1796
Foto : Presiden Joko Widodo dan Soeharto

Jakarta, NAWACITAPOST – Indonesia kini dipimpin oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Dua periode sudah mengemban tugas negara untuk memimpin Indonesia. Kini Jokowi tengah dilanda cobaan. Negara Indonesia juga mengalami dampak Pandemi Covid 19. Seperti negara – negara lain. Namun, hebatnya Jokowi, perekonomian tidak mengalami kemungkinan terburuk yang dialami negara lain. Yakni resesi. Meskipun banyak asumsi bahwa Indonesia akan mengalami keterpurukan terburuk yang sama dengan negara lain, resesi. Hal yang sama pernah terjadi pada 1997 hingga 1998. Perekonomian Indonesia mengalami kegoncangan dan rapuh. Bahkan bisa dibilang sudah masuk pada masa bobrok. Tepatnya saat orde baru. Padahal, kala itu Covid 19 belum ada. Tapi, justru mengalami resesi hebat hingga berujung muncul utang.

BACA JUGA: Pencetus Larangan Cadar, Sukses Rekor Berangkat dari Beasiswa

Foto : Presiden Joko Widodo

21 Mei 1998, momentum tak terlupakan bagi bangsa Indonesia. Indonesia berjalan menuju kemandirian bangsa. Orde Baru lengser. Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Carut marut ekonomi menandai tenggelamnya sinar Orde Baru. Namun, jangan salah. Justru lengsernya layaknya lepaskan tanggung jawab penyelesaian. Pasalnya disertai utang menggunung untuk Indonesia. Utang tahun 1998 pun tak bisa dianggap enteng. Utang mencapai Rp 551,4 triliun atau ekuivalen 68,7 miliar dolar AS. Belum lagi harus berhutang dana bantuan. Tepatnya kepada International Monetary Fund (IMF) untuk meminjam dana bantuan.

BACA JUGA: Menteri Keuangan Terbaik, Wanita Pertama Jabat Direktur Bank Dunia

Foto : Presiden Soeharto dan Michael Camdessus, IMF

Disebutkan dalam imf.org pada Kamis 11 Oktober 2020, parahnya rasio utang tahun 1998 mencapai 57,7 persen. Tentu saja rasio utang dihadapkan pada PDB. Artinya jumlah uang Indonesia tak cukup buat melunasinya.  Bahkan, Michael Camdessus dari IMF datang membawa uang seabrek. Uang senilai 23,53 miliar dolar AS (Amerika Serikat) (Rp 130 triliun) disediakan. Tapi, bukan diberikan secara cuma – cuma. Uang akan dipinjamkan kepada Indonesia. Peminjaman demi memperbaiki keadaan ekonomi dalam negeri yang suram.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Soeharto

Lalu, 15 Januari 1998 ditandatanganilah Letters of Intens (LoI). Yaitu antara Presiden Soeharto dan Michael Camdessus yang disaksikan oleh para Menteri Orde Baru. Usai penandatanganan terjadilah kerusuhan di Jakarta dan Surakarta. Demikian menyusul dampak krisis moneter. Namun hanya 14,99 miliar dolar AS saja yang dicairkan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan, Tony Prasetiantono, ekonom Universitas Gadjah Mada mengatakan. Dana bantuan IMF pada tahun 1998 gagal menolong ekonomi Indonesia.

BACA JUGA: Keluarga Sederhana, Diusir dan Berjualan, Sungkowo Jadi Pranowo

Foto : Menteri Keuangan Sri Mulyani

Silih berganti kepemimpinan negara. Periode tahun 2001 hingga 2006 pemerintah Indonesia secara bertahap membayar utang pokoknya ke IMF. Yakni sebesar 11,1 miliar dolar AS. Lantas 12 Oktober 2006 pembayaran cicilan utang pokok Indonesia dibayar untuk terakhir kalinya. Setelah pembayaran, maka utang Indonesia ke IMF lunas. Jangan melupakan bunga pinjamannya. Pembayaran bunga pinjaman berlangsung sejak 1998 hingga 2006 senilai 2,1 miliar SDR (mata uang IMF). Pembayaran dilakukan pada September 2006.

BACA JUGA: Putra Nias, Melenggang dari Guru Besar Jadi Pendamping Menteri

Foto : Direktur IMF Christine Lagarde dan Presiden Joko Widodo

Berbanding terbalik dengan sekarang. Era pemerintahan Presiden Jokowi, IMF semakin terpesona dengan kemolekan Indonesia. Dalam waktu singkat, Christine Lagarde berkali – kali menyambangi Kantor Kepresidenan. Datang untuk membahas berbagai persoalan ekonomi global. Pendapat Indonesia mulai ‘didengar’. Dianggap sebagai salah satu negara yang berpengaruh dalam ekonomi global.

BACA JUGA: Ganjar – Anies – Kamil, Bakal Trio Capres 2024 ?

Foto : Presiden Jokowi mengajak Christine Lagarde mengunjungi RS Pertamina

Jokowi juga mengajak Lagarde mengunjungi Rumah Sakit (RS) Pertamina. Memamerkan keberhasilan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ya sistem yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Pertama kalinya, IMF mempercayakan Indonesia sebagai tuan rumah dalam perhelatan besar. Yaitu Forum Tahunan IMF-World Bank. Indonesia menjadi negara ke-empat di Asia Tenggara. Lebih tepatnya yang pernah menjadi tuan rumah acara internasional.

BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng

Foto : Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Presiden Joko Widodo

Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan atau Luhut menilai. Masyarakat perlu mempertimbangkan manfaat yang akan diperoleh. Terutama lewat penyelenggaraan Forum Tahunan IMF-Bank Dunia bagi perekonomian nasional. Khususnya Bali yang menjadi lokasi penyelenggaraan acara internasional. Bisa menjadi ajang untuk mempromosikan Indonesia. Ajang juga bermanfaat bagi masyarakat. Tentu nantinya akan adanya pembangunan dan kesempatan kerja di masa mendatang.

BACA JUGA: Gubernur Anies, Apa Laut Bukan Bagian dari Planet Bumi ?

Foto : Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Presiden Joko Widodo

Menghadapi pandemi pun pertumbuhan Indonesia pada triwulan I 2020 tercatat 2,97 persen. Angka memang lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia (BI). Memprediksi akan tumbuh di angka 4,4 persen. Meski begitu, angka 2,97 persen dianggap lebih baik. Ketimbang negara – negara lain yang juga berhadapan dengan penyebaran virus Covid 19 sejak awal tahun 2020.

BACA JUGA: Ray, Penderita Kanker Otot, Butuh Uluran Tangan

Foto : Gubernur BI, Perry Warjiyo

Gubernur BI, Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu 6 Mei 2020 menjelaskan. Beberapa negara di dunia mengalami resesi ekonomi akibat Covid 19. China, negeri tirai bambu mengalami anjlok pada pertumbuhan ekonominya. Pada triwulan IV tahun 2019 pertumbuhan ekonomi di China sebesar 6 persen. Lalu pada triwulan I 2020 anjlok menjadi -6,8 persen.

BACA JUGA: Lagi – Lagi Anies Berteriak di Panggung Konpers, Juliari Batubara Blusukan

Foto : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III 2019

Hal yang sama juga dialami oleh Eropa. Sebelum Covid 19 melanda Eropa, pertumbuhan ekonominya 1 persen. Setelah terdampak Covid 19, pertumbuhan ekonomi Eropa pada triwulan I 2020 menjadi -3,3 persen. Demikian pula dengan Singapura. Semula pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2019 sebesar 1 persen. Namun pada triwulan I merosot menjadi – 2,3 persen. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam pada triwulan IV 2019 sebesar 2,3 persen. Lalu pada triwulan I 2020 turun menjadi 0,3 persen. Korea Selatan juga mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan IV 2019 tercatat pertumbuhan ekonomi sebesar 2,3 persen. Lalu turun menjadi 1,3 persen pada triwulan I 2020.

BACA JUGA: Muhadjir Effendy, Berawal Penulis dan Wartawan Hantarkan Jadi Menteri

Foto : Presiden Joko Widodo

Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di tengah pandemi Covid 19. Sebab, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 di Vietnam sebesar 3,28 persen. Itulah kehebatan kepemimpinan Jokowi. Indonesia tetap mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik daripada negara lain. Mempertahankan pertumbuhan ekonomi terhadap negara lain tidaklah gampang.  Bukan sekadar seperti membalikkan telapak tangan.  Perlu memiliki kemampuan yang tinggi dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: BUMN Pertamina Dibawah Kepemimpinan Ahok Bungkam Rengekan Harga BBM Turun

Comments are closed.