BACA JUGA: Yasonna Maklum Tak Disukai, Utamakan Prinsip Kebaikan Bangsa dan Negara
Foto : Proses pengecekan bantuan
Pendistribusian harus sampai langsung ke rumah – rumah penerima manfaat. Kemudian tranporter ke gudang vendor. Barang diambil dari gudang vendor. Ada yang dibawa dan diletakkan ke kantor lurah atau sekretariat RW. Lalu, dari sekretariat RW didistribusikan detail ke masing – masing rumah KPM (Keluarga Penerima Manfaat). Setiap gudang vendor, diterjunkan 3 hingga 5 personil Kemensos. Tak lain melakukan pengawasan barang yang diproduksi oleh vendor. Misalnya, vendor sudah melengkapi isi goody bag. Kemudian pihak Kemensos bersama vendor memeriksa secara detail barang didalam goody bag. Sekiranya layak atau tidak kualitasnya. Termasuk fase pertama controlling. Lalu dibawa ke kantor lurah atau sekretariat RW. Dilanjutkan dikirim ke rumah penerima manfaat. Sudah diterima, pihak Kemensos akan melakukan kontrol kembali. Menanyakan kepada penerima untuk kondisinya. Memang didata kondisi bagus disampaikan dari penerima manfaat. Tidak ada komplain. Akan tetapi, justru tiba – tiba bermunculan isu tidak sedap. Sejumlah penerima beras berbau busuk dan banyak kutu. Sementara, Ida, asal Bekasi, beras yang dibagikan sudah kedaluwarsa. Ihwal bantuan beras busuk juga terjadi di Kotamabagu, Sulawesi Utara.
BACA JUGA: Makan Siang dan Arahan Menkumham Yasonna Laoly kepada Manajemen Nawacitapost
-
Jujur saja, pihak Kemensos merasa bingung. Terlebih jajaran Kemensos hanyalah abdi negara. Tidak mengerti persoalan kepentingan dan permainan politik. Namun, memang bertanya – tanya. Muncul masalah komplain. Bila ditanya di lapangan secara langsung, tidak ada komplain. Jadi tanda tanya tersendiri. Terutama memang Mensos Juliari P. Batubara sangat concern. Pegang amanah dari Presiden. Walaupun memang pelaksanaan dari Kemensos. Harus bisa sebaik – baiknya dan tanpa cacat atau cidera. Ditekankan kepada jajarannya. Tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan dengan baik. Memang tidak sempurna. Ada kerikil atau dinamika di lapangan. Membuka diri. Namun, mohon bisa memberikan kepastian komplain secara detail. Lokasi dan esensi kejadian. Janganlah abu – abu dan meraba. Bisa berkonotasi laporan yang tidak bertanggung jawab. Sekecil apapun komplain, langsung dihandle tindak lanjut sama Mensos Juliari P. Batubara. Seperti dapat laporan dari salah satu komunitas. Ada kesepakatan antara komunitas dan transporter. Dari secretariat RW atau kantor luar, diberikan Rp 5 ribu untuk mengantar door to door. Kenyataan hanya menerima dibawah kesepakatan.
BACA JUGA: Lobby Tingkat Tinggi Yasonna, Sukses Pemerintah Jokowi
-
Benang merah dalam penyaluran adalah dari data yang diberikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Tidak akan digantikan dengan yang lain. Hal demikian menyesuaikan pembagian kerja dan wilayah. Sehingga menghargai untuk data yang ada harus dari Pemda. Memang menjunjung tinggi otonomi daerah. Bukan asal menyapu saja. Kelanjutannya akan ada soal bantuan. Khususnya bantuan Presiden. Hanyalah dibagikan untuk Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan Tangsel (Tangerang Selatan). Bantuan Presiden melalui Kemensos berupa sembako hanya untuk wilayah disebutkan. Apabila ada komplain diluar Jabodetabek dan Tangsel disebutkan maka dipastikan bukan lewat Kemensos. Jangan sampai latah. Ditekankan kepada semua agar tidak semata – mata dimaknai oleh orang awam dilaksanakan dari Kemensos. Banyak bantuan lain dari beragam instansi pemerintahan. Hanya pengistilahan anggaran saja. Dipastikan sumber dana bantuan diluar wilayah dimaksud adalah dari ABPD setempat. Dijelaskan oleh Viktor Siahaan selaku Kasubdit Penanganan Korban Bencana Sosiakl & Politik Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?