Kamis, 4 Juni 2026

Gubernur Sumatera Barat Gagal Paham

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Selasa, 9 Juni 2020 | 20:30 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Ade Armando, seorang pakar komunikasi Indonesia mencurahkan. Tidak lagi dianggap sebagai orang Minang. Bahkan diusir dari suku Minang. Status sebagai orang Minang sudah dicabut. Yang mencabut adalah sebuah Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau. Bersama sejumlah nama lainnya yang tidak dinyatakan secara eksplisit tidak lagi diterima sebagai orang Minang. Tidak tahu persis sebabnya. Tapi, kalimat dari Irfianda Abidin selaku ketuanya membantu semua untuk memahaminya. Dikatakannya bahwa orang Minangkabau pasti beragama Islam. Jika telah berani menista agama Islam maka tidak lagi menjiwai ajaran agama Islam.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno

Sewajarnya, tidak lagi menggunakan lagi status orang Minang. Dianggap sudah menjadi orang yang menista agama Islam. Dugaan ada kaitan dengan komentarnya terhadap desakan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno. Awal Juni menyatakan. Mendesak agar Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informatika) menghapuskan sebuah aplikasi Injil berbahasa Minang dari Google Playstore. Kemudian mengkritik pernyataannya Gubernur. Tidak masuk akal. Dengan adanya desakan justru terlihat Sumbar jadi provinsi yang terbelakang. Dulu sepertinya banyak orang pintar. Kini jadi lebih kadrun dari kadrun. Sebenarnya tidak menghina orang Minang.

BACA JUGA: Bukti Masyarakat Cinta Jokowi, Situs yang Serang Jokowi Alami Kemerosotan Rating

-
Foto : Aplikasi Injil berbahasa Minang dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno

Aplikasi Injil bertentangan dengan budaya Minang di Sumbar. Padahal orang Minang mengagumkan karena keterbukaan intelektualnya. Beberapa waktu lalu, mengisi sensus. Dirinya memang orang Minang, suku Minang namun tidak lahir di Sumbar, lahir di Jakarta. Tidak diterima sebagai Minang. Memang pergi ke Sumbar ada tiga kali. Ada urusan pekerjaan. Namun memang tidak bisa berbicara bahasa Minang. Dipertanyakan soal hak.dan organisasi. Irfianda Abidin memang bermasalah. Cvnya adalah seorang pengusaha. Tapi menjabat sebagai Ketua Dewam Syuro Majelis Mujahidin Pusat. Sebuah organisasi yang dibilang cukup ekstrim. Pendirinya Abu Bakar Ba’asyir.

BACA JUGA: Lawan Jokowi Kampanye Kegagalan Esemka, Justru Esemka Launching Inovasi Baru

-
Foto : Irfianda Abidin

Kemudian Irfianda Abidin adalah ketua umum komite penegak syariat Islam di Padang sampai tahun 2019. Komite diresmikan oleh Abu Bakar Ba’asyir pada tahun 2007. Jadi pro syariah. Menjadi ketua forum masyarakat Minang. Menariknya, memberangkatkan rombongan Sumbar ke aksi 212 tahun 2016. Pernah ada anti Ahok. Pengirimnya adalah Irfianda Abidin. Memang pernah jadi caleg tahun 2019 dari Partai Bulan Bintang. Namun tidak lolos. Masyarakat Sumbar tidak begitu mempercayainya. Tak lain untuk mewakili kursi DPR.

BACA JUGA: Kuliah Ikatan Kedinasan Poltekip Poltekim Kemenkumham Sudah Dibuka, Ayo Daftar!

-
Foto : Anti Ahok

Lebih substansif adalah dampak ada atau tidaknya Injil berbahasa Minang. Lantas Gubernur memberikan dua alasan. Pertama adalah keresahan di masyarakat, Kedua adalah Injil bertolak belakang dengan adat dan budaya. Sementara Injil berisi kebaikan, tidak menghina agama Islam dan atau nabi Muhammad. Kemudian Injil berbeda dengan Al Quran, ada bahasa Arabnya. Sumbar menjadi Islam pada abad ke 15. Sebelumnya dominan adalah agama Buddha. Seperti diakuinya kerajaan Pagaruyung. Belakangan jadi kerajaan Islam. Padahal, sebelumnya kerajaan Buddha. Terlihat kesannya mengherankan cara beragama Islam di Minang. Mengabaikan akal sehat.

BACA JUGA: Lawan Sebut Jokowi Terlibat PKI, Malahan Terungkap Soeharto Dalangnya Rekayasa PKI

-
Foto : Kerajaan Pagaruyung

Memandang curahannya ada kalanya melihat latar belakang dalam segi politiknya. Irwan Prayitno berasal dari PKS. Kemudian ada tujuan tertentu terkait sejarah. Sepertinya sedang digeser. Injil berbahasa Minang ternyata sudah ada sejak tahun 1996. Artinya sejak 24 tahun yang lalu. Injil berbahasa Minang sudah ada di tengah masyarakat. Kemudian Kerajaan Pagaruyung di Sumatera adalah kerajaan Hindu Budhha. Sejarah mencatat jika Islam bukanlah agama pertama di tanah Minang. Kerajaan Pagaruyung yang beragama Hindu Buddha sudah berdiri sejak abad ke 13 di tanah Minang. Jadi, leluhur putra putri Minang beragama Hindu Budha, bukan Islam. Perkembangan Islam di Minangkabau bermula dari pesisir Pariaman. Tepatnya setelah masuknya dakwah agama Islam ke Aceh pada abad ke-14. Sepertinya ada gagal paham sejarah. Sehingga mencabut jati diri Minang pada Ade Armando. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Jokowi Melawan Arus Demi Indonesia Maju, Siapapun Berulah Bakal Digigit

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini