Jokowi Dianggap Pro China, Luhut Bantah Investasi China Justru Menguntungkan

6
192
Foto : Presiden Jokowi

Jakarta, NAWACITAPOST – Presiden Joko Widodo atau Jokowi dianggap pro China. Hal demikian muncul usai akan adanya penyerapan pekerja dari China. Diperparah munculnya saat sedang gencarnya sengketa Natuna yang belum kunjung usai. Namun, dipertimbangkan dengan matang oleh Jokowi. 500 tenaga kerja China ditunda masuk Indonesia. Para pekerja rencananya akan dipekerjakan di perusahaan tambang di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sulteng). Tertundanya kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China karena menghimpun aspirasi. Yang mana berdatangan termasuk penolakan dari masyarakat.

BACA JUGA: Lawan Sebut Jokowi Terlibat PKI, Malahan Terungkap Soeharto Dalangnya Rekayasa PKI

Foto : Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping

Dalih pandemic Covid 19, anggota Komisi I DPR Fraksi PKS Sukamta menganggap pemerintah pusat (pempus) tak peka terhadap situasi di tengah wabah virus Covid 19. Seharusnya pemerintah membatasi masuknya warga asing ke Indonesia demi menjaga kesehatan masyarakat. Kritik juga datang dari anggota Ombudsman, Alvin Lie. Keputusan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tak tepat dan sangat ironis. Sebab banyak pekerja lokal yang diwajibkan Work From Home (WFH). Sementara, Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) Abdurrahman Saleh mengancam akan menggelar aksi demonstrasi. Terlebih jika pemerintah mengizinkan 500 TKA asal China masuk ke wilayahnya. Dia bahkan akan turun memimpin aksi.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan

Sebelumnya, Kemnaker membenarkan telah menyetujui Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) 500 TKA China. RPTKA diajukan pada 1 April oleh dua perusahaan. Yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel. Demikian didorong pula oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Maritim Investasi) Luhut Binsar Pandjaitan. China sebagai kekuatan dunia yang diperhitungkan. Terutama kekuatan yang mana dalam kaitannya dengan ekonomi global. Ekonomi China hampir 18 persen berpengaruh ke ekonomi global. Amerika kira – kira 25 persen. Tentunya akan menguntungkan Indonesia. Demikian dikatakan pada 5 Juni 2020 kepada awak media.

BACA JUGA: Kematian Kristin Vili Mendrofa Diduga Direkayasa, Kinerja Polsek Kuranji Dipertanyakan

Foto : Menteri Kabinet Presiden Jokowi

Dilanjutkan. Indonesia merupakan negara yang bebas aktif. Indonesia justru harus membangun hubungan yang baik dengan negara mana pun. Dilakukan guna mendukung kekuatan Indonesia. Investasi China mendukung visi Indonesia untuk beralih ke industri nilai tambah. China telah banyak berinvestasi dan membantu mengembangkan beragam pabrik nilai tambah komoditas. Pihak China sudah cukup patuh dengan aturan berinvestasi di Indonesia. Termasuk soal tenaga kerja yang didatangkan dari sana.

BACA JUGA: Semrawutnya Pasar Kranji Baru

Foto : Presiden Jokowi dan Presiden China Xi Jinping

Jumlah TKA China yang datang ke Indonesia sangat kecil. Di kawasan industri Konawe, Sulteng, TKA China hanya sekitar 8 persen. Tak lain dari total tenaga kerja yang terserap dalam proyek. Jumlah TKA China pun diharapkan akan semakin berkurang dengan dibangunnya politeknik di Morowali. TKA China datang ke Sultra dalam proyek persiapan industri litium baterai. Kehadiran 500 pekerja China dibutuhkan. Terlebih karena Indonesia belum siap mengerjakan proyek sendirian. Teknologi yang diterapkan dalam pabrik milik VDNI berasal dari China. Sementara Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri dinilai belum menguasainya. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Kuliah Ikatan Kedinasan Poltekip Poltekim Kemenkumham Sudah Dibuka, Ayo Daftar!