Si Kurang Senyum Moeldoko, Tak Pernah Lipat Jari Tangan, Naik Kereta Gratis, Ditangkap Kondektur

5
2092
Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Jakarta, NAWACITAPOST – Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P. atau biasa dipanggil Moeldoko lahir di Kediri, Jawa Timur. Adalah tokoh militer Indonesia yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia. Tepatnya sejak 17 Januari 2018. Dirinya menjabat usai dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebelumnya, dirinya menjabat sebagai Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 hingga 8 Juli 2015. Dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat sejak 20 Mei 2013 hingga 30 Agustus 2013. Namun, sayangnya dirinya terbilang kurang senyum di mata rekannya, Agum Gumelar. Dia juga nyaris tak pernah melipat jari tangannya. Dirinya juga pernah mengalami ditangkap kondektur.

BACA JUGA: 67 Tahun Yasonna Laoly : Bermakna, Berkesan dan Berpesan bagi Semua. Berikut Testimoni Para Tokoh !

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bersama Presiden Jokowi

Moeldoko lahir sebagai anak bungsu 12 bersaudara dari pasangan suami istri Moestaman dan Hj Masfuah. Saudara – saudaranya adalah Moesadi, Muhammad Sujak, Poerwono, Suyono, Sugeng Hariyono, Supiyani, dan Siti Rahayu. Mengawali karier sebagai Komandan Peleton di Yonif Linud 700 Kodam VII/Wirabuana pada 1981. Nama Moeldoko kemudian melesat sejak menjabat Kasdam Jaya pada 2008. Selama karier militernya, dirinya banyak memperoleh berbagai penghargaan dan tanda jasa. Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Seroja Timor Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Dia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat dan Kanada.

BACA JUGA: Sosok Yasonna Laoly di Mata Ephorus BNKP, Terucap Terima Kasih dan Tuhan Memberkati

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bersama Mantan Ketum PSSI Agum Gumelar dan Letjen TNI (Purn) Soerjadi

Moeldoko juga pernah mendapatkan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama 1981 (lulusan terbaik Akademi Militer, Magelang), lulusan terbaik Sesko AD 1995 hingga lulusan terbaik Lemhanas 2008. Pada 20 Mei 2013 hingga 30 Agustus 2013, dia menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).  Sementara, tanda jasa juga banyak disabetnya. Yaitu Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satya Lencana Dharma Santala, Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan XIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Wira Dharma dan Satya Widya Sista.

BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Moeldoko tidak ketinggalan pula di bidang pendidikan. Tepat pada 15 Januari 2014, Moeldoko meraih gelar doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia (UI). Yakni dengan disertasinya berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)”. Tak hanya itu, dia juga Ketua Umum (Ketum) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk periode 2017-2020. Dengan tekad, pengalaman dan jiwa kepemimpinan yang baik, dia siap melayani masyarakat Indonesia dari segala penjuru. Dirinya juga membangun Tanah Air yang lebih maju.

BACA JUGA: Putra Nias, Melenggang dari Guru Besar Jadi Pendamping Menteri

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Kala masih aktif menjadi Panglima TNI, Moeldoko mendirikan masjid megah berarsitektur Turki. Dinamai Masjid Dr H. Moeldoko. Berdiri kokoh di kota tempat dia menghabiskan masa mudanya, Jombang. Berbatasan dengan Kediri. Masjid yang berada dalam kompleks Islamic Center. Tepatnya di Jalan Raya Desa Kayen Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang. Masjid diresmikan pada 1 Juni 2016. Demikian lebih cepat dari peresmian Islamic Centre Dr H Moeldoko yang baru diresmikan pada 6 Juni 2016.

BACA JUGA: Tjahjo Kumolo, Sang Menteri Pujangga Puitis, Kolektor Barang Antik, Doyan Daging Kambing

Foto : Masjid milik Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Masjid dilengkapi fasilitas pendidikan dan sosial. Seperti panti asuhan, madrasah, gedung TKA Dharma Wanita dan Taman Pendidikan Al Qur’an. Moeldoko juga mendirikan M Foundation. Merupakan sebuah yayasan sosial yang memiliki fokus kegiatan sosial. Terlebih dalam hal memberikan bantuan pendidikan kepada anak – anak yatim hingga jenjang perguruan tinggi. Bantuan pendidikan M Foundation diberikan dengan persyaratan siswa akan diseleksi dan dievaluasi prestasi belajarnya secara berkala. Dia ingin anak – anak yang dibantu M Foundation menjadi manusia Indonesia yang lengkap seutuhnya, hablum minannas pun juga hablum minallah.

