Bintang Dede Yusuf, dari Kere Broken Home Jadi Legislatif

0
209
Foto : Dede Yusuf

Jakarta, NAWACITAPOST – Sebenarnya fase pahit bisa saja dirasakan siapapun. Termasuk juga artis kawakan Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.Si. atau dikenal Dede Yusuf. Namun memang dirinya entah mengganggap merupakan fase pahit dalam hidupnya atau tidak. Seringkali memang Dede Yusuf ditanya oleh anak – anak muda. Sepertinya enak hidupnya, bisa begini begitu. Ya sekarang. Tapi perjuangan dulu tidak tahu. Berasal dari keluarga yang broken home. Tinggal tidak menetap. Sebelum berangkat ke sekolah dari rumah ayah. Pulang sekolah pergi ke rumah ibu. Malam kembali lagi ke rumah ayah. Nanti hari Sabtu dan Minggu tinggal bersama nenek. Memang kedua orang tua bekerja sebagai artis. Tidak menetap berada di Jakarta. Praktis besar di jalan. Banyak pindah – pindah. Bahkan, sempat dititipkan ke rumah tante atau adik dari ayahnya saat rumah kebanjiran. Kondisi membuat minder. Merasa seperti tidak lengkap dalam keluarga dibanding teman – teman. Pahit melihat yang lain kumpul bersama keluarga.

BACA JUGA: Yasonna Maklum Tak Disukai, Utamakan Prinsip Kebaikan Bangsa dan Negara

Foto : Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dan Dede Yusuf

Kondisi keluarga tidak berkecukupan pun pernah singgah didalam hidupnya. Ayah di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari pekerjaannya. Hidup seadanya. Makan kadang hanya beras nasi dengan emping. Saking memang tidak ada lauk. Kalau ada telur, digoreng dan dibagi untuk delapan bagian didalam rumah. Kalau ada makanan sisa baru dimakan sama ayah. Kemudian hanya ditaburi kecap. Saat sekolah, naik sepeda. Pakai kendaraan umum, uang tidak cukup. Naik sepeda dari Tomang ke Kebayoran setiap hari. Secara fisik, sudah kuat karena genjot terus dari SD sampai SMP. Pernah pula jadi penjual dan rental komik. Tidak punya uang jajan. Sesama teman yang hobi baca komik, tukar – tukaran. Jadi terus kelamaan menyewakan komik ke teman – teman lain. Ditaruh didalam tas. Malah terus bikin komik sendiri untuk majalah dinding (mading) dan sebagainya. Ada bakat baru. Jadi komikus dan pedagang komik.

BACA JUGA: Makan Siang dan Arahan Menkumham Yasonna Laoly kepada Manajemen Nawacitapost

Foto : Dede Yusuf

Setelah jadi artis atau selebriti, debut pertama popular tentunya adalah Catatan Si Boy. Dibuat tahun 1985. Rilisnya pada 1986. Meledak dengan berbagai bintang mudanya. Kemudian dibuat seri kedua. Ada beberapa bintang pemain seperti alm. Didi Petet, Mariam Belina dan Ongki Alexander. Honornya naik hingga 10 kali lipat. Namun dirinya hanya naik 20 persen dari honor pertama yang didapatkannya. Honor pertamanya Rp 750 ribu. Kemudian menjadi Rp 1 juta. Seri kedua melejit pula. Lalu saat diperpanjang ke seri ketiga. Dirinya menuntut untuk kenaikan. Dikarenakan kawan – kawannya naik sudah 50 kali lipat. Coba dibayangkan. Sementara dirinya hanya naik menjadi Rp 4 juta. Lainnya naik bisa mencapai Rp 10 hingga Rp 50 juta. Dilematis dirasakannya. Minta naik setidaknya setengah dari kawan – kawannya yang lain.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Dede Yusuf

Produser bilang. Tidak bisa bikin dirinya naik. Karena dirinya bukan tampang Indo. Sekarang dibutuhkan tampang yang Indo. Perih banget terasa. Dianggap tidak layak dijual. Tidak laku juga bisa dikata. Diputuskan tidak ikut pada seri ketiga. Dijadikan sebagai cambuk kekecewaaan. Lantas mencari peluang lain pada film yang lain. Membuktikan bahwa pendapat produser telah salah. Bukan muka Indo dan tak bisa dijual. Bertemulah beberapa sutradara yang mengatakan untuk jangan takut. Artis atau selebriti diatasnya seperti Roy Marten dan Robi Sugara memang wajahnya Indo. Tapi, ada Rano Karno yang wajahnya tidak Indo. Malah hitam. Tapi bisa jadi bintang. Berarti dirinya juga tentu bisa jadi bintang. Lalu diyakinkannya dan jadilah dirinya bintang. Honornya mengalahkan yang lain juga. Bahkan mencoba peruntungan jangka panjang didalam legislatif. Kini menjadi Wakil Ketua Komisi X DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia). Walaupun dulunya tak luput pernah merasakan hidup kere. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Lobby Tingkat Tinggi Yasonna, Sukses Pemerintah Jokowi