Jakarta, NAWACITApost.com - Kepedulian Moeldoko kepada para petani tak diragukan lagi. Ketua Umum Kerukunan Himpunan Tani Indonesia (HKTI) itu bahkan turut mendorong dan mengawal pemberdayaan petani garam untuk lebih terbuka terhadap teknologi.
Peran Meoldoko dalam melakukan pembinaan para petani garam tradisional untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk itu mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya, disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Varhan Abdul Azis.
“Momentumnya dapat, tinggal konsistensi dan keseriusan kita. Itu bisa diawali dengan pembinaan terhadap petani garam, sebagaimana diusulkan oleh KSP Doktor Moeldoko," kata Varhan, beberapa waktu lalu.
Varhan menegaskan, ide Moeldoko itu pasti datang dari jiwa seorang patriot yang sudah lama tersiksa melihat kenyataan ironis yang ada di depan mata. Bagaimana tidak, kata Varhan, Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki luas laut 3,3 juta km2, dan garis pantai sekitar 100 ribu km, tetapi masih saja termasuk pengimpor garam.
Ia lantas mengutip tingginya kebutuhan garam Indonesia. Data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kebutuhan garam nasional mencapai 4,6 juta ton per tahun.
Kebutuhan itu tidak cukup mengandalkan pasokan produksi garam petani yang hanya sekitar 1,5 juta ton per tahun. Pada 2019 misalnya, total produksi garam nasional hanya mencatat 2,09 juta ton, yang terdiri dari 1,743 juta ton garam produksi rakyat dan 346,24 ton produksi PT Garam.
Dengan produksi dalam negeri seperti itu, wajar bila tahun itu angka impor garam Indonesia bisa mencapai sekitar 3 juta ton. Angka alokasi impor garam 2020, misalnya, berada pada angka tersebut. Jumlah itu meningkat dari impor garam 2017 yang mencapai 2,55 juta ton, dan pada 2018 yang mencapai 2,39 juta ton.
"Indonesia pun tidak hanya mengimpor garam industri sebagaimana yang selalu digembar-gemborkan, melainkan berbagai macam jenis garam, mulai dari garam meja (halus), rock salts, hingga garam dengan kadar NaCl yang tinggi,” kata Varhan.
Karena itu, Varhan menilai usulan Moeldoko bisa menjadi momentum yang kuat untuk memperbarui kembali niat Indonesia mencapai swa-sembada garam. Usulan Moeldoko itu, menurut Varhan, menunjukkan kepedulian pemerintah yang tinggi untuk mengatasi persoalan impor garam.
“Makanya saya katakan, usulan Pak Moeldoko untuk membina petani garam sebagai salah satu cara pengendalian impor, itu tak akan mungkin keluar tanpa ada jiwa patriot dalam dada beliau,” kata dia.