BACA JUGA: BUMN Pertamina Dibawah Kepemimpinan Ahok Bungkam Rengekan Harga BBM Turun

Foto : Kepala Staf Kepresidenan dengan jam tangan miliknya

Moeldoko punya selera tinggi akan barang yang dikenakannya. Selera tinggi tingginya pun menjadi sorotan media Singapura, Mothership.sg. Jam yang dikenakannya harganya ditaksir mencapai Rp 1,16 miliar. Namun, justru diakui dibelinya hanya dengan Rp 5 juta. Ada alasan sendiri hingga akhirnya¬† menjatuhkan pilihan pada ‘layang – layang hitam’. Inovasi dan inovasi. Bangsa yang kering inovasi tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Bisa membeli jam mahal dengan harga murah memberikan inspirasi tersendiri baginya. Dalam artikel Mothership.sg pada 2014 lalu, harga jam tangan Moeldoko ditaksir mencapai US$ 100 ribu atau sekitar Rp 1,16 miliar. Hanya ada 30 jam yang terjual di Amerika Utara dan Selatan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Moeldoko juga punya cerita yang tak bisa dilupakan semasa hidupnya. Yakni tidur di mushola setiap malam. Dirinya kecil punya kebiasaan rutin. Sehabis pulang sekolah langsung ke sawah untuk membantu ala kadarnya. Layaknya bocah, dia berkeluyuran di perkebunan tebu dengan teman – teman sebaya. Meski sedang asyik bermain, dia juga tidak lalai beribadah. Jelang Maghrib, dia sudah merapat ke mushola dekat rumah. Usai sholat, dia lanjut mengaji dan latihan silat. Setelah itu, dia tidur di mushola sampai pagi. Tapi, ibunya tak pernah menyarinya. Tiap pukul empat pagi, dia ingat dibangunkan oleh Kiyai Slamet. Ya dengan cara disabet pakai ranting. Dia diminta untuk mengaji. Dilanjutkan sholat Subuh. Setelah itu, baru pulang untuk bersiap ke sekolah.

BACA JUGA: Ray, Penderita Kanker Otot, Butuh Uluran Tangan

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Ada cerita lain pula dari seorang Moeldoko. Masa kecil yang begitu mengesankan baginya. Dia berasal dari keluarga yang tidak punya. Dia pernah hidup susah di kampungnya yang jauh dari perkotaan. Sejak kecil dirinya selalu bekerja keras. Bahkan, dia nyaris tak pernah melipat jari tangannya karena bekerja tiada henti. Mulai dari mengerjakan proyek pembangunan desa. Hingga menyediakan pasir dan batu yang diangkut dari pinggir kali setiap hari seusai pulang sekolah. Semua dilakukan untuk membantu menopang kebutuhan keluarganya. Pernah hidup susah tidak membuat dirinya putus asa. Nyatanya, dia terus membuktikan tekad dan prestasi yang membanggakan.

BACA JUGA: Ekonomi, Bobroknya Orde Baru VS Hebatnya Jokowi

Foto : Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko

Moeldoko muda, memang pintar. Tapi, sifatnya sungguh bandel dan tak pernah surut. Terutama ketika dirinya duduk di bangku SMP. Jarak sekolahnya jauh juga. Dasar memang pintar, dirinya berinisiatif mencari tumpangan gratis. Sasarannya Kereta Api yang melintas dari Kediri menuju Jombang. Begitu kereta melintas, dia langsung mengejar dan melompat. Dia menganggap, itu bagian dari olahraga tiap pagi. Meskipun terkadang juga mendapatkan sial atau apes. Dirinya ditangkap oleh kondektur kereta. Sanksinya, sang kondektur akan menyita buku. Lalu dititipkan di stasiun. Buku hanya bisa diambil oleh kepala sekolah. Ternyata, dirinya tidak takut lapor ke kepala sekolah. Tak lain untuk meminta tolong mengambil bukunya yang disita di stasiun kereta api. Untungnya, kepala sekolah selalu bersedia. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Kepulauan Nias Dapil II Sumut Terpilih, Kemanakah Saat Pandemi Covid 19 ?