Yoris Sebastian : Thinking Out of The Box, Execute Inside of The Box

3
56
Foto : Yoris Sebastian bersama istri dan anak

Jakarta, NAWACITAPOST – Industri kreatif menghadirkan banyak figur yang bisa dijadikan contoh. Dari sekian banyak, salah satunya adalah Yoris Sebastian. Yoris panggilan akrab pria kelahiran 5 Agustus 1972. Memiliki pandangan dan prinsip dalam hidup. Yang menakjubkan adalah ungkapan Thinking Out of The Box, Execute Inside of The Box. Maksudnya berpikir dan menetapkan sebuah kesimpulan. Yakni dengan cara yang tidak biasa. Sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya. Lazimnya, masa anak – anak dihabiskan dengan bermain. Namun berbeda apa yang ada di benak seorang bocah Yoris. Anak ketiga dari empat bersaudara. Sedari kecil sudah memikirkan cara menjadi seorang entrepreneurship. Padahal, kedua orang tuanya ingin Yoris menjadi karyawan di sebuah perusahaan.

Diceritakan lebih lanjut, sang ayah pernah mencoba menjadi entrepreneur. Tepatnya memulai dengan bisnis kayu. Namun perusahaan tutup. Lalu, mencoba bekerja di perusahaan besar. Kompetitor dengan bisnis yang sama yaitu kayu. Sungguh dengan keteguhan hati, dirinya mencoba berbagai hal. Meskipun latar belakang keluarganya bukan dari latar belakang entrepreneur. Namun Yoris sangat berambisi. Keinginannya bakal terwujud suatu saat nanti. Yoris mengawali karir sebagai seorang jurnalis lepas di salah satu majalah ternama, Hai. Yoris sangat suka membaca majalah Hai yang digandrungi remaja kala itu. Dirinya kemudian mencoba untuk melaksanakan ide jurnalistiknya. Hard Rock Café dipilihnya sebagai bahan coretan jurnalistik.

BACA JUGA: Langkah Tepat Menkumham, Napi Asimilasi Karantina Mandiri

Yoris tak sekadar nongkrong tapi mencoba menyerap sebanyak mungkin. Menyerap inspirasi dari yang dilihat dan dirasakan. Sehingga tak pelak Yoris diberikan tawaran yang cukup menyenangkan. Tak ayal, Yoris pun kemudian direkrut oleh perusahaan multinasional, Hard Rock Café. Yoris dapat mengaplikasikan buah pikirannya. Cemerlang dalam meniti karirnya pun mulai terasa sejak bekerja di Hard Rock Café. Banyak ide kreatif dituangkan. Yoris pun merasakan menduduki posisi sebagai Asisten Advertising dan Promotion Manager.

Foto : Yoris Sebastian

Yoris mengawali ide kreatifnya dengan gebrakan acara I Like Monday yang memang telah mengkooptasi secara miring pikiran publik. Sebuah hari yang membosankan bagi sebagian besar orang. Memulai rutinitas apapun usai menikmati akhir pekan. Namun Yoris merasakan sebaliknya. Monday sungguh sangat mengagumkan baginya. Oleh karenanya, kemudian Yoris menggulirkan ide kreatif dan konsep program. Menghadirkan para musisi lokal di tempatnya bekerja. Tentu tidak gampang. Konsepnya sempat mengalami penolakan. Dianggap melawan trend Hard Rock yang selalu menampilkan band luar negeri. Namun, konsep sudah dipikirkan secara matang oleh Yoris dengan penuh keberanian. Terbuktilah dengan Yoris berhasil meraih penghargaan Indonesia Young Marketer Award 2003.

