Foto : Ganjar Pranowo
Dirinya pun juga sebelumnya merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Yang mana dari Fraksi PDI Perjuangan periode 2004 – 2009 dan 2009 – 2013. Selain itu, Ganjar juga menjabat sebagai Ketua Umum KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) periode 2014 –2019. Yakni berdasarkan Kongres KAGAMA November 2014 di Kendari.
-
Ganjar Pranowo dilahirkan dari keluarga sederhana di sebuah desa. Tepatnya di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Sang ayah bernama S. Pamudji (1933-2017) dan ibu bernama Sri Suparni. Merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Saudara kandungnya yaitu Pri Kuntadi, Pri Pambudi Teguh (salah satu hakim agung di Indonesia, yaitu Hakim Agung Kamar Perdata), Joko Prasetyo, Prasetyowati dan yang terakhir Nur Hidayati. Ayah merupakan seorang polisi. Sempat ditugaskan untuk mengikuti operasi penumpasan Pemberontak PRRI atau Permesta.
-
Ganjar dari SD sudah punya jiwa kepemimpinan. Dia selalu terpilih menjadi ketua kelas. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak kecil. Kalau istirahat sering memimpin teman -temannya bermain. Mengajak kembali ke kelas, jika sudah habis waktunya. Ganjar sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga tak heran apabila ulangan bahasa Indonesia, Ganjar selalu mendapatkan nilai tertinggi. Ya tentu dibandingkan dengan teman - teman lainnya. Ada pelajaran yang juga sangat disukai Ganjar. Yaitu pelajaran sejarah. Dia juga sering bercerita bahwa dia senang dengan buku-buku Soekarno. Hobinya berorganisasi di Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
-
Ganjar sudah ditempa disiplin sejak kecil. Saat masih SD, harus bangun dini hari. Tak lain untuk menjalankan sholat, belajar, sekaligus menyemir sepatu “boots” milik ayahnya. Ya yang mana adalah seorang polisi. Disiplin dan kerja keras yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil membuat Ganjar menjadi sosok yang mandiri.
-
Masa sulit berkesan pernah dialami oleh Ganjar Pranowo. Yakni ketika sang ayah pensiun dari kedinasannya di Polri pada akhir dekade 1980-an. Kehidupan ekonomi keluarga Ganjar sangat pas –pasan. Terlebih kedua orang tuanya sedang butuh uang banyak untuk kebutuhan sekolah dirinya dan adik - adiknya. Ganjar paham benar dan sangat resah. Tentu kalau sampai tidak bisa melanjutkan kuliah. Pasalnya sang kakak Prasetyowati Tyas Purwati memang terpaksa tidak bisa kuliah. Tak lain karena keterbatasan biaya.
-
Setelah sang ayah pensiun, pemenuhan kebutuhan dengan sang ibu membuka warung kelontong. Letaknya di dekat gang masuk ke rumahnya. Warung juga menyediakan bensin eceran. Namun Ganjar serius untuk mengelola warung . Pagi setelah subuh, dia sering belanja bensin ke SPBU Andong kemudian menakarinya. Dia sudah terbiasa hidup prihatin. Dia yang masih SMP bahkan sempat berjualan bensin dipinggir jalan. Dia memang yang tergolong pendiam dan cenderung menerima sejak kecil. Diberi makanan apa saja tidak pernah protes. Tapi, kalau disuruh kedua orang tuanya, hasilnya menyenangkan. Seperti saat menyemir sepatu sang ayah. Hasilnya paling kinclong. Sang ayah pun sangat menyayanginya.
-
Ganjar menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Kutoarjo, Purworejo. Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Kutoarjo dan SMA BOPKRI 1 Yogyakarta. Setelah lulus sekolah menengah atas, kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Tahun 1987 saat Ganjar lulus SMA, sekitar jam 5 pagi, berlari kerumah. Sebelumnya dia terlebih dahulu membuka warung. Lantas dia langsung sujud di kaki ibunya. Dia bilang diterima di Fakultas Hukum UGM sesuai yang dikehendaki.
-
Keterbatasan ekonomi kedua orang tua Ganjar tidak membuatnya patah semangat. Benar saja, selama menjalani kuliah seringkali dia meminta dispensasi. Dispensasi untuk pembayaran kuliah dengan bukti surat pernyataan bermaterai dari orang tuanya. Selama kuliah di UGM, dia sempat cuti kuliah selama dua semester. Sebab tidak memiliki biaya untuk perkuliahan. Karena hal demikian pula, dia sempat berhutang ketika makan di Gelanggang Mahasiswa UGM. Lantaran dirinya pun sudah hidup sendiri di “kos - kosan”.
-
Ganjar tak pernah mengeluhkan kiriman uang saku yang pas - pasan. Justru mendorong semangat dia untuk melakukan kerja sambilan. Lulus dari Fakultas Hukum UGM dengan skripsi yang mengambil tema hukum dagang (merger dan akuisisi). Lalu, dia mencoba mencari rezeki di Jakarta. Bekerja di lembaga konsultan HRD yaitu PT. Prakasa. Selain itu, dia juga pernah bekerja di PT. Prastawana Karya Samitra dan PT. Semeru Realindo Inti.
-
Ada kenangan manis yang juga membekas. Ketika sekeluarga diusir dari rumah. Ceritanya, rumah masa kecil Ganjar di Tawangmangu, Karanganyar harus dijual. Ayahnya bersepakat dengan pembeli rumah. Masih diizinkan menempati sampai mendapat rumah kontrakan. Tiba - tiba suatu malam si pembeli rumah meminta keluarga Ganjar pindah. Beralasan karena segera ditempati pembelinya. Meski merasa dilanggar perjanjiannya, akan tetapi sang ayah mengalah. Semalaman hingga subuh sang ayah pergi mencari rumah kontrakan. Akhirnya Ganjar bersama ayah, ibu dan adik - adiknya terpaksa tinggal di rumah yang bersebelahan dengan pabrik gamping.
-
Ganjar Sungkowo, demikian nama awalnya. Seperti halnya Joko Widodo, Ganjar Pranowo juga memiliki kisah penggantian nama yang lazim terjadi. Terutama pada tradisi anak - anak di tanah Mataraman zaman dahulu. Nama asli dari Ganjar Pranowo adalah Ganjar Sungkowo. Memiliki arti Ganjaran dari Kesusahan atau Kesedihan (Sungkowo). Ganjar berarti hadiah dari Sang Pencipta. Sedangkan nama belakang berhubungan dengan keadaan. Tepatnya ketika sang ibu mengandung dirinya. Saat itu, kedua orang tuanya sedang banyak dirundung kesusahan. Sungkowo sendiri memiliki arti kesedihan. Ketika memasuki masa sekolah, nama Sungkowo diganti dengan Pranowo. Kedua orang tuanya takut kalau hidupnya kelak selalu berkubang kesialan dan kesusahan. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?