Jakarta, NAWACITApost.com - Belakangan ini, mafia minyak dan gas (migas) menjadi topik hangat yang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah muka karena mafia migas merampok Rp1 triliun setiap bulannya.
Untuk mengatasi mafia migas tersebut, Jokowi menunjuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lantas mengajak Moeldoko yang sama-sama memiliki komitmen kuat dalam hal pemberantasan korupsi.
Dalam sebuah pertemuan antara Moeldoko dan Ahok pada awal tahun 2020 silam, keduanya sepakat untuk mengawal kebijakan Jokowi, terutama di sektor migas. Moeldoko mengakui, tingginya harga gas salah satunya disebabkan para mafia migas yang bermain. Menurutnya, keberadaan para mafia migas ini kerap membuat Jokowi geram.
"Kita akan kawal bersama-sama agar kebijakan presiden betul-betul bisa direalisasikan," kata Moeldoko.
Beberapa kali Jokowi bahkan mengancam akan menggigit para pemain yang membuat harga migas menjadi lebih tinggi. "Saya pikir jangan sampai ke presiden lah, kalau perlu menggigit ya saya duluan yang menggigit, jangan presiden duluan," kata mantan Panglima TNI itu.
Ahok sendiri tak perlu diragukan lagi dalam hal pemberantasan korupsi. Untuk memberantas korupsi diperlukan transparansi, yaitu dengan merancang suatu sistem agar seluruh proses, terutama keuangan, dapat diketahui oleh semua orang.
"Korupsi adalah akar dari segala permasalahan di negara ini. Untuk mengatasinya, harus berani transparansi," kata Ahok.
Wakil Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) Ade Irawan mengungkapkan peran Ahok dalam melawan korupsi. Penerapan anggaran melalui elektronik anggaran atau e-budgeting, menurut Ade, sangat substansial dalam mencegah dan melawan korupsi. "Cara dia adalah dengan menjaga e-budgeting sehingga proses pengadaan berjalan dengan benar," kata Ade.
Ahok sendiri menamatkan gelar sarjananya di Universitas Trisakti, jurusan teknik geologi. Setelah itu, ia mengambil S2 bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetia Mulya.
Ahok memiliki latar belakang seorang pengusaha. Pada 1989, ia sempat mendirikan CV Panda. Perusahaan itu bergerak di bidang pertambangan, sebagai kontraktor PT Timah.
Namun, setelah lulus program magister, Ahok bekerja di PT Simaxindo Primadya. Perusahaan itu bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik.
Karir politik Ahok dimulai sejak dirinya terpilih menjadi Anggota DPR Kabupaten Belitung, periode 2004-2009. Saat itu, ia bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB).
Rupanya karir Ahok di bidang politik moncer. Terbukti, ia terpilih menjadi Bupati Belitung Timur pada 2005. Kesuksesannya memimpin daerah tersebut, mengantarkan Ahok menjadi anggota DPR RI pada 2009.
Belum selesai jabatannya di DPR RI, Ahok terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Ia mendampingi Jokowi hingga 2014. Setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden RI ketujuh, Ahok diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta.