Yasonna Maklum Tak Disukai, Utamakan Prinsip Kebaikan Bangsa dan Negara

0
1068
Foto : Menkumham Yasonna dengan Manajemen Nawacitapost (Faigiziduhu Ndruru sebagai Komisaris, Otoli Zebua sebagai Direktur Utama dan Beesokhi Ndruru sebagai Direktur)

Jakarta, NAWACITAPOST – Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly atau Yasonna pernah diancam atas kontroversi keputusan dan kebijakannya. Seperti Tanjung Priuk dan partai politik (parpol). Ya tidak sampai ku bunuh kau begitu. Tapi, ada saja kata – kata cukup panas. Seorang menteri yang menyukai penampilan koboi namun tidak koboi dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Bahwasanya segala keputusan dan kebijakannya juga tentunya sudah dikoordinasikan dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama jajaran pemerintah lainnya. Tidak sembarangan saja. Tidak mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan tertentu saja. Semua tetap memegang teguh utamakan prinsip kebaikan bangsa dan negara. Menandakan keteguhan prinsipnya merupakan bentuk ketegasan. Ketagasan kadang disalahartikan. Bahkan menimbulkan hasil survei reshuffle yang mencengangkan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Menko PMK Muhadjir Effendy (tengah), didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (paling kiri), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kedua dari kanan), Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (paling kanan), dan BNPB

Direktur Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan. Sebanyak 64,1 persen masyarakat menilai Menkumham Yasonna Laoly paling layak untuk direshuffle oleh Presiden Jokowi. Demikian berdasarkan hasil survei lembaganya yang dilakukan pada 8 hingga 25 Juni 2020. Setelah Yasonna, menteri yang dinilai layak untuk direshuffle adalah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Prosentase cukup tinggi dengan 52,4 persen. Kemudian di posisi ketiga ada Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah 47,5 persen. Disusul Menteri Agama Facrul Razi 40,3 persen. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo 36,1 persen, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan 33,2 persen. Lalu, Menteri Sosial Juliari Batubara 30,6 persen, Menteri Koperasi dan UMKM 28,1 persen, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainuddin Amali 24,7 persen. Menteri BUMN Erick Tohir 18,4 persen, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Nadiem Makarim 13,0 persen. Survei dilakukan dengan melibatkan 1.350 responden di 30 provinsi. Yakni dengan metode penelitian wellbeing purposive sampling atau wawancara online atau melalui sambung telepon. Tingkat kepercayaan hasil survei sebesar 97 persen. Margin error atau tingkat kesalahannya dalam survei sebesar 3,54 persen.

BACA JUGA: Kasus Korupsi Masa Idealisman Dachi Perlu Dituntaskan Sebelum Pilkada

Foto : Menkumham Yasonna Laoly

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyampaikan ancaman reshuffle kabinet di hadapan para menterinya. Tepatnya saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada 18 Juni 2020. Ancaman reshuffle bisa jadi karena adanya ketidaksepahaman didalam lingkungan kementerian satu sama lain. Terbukti dengan Presiden Jokowi menilai belum adanya kinerja luar biasa. Terutama saat menghadapi krisis pandemi Covid 19. Menkumham Yasonna mengakui terkadang di lingkungan kementerian ada rasa subjektivitas dan ego sektoral. Namun, Presiden Jokowi selalu mengingatkan. Semua kebijakan dan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan bangsa dan negara. Tidak mendahulukan ego sektoral. Menjadi Menkumham memang sering menemui gelombang besar juga. Namun tetap harus berpikiran lurus. Tetap tergantung niat baiknya yang harus dijalankan. Walaupun pasti tidak semua menghendaki. Dianggap saja sebagai bunga – bunga yang mewarnai. Walaupun memang akan menghadirkan kritik – kritik tajam. Tapi menanggapinya ya tinggal menjelaskan saja. Menepis semua pro kontra yang ada. Demikian dijelaskan oleh Menkumham Yasonna pada Nawacitapost di kantor Menkumham pada 3 Juli 2020. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Duo Dachi Tantang Incumbent Hilarius Duha, Idealisman Bakal Terjungkal