Enam tahun bekerja, Yoris mampu mengundang artis dalam dan luar negeri. Diangkatlah Yoris menjadi General Manager. Hard Rock Café menyabet banyak award di bawah kepemimpinannya. Gelar GM Termuda juga didapatkan ketika Yoris mengikuti kompetisi. Kompetisi yang mampu membawanya sebagai pemenang International Young Music Entrepreneur of The Year Award (IYMEY) di usia 26 tahun. Tak puas dengan keberhasilan yang diraihnya, Yoris selanjutnya mulai memikirkan ide baru. Membuat konsep program TV bernama Destination Nowhere. Sebuah acara travel tanpa tahu tujuan. Ternyata, diluar ekspektasi, mendapat rekor MURI. Bahkan ide – ide kreatif Yoris tiba – tiba mengalir dengan sendirinya. Hingga mengajak salah satu musisi untuk benyanyi di dalam pesawat dengan ketinggian 30 ribu kaki.

Foto : Yoris Sebastian

Yoris yang super kreatif dengan ide dan gagasan memang sudah pernah duduk di posisi Direktur Utama. Yaitu di beberapa perusahaan seperti MRA Group menjadi artist management, event organizer dan sebagainya.Yoris pun pernah membuat café dan bar di mall sebagai biro. Pernah pula bekerja di Kompas Gramedia selama 4 tahun. Namun, dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat yang membesarkan karirnya. Meskipun sudah berada di luar, Yoris tetap hangat dalam pertemanan. Tetap menjalin komunikasi dengan sang owner café.

Yoris berkeinginan kuat membuat perusahaan sendiri. Sehingga tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun. Bisa membagikan berkat atau manfaat ke banyak orang sesuka hatinya.Sayang dengan almamaternya, Yoris tidak memutuskan untuk mendirikan café. Tidak membuat radio untuk bersaing pula. Ya walaupun Yoris telah memiliki bekal knowledgenya. Akhirnya Yoris memutuskan membuat creative consulting firm yaitu OMG atau Oh My Godness. Klien pertama usaha kreatifnya adalah Plaza Indonesia. Merupakan tempat Hard Rock Café terakhir berdiri dengan modal zero. Hanya mengandalkan nama dan reputasi.

Foto : Yoris Sebastian bersama rekan

Kata creative menjadi benang merah Yoris selama 18 tahun bekerja. Meyakini pendiriannya, Yoris mengikuti kompetisi di Inggris. Yaitu International Young Creative Entrepreneur Award tahun 2006. Dalam kompetisinya, Yoris berhadapan dengan Ridwan Kamil yang kini menjadi gubernur Jawa Barat. Berhasil masuk final sebagai dua putra pertama Indonesia. Kompetisi sesungguhnya sudah diselenggarakan sejak 2005. Namun Indonesia baru masuk final di tahun 2006. Yoris lebih mengedepankan musik. Sedangkan Ridwan Kamil lebih mengedepankan design. Yoris dalam kompetisi super ketat, berhasil menggondol kemenangan. Mengantarkan kepopuleran dirinya yang semakin luas.

Masyarakat Asia Pasifik, bukan saja di Indonesia, mengenal Yoris. Tak lain sebagai General Manager (GM) Termuda di usia 26 tahun. Yoris tercatat sebagai GM termuda kedua setelah GM termuda 25 tahun dari Amerika. Usianya yang muda tidak ingin disepelekan. Yoris pun mengubah penampilan untuk terlihat lebih tua. Yoris juga disibukkan dengan menulis. Yang mana kemudian dicetak menjadi sebuah buku. Yoris hampir tidak pernah menulis kisah zero to hero tapi middle to hero. Dalam hal ini, dirinya memiliki alasan tersendiri.

