Gubernur Anies, Apa Laut Bukan Bagian dari Planet Bumi ?

4
831
Foto : Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

Jakarta, NAWACITAPOST – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang sebelumnya merupakan rektor salah satu universitas memberikan konsep soal air. Konsepnya diabadikan dalam sebuah video. Terlihat Anies sedang menyampaikan lewat ceramah didalam video. Video dibagikan di sebuah channel Youtube milik Andor Tobing pada 14 Desember 2017. Video pun dibagikan oleh salah satu pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea di instagram miliknya.  Dituliskan caption ‘Pak Gubernur yang juga sahabatku’. Banyak mengundang reaksi warganet menanggapi status instagram milik Hotman.

Foto : Instagram Hotman Paris Hutapea

Anies menjelaskan dalam ceramahnya. “Ini aneh, ini bukan kampanye tetapi saya sampaikan. Di satu sisi menyiapkan jalur – jalur air untuk dikirim ke laut, disisi lain di lautnya di pasang pulau reklamasi. Tinggal tunggu jadi rob, air balik. Dan ini melawan sunatullah. Kenapa? Air itu turun dari langit ke bumi, bukan ke laut. Harusnya dimasukkan ke dalam bumi, masukkan tanah! Bukan ke laut. Diseluruh dunia, air jatuh itu dimasukkan ke tanah, bukan dialirkan pakai gorong-gorong raksasa ke laut. Jakarta sudah mengambil keputusan yang fatal!”

BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng

Sebelumnya pada 2017, Anies pernah menjelaskan konsep air. Tentu dimaksudkan ke pencegahan banjir. Tepatnya saat Debat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua. Kala itu, moderator menanyakan maksud dari program kerja Anies yakni Zero Run Off atau nol limpahan untuk menangani masalah banjir.

Foto : Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

Anies menjelaskan konsep vertical drainage. Adalah air hujan dimasukkan ke bumi bukan dikirimkan ke laut. Disamping kanal – kanal dan sungai pun disiapkan lubang kedalam. Sehingga tanah dibawah Jakarta berisi air kembali. Anies juga menyampaikan. Apabila tanah di Jakarta makin sedikit air, maka bukan lagi vertikal, tapi horizontal drainage.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Namun, ada beragam pendapat berbeda tentang konsep yang digaungkan oleh Anies. Lantaran pada awal Januari 2020 terjadi banjir besar – besar seJabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Bahkan, Jakarta dikepung banjir. Apa penyebab banjir?

Foto : Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan pada 3 Januari 2020 ke awak media. Penyebab utama banjir karena curah hujan yang cukup tinggi dan panjang. Yakni mencapai 377 mm. Sebenarnya, dampak dari curah hujan yang cukup tinggi bisa ditanggulangi. Tentu asalkan Anies melaksanakan programnya dengan cepat. Melakukan normalisasi sungai Ciliwung. Sebab, Anies baru melakukan normalisasi sepanjang 16 kilometer (km) dari total 33 km.

BACA JUGA: ASTON Priority Simatupang Hotel & Conference Center, Tawarkan Paket Inap Jangka Panjang Berhadiah

Anies justru berbeda pendapat dengan Basuki. Sebab daerah yang sudah dilakukan normalisasi tetap saja banjir. Seperti di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara dan Jakarta Timur. Anies menyebutkan banjir Jakarta harus diselesaikan secara lebih “nyata” dengan mengendalikan air dari daerah hulu. Seperti membangun kolam – kolam pengontrol air.

Foto : Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

Pengendalian air di kawasan hulu dengan membangun dam, waduk, embung, sehingga ada kolam – kolam retensi untuk mengontrol, mengendalikan, volume air yang bergerak ke arah hilir. Anies meyakini dengan cara demikian, masalah banjir Jakarta bisa diatasi. Tapi semua kewenangannya di pusat. Jadi melihat nanti pemerintah pusat.

BACA JUGA: PPNS DJKI : Siap Adu Cepat Tegakkan Hukum KI dengan Covid 19

Menepis jawaban Anies. Basuki menjelaskan. Skema normalisasi sungai juga bukan hal baru. Mekanismenya sudah ada sejak 1873. Bahkan sudah sempat ditinjau oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).

Foto : Gubernur DKi Jakarta, Anies Baswedan

Namun, sedikit gagal fokus akan penjelasan Anies. Tak lain mengenai air turun dari langit itu ke bumi, bukan ke laut. Ada yang menjadi pertanyaan. Apa laut bukan lagi menjadi bagian dari bumi? Bukankah selama ini bumi adalah planet? Laut bukan lagi jadi bagian planet bumi? Sudahkah menjadi planet tersendiri? Apa maksud sebenarnya kata demikian yang diucapkan? Lantas apa yang melawan sunatullah? (Ayu Yulia Yang)

 

 

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here