Bukti Masyarakat Cinta Jokowi, Situs yang Serang Jokowi Alami Kemerosotan Rating

8
2038
Foto : Presiden Jokowi bersama istri

Jakarta, NAWACITAPOST – Masyarakat memang benar cinta Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Masyarakat membuktikan melalui unreg (unregistration) situs portal berita nasional swasta di Play Store. Terlebih tentunya usai memberitakan yang isinya serupa penyerangan dan provokasi negatif terhadap Jokowi. Padahal, enak zaman Jokowi ketimbang dulu zamannya Soeharto. Era Soeharto, media dibungkam. Otoriter. Tak boleh sembarangan memberitakan. Tak boleh ada kritikan. Sekalipun memang benar. Tak boleh ada berita negatif tentang pemerintah. Sekalipun memang benar terjadi dan fakta. Semua media dibawah kendali Soeharto.

BACA JUGA: Kematian Kristin Vili Mendrofa Diduga Direkayasa, Kinerja Polsek Kuranji Dipertanyakan

Foto : Rating Detikcom

Kegiatan mancing keluarga Presiden jauh lebih penting dari semua berita apapun di dunia kala itu. Kegiatan tidak berfaedah bisa menghentikan breaking news apapun. Semua media nurut. Tunduk. Yang tidak nurut atau lalai meloloskan kritik pada pemerintah, langsung dibrendel. Ditutup. Bisa juga kantornya diteror dan dihancurkan. Tidak hanya media, orang biasa pun tak boleh berkomentar negatif. Kalau memaksa, besoknya hilang ditelan bumi. Bisa juga ditembak mati atau diculik dan disiksa. Namun sekarang era Jokowi, semua berbalik. Presiden bebas dicaci maki. Presiden juga tidak pernah mempersoalkan atau melaporkan para pihak yang mencaci dan memfitnahnya. Ada beberapa orang pembenci Jokowi masuk penjara. Umumnya punya kasus lain. Seperti halnya Habib Bahar yang punya kasus menganiaya santri. Jonru yang divonis karena kasus SARA. Dhani ditangkap karena bermasalah dengan Banser, ujaran kebencian. Sekalipun semua kerap menghina Jokowi, tapi masuk penjaranya karena kasus lain. Sama seperti Rizieq yang sepanjang tahun menyebarkan provokasi dan ujaran kebencian. Tapi kabur ke Arab hanya gara – gara selangkangannya Firza.

BACA JUGA: Kuliah Ikatan Kedinasan Poltekip Poltekim Kemenkumham Sudah Dibuka, Ayo Daftar!

Foto : Rating Bukalapak

Selain itu, memasuki periode kedua Jokowi, media jadi lebih ugal – ugalan menyerang pemerintah. Dari mulai clickbait, framing, bahkan hoax. Media mainstream, notabene netral, kini terjebak politik praktis menyerang pemerintah. Namun Jokowi tetap tenang atas semua pemberitaan click bait, framing dan hoax yang dilakukan oleh media kredibel. Yang selama ini kerap jadi hakim di media sosial, merasa benar sendiri dan netizen selalu salah. Sampai kini, tidak sekecap pun Jokowi menegur, mengeluhkan atau sekedar menyindir media di Indonesia. Padahal yang dilakukan oleh para wartawan sudah melampaui batas. Terang – terangan menyebar hoax hanya agar bisa menyerang Jokowi. Tapi meski Jokowi diam saja, masyarakat tak mau tinggal diam. Contoh Detikcom, ratingnya semula 4 koma sekian, lalu sudah turun menjadi 2 koma. Kolom komentar pun penuh dengan hujatan dan kekecewaan terhadap detikcom.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Rating Tempo

Sebelumnya, pernah juga Tempo dibuat ambles ratingnya gegara memuat konten provokasi terhadap Jokowi. Tidak etis, berlebihan. Bukan hanya media, Bukalapak juga sempat dibuat merosot ratingnya gara – gara Zaky sang founder menyerang Jokowi dengan data salah. Zaky sampai menghadap Presiden dan meminta tolong agar serangan pada Bukalapak bisa dihentikan. Lantaran bukan ratingnya saja yang turun. Akan tetapi transaksinya juga anjlok, terjun bebas. Kala itu, Jokowi merendahkan hati. Tak ingin Bukalapak tumbang. Jokowi meminta agar masyarakat berhenti membully. Berhenti menyerang Bukalapak. Memang apapun yang terjadi, Bukalapak adalah perusahaan dalam negeri yang harus didukung.

BACA JUGA: Jokowi Melawan Arus Demi Indonesia Maju, Siapapun Berulah Bakal Digigit

Foto : Masyarakat Cinta Jokowi

Nasi sudah jadi bubur. Meski Zaky sudah minta maaf, tetap saja rating dan bisnis Bukalapak terus anjlok. Caci maki dan kekecewaan masyarakat tidak terbendung. Tidak sedikit masyarakat serentak mengkampanyekan uninstall dan memberi rating kecil. Masyarakat menilai rating kecil adalah harga kekecewaan yang harus dibayar kontan. Betapa masyarakat sangat mencintai Jokowi yang sekarang. Masyarakat mudah sekali tersinggung. Terutama Jokowi dijadikan target framing atau hoax. Kekecewaan bisa terjadi begitu saja, tanpa komando dan bahkan tak bisa dihentikan oleh siapapun. Bahkan meski Jokowi sendiri sudah memaafkan secara terbuka. Jokowi, bukan ketum partai atau anak tokoh maupun elite. Bukan dari kalangan militer. Tapi semua menjadi saksi. Betapa Jokowi sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh rakyat Indonesia. Siapapun yang berani menyenggolnya, akan mendapat respon yang setimpal. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Salah Kaprah, Ulah Anies Bukan Jokowi, Potong TKD ASN, PSI Sumbangkan Gaji

 

 

8 KOMENTAR

Comments are closed.