Pemerintah Daerah Gagal, Narkoba Merajalela di Kepulauan Nias

0
752
Foto : Menkumham Yasonna, Ketua STT Jaffray Jakarta Pdt. Dr. Nasokhili Giawa, M.Th., CPLC dan Ketua Umum FORNISEL Brigjen Pol. Bahagia Dachi

Jakarta, NAWACITAPOST – Pemerintah Daerah gagal, kasus narkoba di Kepulauan Nias merajalela. Terungkap dalam pernyataan dari Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II B Gunungsitoli, Sumatera Utara Soetopo Berutu pada (18/01/2021). Bahwa hingga Januari 2021 adalah salah satunya terpidana kasus narkoba 27 persen. Padahal diketahui bahwa Pemerintah Daerah semestinya berperan aktif. Sebab ada Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Yang mana perlu dilakukan dengan berfokus pada kegiatan pencegahan sebagai upaya menjadikan para tenaga kerja. Tak lain memiliki pola pikir, sikap dan terampil menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Foto : Kalapas Gunungsitoli Soetopo Berutu

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly pun pernah mengatakan pada (25/02/2020). Banyaknya narapidana narkoba mengakibatkan isi rata – rata Lapas mendekati 50 persen kasus narkoba. “Di Medan 75 persen narkoba, di kota-kota (lain) ada yang 70 persen, 60 persen narkoba. Ada risiko moral (moral hazard) yang terjadi dengan bergabungnya para pemakai narkoba dan kurir itu di dalam Lapas. Karena bisa berimplikasi pula pada petugas Lapas. Yang paling memprihatinkan itu seperti yang terjadi di Kabanjahe. Baru masuk 2017, belum tiga tahun sudah tergoda akhirnya dipecat. Kemarin saya berjumpa dengan dia, dan saya mendapat informasi bahwa orang tuanya minta maaf. Tapi saya bilang tidak bisa,” tuturnya.

Foto : Menkumham Yasonna Laoly

Sependapat dengan Menkumham, salah satu tokoh masyarakat Pulau Nias, Brigjen. Pol. Drs. Bahagia Dachi, S.H., M.H. pun angkat suara pada (01/02/2021). Diketahui, dia merupakan seorang yang pernah bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang. Yang mana sekarang dia dipercaya sebagai analis kebijakan bidang narkotika Bareskrim Polri. Dia juga merupakan Ketua Umum Forum Nias Selatan (FORNISEL). Dia berpendapat bahwa program P4GN perlu tegak dan kokoh dalam realisasinya.

BACA JUGA: Gawat! Warga Nias Ternyata Banyak Jadi Pengguna Narkoba

“Saya kira, bukan hanya banyaknya masyarakat yang mencegah ya, tapi juga aparat hukum harus ikut mencegah. Jangan malah aparat hukum ikut – ikut dalam transaksi narkoba. Karena memang narkoba itu nilai harga jualnya tinggi banget,” imbuh Bahagia Dachi. Sehingga menurutnya, apabila menangkap pengedarnya supaya diproses juga perkara tindak pidana pencucian uangnya. “PR jaringan narkoba itu harus dimiskinkan. Alasan mereka melakukan bisnis narkoba untuk mendapatkan keuntungan yang banyak. Maka dilawan dengan memiskinkan pelaku melalui penindakan tindak pidana pencucian uang,” terang Bahagia Dachi.

Foto : Ketua Umum FORNISEL Brigjen Pol Bahagia Dachi

Bahagia Dachi pun mengungkapkan lebih lanjut bahwa Pemerintah Daerah memang harus berperan aktif dalam bersinergi memecahkan masalah narkoba yang merajalela. “Saya merasakan bahwa sinergitas Pemda, BNN dan Kepolisian lemah. Seharusnya bisa lebih aktif. Jangan hanya menyalahkan BNN dan Kepolisian. Coba deh dikaji lagi ada Keppres yang sudah mengatur siapa saja yang semestinya terlibat dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba. Kemudian juga di Nias kan mayoritas Kristen, ya para pendeta bisa menyampaikan ke jemaat tentang bahaya narkoba. Kemudian menjelaskan bahwa narkoba itu kalau digunakan termasuk dosa dan merusak hidup kita. Tentu dibantu peran Kepolisian dan BNN bersama stakeholder lain,” lanjutnya.

BACA JUGA: Prudential Kalah di Pengadilan

“Ini semua kan buat masa depan ya. Pengedar dan bandar harus ditangkap dan diproses hukum. Saya sependapat dengan Pak Yasonna selaku Pak Menteri Hukum dan HAM bahwa pengguna itu direhabilitasi.  Terus untuk oknum aparat yang terlibat dalam transaksi narkoba itu diberantas. Lalu Kepala Lapas juga harus melakukan periksa rutin menyeluruh. Harus juga cerewet. Sebab perlu tahu bahwa narkoba ini justru banyak dimanfaatkan sebagai bisnis untuk menghasilkan uang yang cukup tinggi,” papar Bahagia Dachi.

Foto : Mantan Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang BNN

“Sementara seperti contoh di Nias kan masih banyak orang yang punya standar kehidupan rendah banget.  Kita sama – sama ajak teman, saudara, rekan kerja dan sebagainya untuk bilang jangan beli narkoba. Nanti kan lama – lama busuk itu barang. Narkoba itu harganya menggiurkan kalau dijual. Kalau pengguna dimasukkan ke dalam sel penjara, tentu justru nanti malah didalam cenderung meningkat. Sebab biasanya manusia mempunyai sifat ingin naik kelas. Sekarang hanya jadi pengguna, terus kalau bisa besok bisa jadi pengedar,” kata Bahagia Dachi.

BACA JUGA: Tokoh Agama : Duga Oknum TNI – Polri Terlibat Jaringan Narkoba di Kepulauan Nias

“Kemudian ingin meningkat lagi menjadi bandar. Sehingga kita harus bersama – sama mencegah. Terutama ini ya Kepala Daerah bisa memberikan upaya sosialisasi dan penyuluhan. Kemudian juga melakukan tes urine untuk setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS). Terbukti positif narkoba, maka tindak tegas, misal pecat. Kemudian saya berharap kepada Pak Yasonna Menteri Hukum dan HAM. Supaya nantinya banyak dibangun tempat rehabilitasi. Sebab memang Nias termasuk salah satu daerah yang memprihatinkan kondisinya,” tukas Bahagia Dachi.

Foto : Tokoh masyarakat Pulau Nias Brigjen Pol. Bahagia Dachi

Senada dengan Bahagia Dachi, Pdt. Dr. Nasokhili Giawa, M.Th., CPLC yaitu Ketua STT Jaffray Jakarta mengatakan bahwa ada grand desain yang perlu diwaspadai. “Kita perlu mewaspadai grand desain penghancur generasi apalagi Indonesia sedang penuaian generasi (bonus demografi). Sebagaimana diketahui bahwa narkoba adalah alat pembunuh yang luar biasa halus. Jadi, bisa saja ada hidden agenda yang mengharapkan kepulauan Nias tetap menjadi daerah miskin. Kalau ditanya siapa yang salah, semua pihak memiliki potensi untuk salah. Pemerintah (bidang – bidang terkait) salah karena kurang pengawasan, penegakkan hukum yang lemah, dan bisa juga karena peluang kerja sangat minim. Dari pihak keluarga bisa karena kondisi ekonomi yang merosot, mental-spiritual keluarga sangat merosot,” ungkapnya.

BACA JUGA: Napas Karir Dunia Internasional, Jenderal Garang Manado Petrus Golose Pimpin BNN

“Penghayatan imannya sangat dangkal, mental spiritual dan budaya instan juga turut mempengaruhi. Pendekatan pelayanan gereja sangat bersifat tradisional. Terlalu bersifat mimbaris tanpa dekat dengan jemaat. Perhatian pemerhati spiritual sangat minim. Setahu saya, belum ada gerakan dan gebrakan yang signifikan. Belum ada pernyataan – pernyataan sikap dan kolaborasi nyata antara pemimpin gereja dengan penegak hukum dan sebagainya. Saya mengamati dimana – mana bahwa khotbah – khotbah para pelayan atau pendeta dan sebagainya terlalu teoretis. Selain itu, konten khotbah juga terlalu futuris. Bahkan cenderung eskatologi atau surgawi. Padahal, kita sedang di alam nyata dan konteks manusiawi. Ada kecenderungan dilakukan secara parsial dan sporadis di tingkat gereja lokal. Sehingga tidak menjadi kekuatan besar,” lanjut Nasokhili.

Foto : Ketua STT Jaffray Jakarta Pdt. Dr. Nasokhili Giawa, M.Th., CPLC

Nasokhili Giawa menambahkan bahwa perlu gerakan dan gebrakan yang besar sebagai upaya meminimalkan, mempersempit dan bahkan memutus mata rantai pengedarannya. Sebab semua ada potensi bersalah seperti yang saya jelaskan pada poin pertama diatas. Barangkali tidak perlu mencari siapa yang salah. Tetapi semua pihak perlu duduk bersama untuk memikirkan bagaimana cara dan solusi yang tepat. Perlu kajian menyeluruh. Sehingga dapat mengantisipasi kondisi yang sudah sangat mengkuatirkan tersebut.

BACA JUGA: Menkumham Yasonna dan Sahabat Gowes, Bangkitkan Perputaran Ekonomi UKM

“Perlu ada kerja sama yang konkrit antara pemerintah, penegak hukum dan pimpinan – pimpinan gereja, atau pimpinan – pimpinan agama di Nias. Perlu pelyanan yang konkrit untuk menyentuh kebutuhan riil. Perlu memastikan peran hamba – hamba Tuhan untuk mengupayakan pendekatan yang relevan terhadap generasi muda. Berani keluar dari tradisi yang terkesan iman suam – suam kuku. Peran orang tua sebagai tonggak utama sangat diperlukan untuk pembentukan mental spiritual. Semua mesti berperan aktif termasuk BNN yang paham tentang dunia narkoba, Pemda, Gereja, Ormas dan tentu keluarga masing – masing sebagai benteng pertahanan utama,” tukas Nasokhili Giawa. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Yeobo, Panggilan Sayang Puput untuk Ahok, Korban Drama Korea