BACA JUGA: Artis Cilik Indonesia Bersuara Khas, Kobarkan Segarkan Bangkitkan Tagline Nias Pulau Impian
Foto : Ilustrasi ARAB
Bayangkan saja, negara yang sudah dinyatakan merdeka sejak 1945. Ternyata masih dalam imperialisme ASIA BARAT (ARAB), bukan BARAT. Selama ini berbagai isu tentang neokolonialisme Barat ditiupkan dengan gencar. Opini bangsa digiring untuk membenci Barat. Ternyata, semua pekerjaan musuh dalam selimut, selimut agama. Kemajuan teknologi, perekonomian, perkembangan bisnis dan cara hidup ala Barat yang praktis dan pesat sangat gampang ditiru. Demikian telah diperhitungkan sebagai ancaman yang mengerikan. Terutama dalam pandangan imperialisme Arab. Sehingga isu neokolonialisme Barat dan Kristenisasi dihembuskan untuk keuntungan imperialisme Arab. Segala berbau Barat dikelompokkan sebagai peradaban kaum kafir. Oleh karenanya menjadi sesuatu yang haram. Orang tua termasuk para guru agama menjadi ujung tombak penyampaian keharaman yang berbau Barat. Sebagian besar orang tua di Indonesia memang relatif masih sangat muda. Baru punya sedikit janggut, lelaki sudah boleh mengajak perempuan “anak baru gede atau abg” untuk menghadap penghulu. Tidak peduli sudah matang atau belum untuk mendidik anak dan memberikan anaknya makan kelak.
BACA JUGA: 67 Tahun Yasonna Laoly : Bermakna, Berkesan dan Berpesan bagi Semua. Berikut Testimoni Para Tokoh !
-
Rata - rata tidak berpendidikan yang cukup. Sehingga tidak dapat berpikir rasional. Jadi begitu ada hasutan dari orang yang mengaku ahli agama, langsung tunduk sukarela. Apalagi kalau sampai disuplai uang pula. Perdebatan diharamkan, teristimewa perdebatan soal agama, tidak tersentuh. Melakukan sesuatu atas nama agama seperti kerbau dicucuk hidung. Tidak punya daya kritis sama sekali. Melihat gampangnya sebagian besar anak bangsa dipengaruhi atas nama agama. Adalah pengaruh indoktrinasi bahwa agama tidak boleh diperdebatkan. Para kaum Arab tidak mengajarkan agama sebagaimana seharusnya. Agama yang disampaikan tidak untuk menjadi pencerahan otak bagi umat. Akan tetapi cenderung menjadi pembodohan. Tujuannya memang adalah untuk menjajah. Bukan untuk memanusiakan manusia dengan ajaran agama.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
-
Andai saja bangsa mendapat pendidikan agama dengan benar. Mendapatkan dari sumber yang benar. Tidak akan mungkin ada yang bernama Front Pembela Islam atau FPI, Jama’ah Ansharut Tauhid, Laskar Jihad dan lain sebagainya. Yakni gerombolan bolot yang lebih bangga menjadi anggota kesatuan organisasi ekstrimis Islam Asia Barat atau Timur Tengah daripada sebagai Islam Indonesia. Tidak mungkin orang yang bernama para habib menjadi alim ulama dan pemimpin gerombolan bolot di negeri. Sayangnya, kesempatan untuk berpikir kritis terhadap agama sudah dipunahkan sejak awal. Sehingga dengan gampang para anak bangsa yang kurang pendidikan dan hidup kekurangan digiring. Tak lain untuk menjadi ekstrimis dan tunduk sukarela menjadi budak para Arab. Dengan tujuannya untuk mewujudkan ambisi Arab untuk mengArabkan Indonesia. Kemiskinan dan kebodohan telah dimanfaatkan. Sebagian besar anak bangsa sudah lebih bangga mampu berbahasa Arab. Ketimbang mampu mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih bangga memakai gamis di jalan. Daripada memakai pakaian tradisional yang diwariskan leluhur bangsa Indonesia.
BACA JUGA: Yasonna Sembari Lantik Pejabat Eselon II Kemenkumham, Ajak Sukseskan New Normal
-
Apakah semua sudah sangat terlambat untuk membuang peradaban Arab dari bumi Indonesia? Tidak ada istilah terlambat untuk membuang kebolotan. Tidak boleh menjadi bangsa yang bolot. Melihat tidak satupun peradaban Arab yang memberikan kontribusi . Terutama terhadap pembangunan bangsa dalam bidang apapun. Yang diberikan hanyalah pembodohan dan pembolotan. Bahkan, membuat orang tinggal manut. Jika boleh membandingkan, maaf dengan kehidupan orang Kristiani Indonesia, misalnya. Boleh menjadi orang yang sangat taat beragama. Akan tetapi hidup kesehariannya tetap menjadi orang Indonesia. Tidak langsung mengubah cara hidupnya seperti cara dulu Yesus hidup secara lahiriah. Padahal seharusnya, sosok Yesus yang gambarnya ada dimana saja sangat mudah untuk ditiru. Tetapi tidak satupun penganut agama Kristiani meniru cara berpakaian Yesus. Terus tidak pula meniru jenggotnya atau keriting rambutnya. Yang dipratikkan adalah kasih sayang yang diajarkan Yesus. Bukan tampilan Yesus secara lahir.
BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng
-
Orang Bali Kristiani tetap dengan budaya Balinya. Demikian juga Batak, Toraja, Jawa dan lain sebagainya. Tetap tampil sebagai orang Indonesia. Beribadah dalam bahasa asalnya masing – masing. Berbahasa bisa menggunakan bahasa China, Batak, Sunda, Bali, Jawa dan sebagainya. Malah tidak ada gereja yang berbahasa Ibrani di Indonesia. Sebagaimana dulu Yesus mempergunakan bahasa mengajar para muridnya. Kristiani tetap menghargai budaya asal pemeluknya tanpa sama sekali menerapkan budaya Yesus (budaya Yahudi atau Israel). Pemeluk Kristiani dari suku apapun diterima sebagai pribadi yang merdeka. Secara lahir tetap sebagaimana asalnya. Yang mana diubahkan adalah kehidupan spiritualnya, jiwanya.
BACA JUGA: Putra Nias, Melenggang dari Guru Besar Jadi Pendamping Menteri
-
Sebelum bangsa benar hilang dan identitas sebagai bangsa Indonesia tergantikan oleh identitas Arab, mari berbenah. Mengikis segala bentuk penjajahan dalam setiap bentuknya di bumi Indonesia. Jangan lengah dengan penjajah yang bertopeng agama. Bercerminlah kepada penganut agama - agama lain di Indonesia. Lebih hidup merdeka sebagai bangsa Indonesia. Meskipun menganut salah satu agama yang semuanya adalah agama import. Jangan biarkan para Arab memimpin kerohanian bangsa. Bangsa sudah mengenal Islam ratusan tahun. Sudah seharusnya ada Islam yang berkepribadian Indonesia, bukan berkepribadian Arab. Indonesia dengan wilayah luas, alam kaya, letak strategis dan jumlah penduduk besar terbelakang memang adalah sasaran empuk. Tak lain untuk dijadikan sekutu. Bangsa Arab dan segala bangsa di dunia sadar. Bangsa besar di dunia melihat potensi yang dimiliki Indonesia. Dahulu Belanda datang dengan cara kasar menjajah Indonesia, demikian pula Jepang. Nah, bangsa Arab, dengan sangat licik masuk menjajah Indonesia dengan memperalat agama Islam. Ya dengan sifat religius yang dimiliki Indonesia. Bangsa begitu saja mengamini semua yang dikatakan bangsa Arab. Sehingga banyaklah bangsa menjadi orang - orang tertipu. Berpikir telah menganut agama Islam yang benar. Tidak tahunya hanya menganut budaya Arab yang sarat dengan kekerasan dan keberingasan. Musuh yang menikam dengan senyuman manis adalah lebih berbahaya daripada yang menikam dengan amarah.
BACA JUGA: Si Kurang Senyum Moeldoko, Tak Pernah Lipat Jari Tangan, Naik Kereta Gratis, Ditangkap Kondektur
-
Mungkin sulit dipercaya atau sedikit diketahui. Imperialisme Arab di wilayah yang kini masuk “Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” telah berlangsung sejak abad 7. Telah terdapat sejumlah koloni Arab di negeri. Datang karena negeri lain relatif lebih nyaman dibanding negeri sendiri. Sebagian besar dunia Arab kering kerontang. Sering terjadi perang. Diantaranya perang saudara. Konflik antar dinasti semisal ‘Abbasiyyah, ‘Ummayyah dan Fathimiyyah – yang notabene ketiganya masih terhitung keluarga besar nabi – . Adalah fakta yang sulit dibantah. Begitu pula konflik dengan bangsa lain semisal Perang Salib (1095-1291) dan perang kolonial sejak abad 16. Mengingat jarak antara Nusantara dengan Arabia yang terbilang jauh dan terpisah laut luas. Maka kolonisasi Arab di Nusantara tidaklah semasif dan secepat apa yang dilakukan di Afrika dan Eropa. Hadir secara berangsur - angsur di wilayah yang umumnya relatif jauh dari pusat kekuasaan atau kerajaan penduduk setempat. Semisal di pesisir Minangkabau yang relatif jauh dari pusat Kerajaan Sriwijaya dan Banten yang relatif jauh dari pusat Kerajaan Sunda-Galuh.
