Pendukung Idealisman Dachi Diduga Sengaja Sebar Hoax

0
301
Foto : Idealisman Dachi dan Sozanolo Ndruru beserta pendukungnya

Jakarta, NAWACITAPOST – Belakangan muncul hoax yang diduga sengaja disebar oleh pendukung Idealisman Dachi. Yakni program 3 in 1 yang mana Pemerintah Daerah (Pemda) Nias Selatan (Nisel) dengan  satu perusahaan di Kota Semarang. Diketahui sebelumnya, Bupati Nias Selatan Dr. Hilarius Duha, SH.,MH., memberangkatkan 100 calon mahasiswa program 3 in 1 (Pelatihan, Kerja dan Kuliah). Mereka dilepas dalam sebuah upacara di Dermaga Baru Teluk Dalam, pada (22/10/2019).

Foto : Hilarius Duha dan Firman Giawa

Menurut Kepala Dinas TKKUKM, Aferili Harita,SE.,M.A., rombongan calon mahasiswa akan berlayar dari Teluk Dalam menuju Sibolga. Setelah itu, mereka ke Semarang lewat jalur darat. Setelah tiba di Semarang, mereka akan mengikuti pelatihan di Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) Kartika Bawen Semarang. Program merupakan kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah.

Foto : Program 3 in 1

Rencananya, setelah mendapat pelatihan selama 1 bulan para peserta mendapat kesempatan bekerja di beberapa perusahaan.  Diantaranya PT. Sumber Bintang Rezeki, PT. Star Fashion Ungaran, PT. Hop Luk, PT. TI Matswoka Winer, dan PT. Sahabat Unggul. Kelima perusahaan tersebut sudah memiliki hubungan kerjasama dengan Pemkab Nisel.

BACA JUGA: Cikeas, Dalang Provokator Demo Buruh Tumbangkan Jokowi?

Namun rupanya ada pelintiran hoax yang disebarkan. Banyak kata dimainkan. Akan tetapi mahasiswa mahasiswi yang benar merasakan 3 in 1 menepisnya. Bahkan mengunggah video ke akun youtube. Mahasiswa mahasiswinya bernama F. Zaluhu dan E. Ndruru. Keduanya mengatakan bahwa tidak benar adanya berita program 3 in 1 tidak berjalan lancar.

BACA JUGA: Diduga Pendemo Omnibus Law Dibayar, Cikeas Cendana Terlibat?

Keduanya pun menambahkan bahwa bekerja sambil kuliah atau kuliah sambil bekerja dilaksanakan dengan lancar. Meskipun memang sedang mengalami pandemi Covid 19. Bahkan keduanya mendapatkan gaji setara UMR yang mana keduanya ditempatkan bekerja di kota Semarang.

BACA JUGA: AHY Tolak Omnibus Law Sebelum Baca, Kader Lari ke Megawati?

“Puji Tuhan kami sangat menikmati, bahkan kami menerima gaji. Teman – teman yang membuat berita hoax untuk berhenti menyebarluaskan. Termasuk netizen yang selalu nyinyir. Gaji kami UMR Semarang Rp 2.250.000. Kami cuma 5 hari kerja. Ada hitungan lembur juga. Jam kerja cuma 8 jam saja. Masih aman – aman saja,” jelas keduanya.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) banyak beredar hoax. Mahasiswa mahasiswi program 3 in 1 terlantar dan disuruh kerja tanpa upah bahkan kampusnya tidak jelas. Nyatanya mereka sampaikan kuliah berlangsung baik meskipun dalam kondisi pandemic. Kuliah diselenggarakan dengan daring. Perihal gaji yang hanya Rp 2.250.000 itu bukan karena dibayar sebagian tapi memang sesuai UMR di wilayah Semarang. Waktu bekerja mereka tetap standar nasional yakni 8 jam sehari dan 5 hari dalam seminggu. Jika dibutuhkan menambah waktu maka dihitung lembur dan dibayar seperti perhitungan lembur biasanya.

Foto : Sukadamai Ndruru

Lain halnya kuliah gratis seperti di zaman mantan bupati Idealisman Dachi. Tapi justru banyak menimbulkan masalah dan korban. Salah satu korbannya adalah Sukadamai Ndruru yang kini jadi advokat dan pengacara. Dirinya mendapat kabar dari rektor kampus di Medan. Bahwasanya belum dibayarkan dari anggaran pemda. Tepatnya usai menjalani pendidikan perkuliahan selama dua tahun. Mahasiswa belum dapat identitas kampus. Belum terbit Nomor Induk Mahasiswa (NIM).

BACA JUGA: Istana Rakyat Era Idealisman Dachi Senasib Hambalang Era SBY

Pemda melalui kepala Dinas pendidikan Dra. Mardaglena Bago, MM, MBA berusaha memindahkan sejumlah mahasiswa belajar di USBM Medan. Namun memang mahasiswa bukan menemukan solusi. Malah mahasiswa yang dipindahkan terlantar terancam tidak makan. Lantaran demikian, ratusan mahasiswa USBM turun ke jalan melakukan demo. Menanyakan status nasib kepada Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi. Meminta pertanggungjawaban atas programnya. Merasa ditelantarkan.

BACA JUGA: PNS Melarat, Rezim Kejam Idealisman Dachi?

Bahkan lebih parahnya tidak ada prospek untuk bekerjanya. Lebih lagi pada jelang akhir kepemimpinan Bupati Idealisman Dachi menimbulkan polemik pengajuan anggaran tahun berikutnya. Pemda Nisel dan DPRD Nisel menyepakati jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016 dengan angka yang fantastis dan dipastikan terbesar di Pulau Nias.

BACA JUGA: Kasus Korupsi Masa Idealisman Dachi Perlu Dituntaskan Sebelum Pilkada

Sesuai dengan angka yang disepakati, besaran APBD 2016 mencapai lebih dari Rp 1,1 triliun. Jumlah itu jauh lebih tinggi dari angka APBD 2015 yang berkisar Rp 700 miliar. Seperti diketahui, APBD 2016 sudah harus disahkan sebelum 2015 berakhir. Keterlambatan pengesahan APBD, sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah pusat akan menyebabkan kepala daerah dan para pimpinan dan anggota DPRD akan menerima sanksi. Berupa penundaan pembayaran gaji selama enam bulan.

Foto : PNS Demo era kepemimpinan Idealisman Dachi

Yang menarik, kenaikan signifikan nilai APBD yang disusun oleh pemerintahan Bupati Idealisman Dachi ini terjadi di tengah terjadinya defisit anggaran secara berturut-turut. Yang mana totalnya diperkirakan sudah lebih dari Rp 100 miliar. Pada 2014 saja, APBD Nias Selatan mengalami defisit Rp 75,8 miliar. Dan tahun ini diperkirakan mengalami defisit lagi.

Foto : kondisi istana rakyat Nisel

Selain dana APBD yang terkuras, pembangunan bidang lain mayoritas terbengkalai. Contohnya istana rakyat mangkrak. Kemudian ada gaji ASN tidak bisa dibayar tepat waktu. Dan bahkan diujung periode kepemimpinannya meninggalkan utang di berbagai kampus yang kerjasama. Sungguh disesalkan pendukung lawan politik Bupati Hilarius Duha  – Firman Giawa melakukan segala cara demi terwujudnya impian kembali berkuasa. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Korban Janji Palsu Program Pendidikan Gratis di Nias Selatan Tidak Jelas