Foto : Yoris Sebastian mendapatkan kejutan kue

Yoris memang terlahir dari keluarga berkecukupan tapi bukan yang kaya. Bisa dibilang kalangan menengah. Bahkan Yoris sering tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Contohnya makanan junk food pringles. Dulu Yoris makan pringles hanya di waktu natal. Namun, menjadi pesan kepada anaknya kini bisa makan pringles kapanpun. Kepada Ayu Yulia Yang, jurnalis Nawacitapost di salah satu restoran di Jakarta Pusat diceritakan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Yoris juga sempat diberikan opsi untuk jenjang pendidikannya. Apabila Yoris dulu tidak diterima di jurusan Komunikasi Massa, sebuah jurusan yang hanya ada di universitas ternama Universitas Indonesia (UI). MakaYoris ingin menempuh jenjang pendidikannya ke San Diego, sebuah tempat yang bukan merupakan kota gaul. Statement yang didapat dari kedua orang tuanya yang memang dananya cukup untuk salah satu opsi. Apabila Yoris memaksakan diri untuk menempuh jenjang pendidikan ke Amerika. Ya mau tak mau sang adik tidak akan bisa menempuh jenjang pendidikan tinggi. Kemudian Yoris berdiskusi dengan adiknya yang setahun lebih muda. Yoris mengalah demi sang adik yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan tinggi hingga menjadi seorang sarjana.

Foto : Yoris Sebastian bersama OMG

Yoris hanyalah seorang mahasiswa Universitas Atmajaya jurusan Akuntansi. Bahkan lebih parahnya berstatus DO atau Drop Out pada semester 5. Awalnya, Yoris hanya melakukan cuti karena over load pekerjaan. Memang sebenarnya Akuntasi disukainya setelah Komunikasi Massa. Yoris pun pernah ditunjuk menjadi bendahara OSIS saat masih di bangku sekolah. Walaupun memang nilai studi Matematika tidak bagus. Namun jangan ditanya soal nilai Akuntansinya.

BACA JUGA: Lee Joon Gi Lepas Perguruan Tinggi, Jadi Duta Takhlukan Industri Hiburan

Ceritanya berlanjut. Yoris pun menyempatkan diri mengajar anak – anak muda untuk senantiasa menempuh jenjang pendidikan. Mengejar ilmu bukan sertifikatnya. Bukan asal ucap memang. Yoris selalu mendapatkan nilai A pada setiap ujian yang dilaksanakan di kampusnya. Sayang sungguh sayang. Kesibukan pekerjaan menghantarkannya mendapatkan nilai menjadi H alias Hutang. Yoris pun sempat mempermasalahkan dan berdebat dengan dosen. Menempuh jenjang pendidikan tinggi untuk pintar atau untuk absen. Nilai ujian Yoris A dan sistem belajar dikebut semalam. Namun lain yang didapatkan pada hasil akhir. Tidak bisa lulus karena jarang absen.

BACA JUGA: Siapapun Berhak Berkarya, Sekalipun Mantan Napi Asimilasi

Waktu berlalu, Yoris sudah meraih kesuksesan. Yoris kembali ke Universitas Atmajaya dan menjadi pembicara. Lalu sang dosen menjelaskan kepada Yoris. Mengulang statement Yoris yang pernah dilontarkan. Mengherankan, ada dibentuk peraturan baru disana. Diperuntukkan untuk para mahasiswa atau mahasiswi yang absennya lebih dari 20 persen tidak masuk. Ya tidak boleh mengikuti ujian.

Foto : Yoris Sebastian

Yoris pun sempat menempuh jenjang pendidikan tinggi di Universitas Terbuka (UT) jurusan Akuntansi. Tapi lagi – lagi terhenti. Walaupun Yoris sangat suka pendidikan dan belajar. Yoris harus membuat skala prioritas dalam setiap kesempatan emas hidupnya. Meskipun harus menelan pahit dalam pekerjaannya dalam hal upah. Ya upah atau gajinya sekitar 550 ribu rupiah. Akan tetapi, Yoris tidak pernah merengek minta lagi tambahan dari kedua orang tuanya. Lebih mengesankan, Yoris sedari kecil saat masih sekolah dulu dididik. Menjadi juru antar dokumen rahasia milik sang ayah di Singapura. Pernah pula merasakan menjadi karyawan KFC. Sampai akhirnya menjadi seorang pengusaha kreatif. Yoris tetap hidup sederhana dan berusaha irit dalam keuangan. (Ayu Yulia Yang)

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here