BACA JUGA: Megawati Tekankan Prioritas Berdikari Wujudkan Kedaulatan Pangan
-
Kehadiran sejumlah bangsa Eropa pada abad 16 berangsur - angsur mengurangi kuasa dan pengaruh Arab di Nusantara. Namun kuasa atau pengaruh Arab belum pernah benar lenyap di Nusantara. Intinya, Nusantara dengan segala pesonanya telah menjadi panggung pertarungan. Terutama dari berbagai pengaruh asing sejak menjelang tarikh Masehi. Kini, pada abad 21 imperialisme Arab berangsur - angsur seakan bangkit kembali melalui berbagai ormas (berkedok) agama. Bisa juga dibilang berkedok “Kebangkitan Islam Abad 15 Hijriyyah”. Dengan dukungan dana berlimpah sebagai hasil dari sumber alam minyak di Arabia, relatif mudah menebar pengaruh ke negeri. Sekian tahun terakhir banyak hadir semisal di kawasan wisata Puncak. Tepatnya sekitar 90 km ke arah selatan Jakarta. Muncullah berbagai bisnis jasa dengan memakai huruf Arab di sepanjang jalur. Bahkan mendapat info bisnis jasa seperti toko buku, fotokopi, travel yang memakai huruf Arab. Yang mengherankan merangkap jasa kawin kontrak. Tentunya antara lelaki Arab dengan perempuan pribumi.
BACA JUGA: Megawati, Titisan Soekarno Melanjutkan Perjuangan Politik Merdeka
-
Anehnya, warga setempat senang menerima. Merasa beruntung mendapat jodoh atau menantu lelaki Arab. Padahal, tidak diimbangi dengan kesediaan orang Arab berjodoh atau Arab bermenantu lelaki pribumi. Inilah akibat dari pemahaman agama Islam yang “Arab minded”. Artinya menjadikan Arab sebagai ukuran beragama Islam. Apa saja yang berasal dari Arab dianggap agama Islam. Semisal janggut dan gamis. Padahal bukan cuma Nabi Muhammad yang bergamis dan berjanggut. Namun musuhnya semisal Abu Lahab dan Abu Jahal juga demikian. Karena sama - sama orang Arab, Nabi diutus ke Arabia. Karena sebenarnya orang Arab paling butuh, bangsa yang (sangat) barbar. Jika bangsa sebarbar Arab dapat dibina, maka bangsa lain yang nota bene kurang sebarbar Arab akan lebih mudah dibina. Jelas, Nabi diutus untuk mengIslamkan orang. Bukan mengarabkan orang. Orang diIslamkan sambil dibiarkan lestari identitas suku dan bangsanya. Tidak perlu keArab-Araban untuk menjadi Muslim yang baik. Ambil Islamnya, buang Arabnya. Hapuskanlah segala fatwa yang mengharamkan memperdebatkan kebenaran yang diserukan oleh sejumlah tokoh agama yang “Arab minded”. Supaya benar - benar mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya. Seharusnya semakin manusia mengenal Tuhan (lewat agama yang dianutnya) maka sifat - sifat Tuhan pun akan menjadi denyut hidupnya.
BACA JUGA: Yasonna Menjawab, Jangan Sepelekan Minta Bangun Lapas
-
Menyeru kebesaran Tuhan dengan pedang terhunus dan amarah yang membara di dada. Adalah penghinaan kepada Tuhan itu sendiri. Terpulang pada semua, Merasa dijajah kaum Arab atau tidak. Perlu dipikirkan, sebab membiarkan para habib memimpin. Padahal bangsa punya semisal Nasution, Siregar, Teungku, Bagindo Rajo, Tuanku, Mas Suparno atau Kang Jali, dan lain sebagainya. Bangunlah agama Islam yang berkepribadian Indonesia. Kepribadian dibangun dengan anti kekerasan, anti keras kepala, anti benar sendiri, anti brutalisme, anti gamis dan sebagainya. Bangsa punya budaya sendiri, budaya Indonesia. Jangan cuma mengenang orang - orang yang melawan imperialisme Barat dan Jepang. Jangan cuma menganggap pahlawan atau pejuang, orang - orang yang melawan imperialisme Barat dan Jepang. Tetapi kenanglah, hargailah, jadikanlah pahlawan untuk para penentang imperialisme Arab. Kepada aparat, jangan ragu mengamankan para gerombolan bolot. Tak lain memang ditujukan demi kedamaian di bumi Indonesia tercinta.Demikian telah menjadi momok yang menakutkan dan mencoreng wajah bangsa dalam pandangan dunia Internasional. Salam “MERDEKA” dari anggota Pejuang 1945! (Ayu Yulia Yang)
Sumber berita : Indra Ganie
BACA JUGA: Ray, Penderita Kanker Otot, Butuh Uluran Tangan