Arya Sinulingga Menghambat Program Nawacita Presiden Jokowi

0
741

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Program Nawacita Jokowi saat menjadi Capres 2019. Bukan sekedar lembaran kertas yang dibubuhi tanda tangan dan stempel berformat kertas hologram belaka. Yang hanya dibaca, lalu dilupakan. Begitu harapan yang anti nawacita, ketika Jokowi menjadi presiden.

Baca Juga : Kecam Cara Ahok, Arya Sinulingga Tidak Mendukung Program Nawacita Presiden Jokowi

Justru yang terjadi, Presiden 2019 -2024 ini mengeksekusinya tanpa banyak bicara. Daerah di Pilpres 2019, yang memilihnya sedikit. Di daerah tersebut, Ia membangun infrastruktur dan sarana lainnya. Sebut saja; Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Jalan tol, bendungan selesai dibangun dan sudah dinikmati seluruh rakyat. Bahkan prestasi luar biasa di NTB telah ditorehkannya membangun sirkuit internasional Mandalika untuk gelaran Motor Superbike dan Motor GP. Termasuk penerapan kebijakan satu harga BBM di Papua.

Baca Juga : Ahok Jalankan Butir Keempat NAWACITA Presiden Jokowi

Program nawacita Presiden Jokowi. Itu bukan sebuah pencanangan atau slogan, yang hanya pemanis di janji kampanyenya. Melainkan benar-benar dilaksanakannya secara tepat dan cemat, serta benar-benar dirasakan rakyat banyak, terutama takyat terdampak.

Baca Juga : Pernyataan Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga Tidak Sejalan dengan Program Nawacita Presiden Jokowi

Seharusnya, aparatur pejabat sipil dan militer, selain berpedoman pada sosok pribadi Jokowi yang telah menjadi teladan nyata sebagai pemimpin pemerintahan. Mereka itu harus mampu melaksanakannya, dalam segala program dan bidang tugas masing-masing. Tidak untuk dipertimbangkan atau dipikirkan saja.

Berkaitan dengan hal tersebut. Maka, perlu dukungan dari orang yang tepat. Jokowi pun menempatkan Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina. Bagi Jokowi, Ahok mampu menterjemahkan apa yang dicantumkan dalam program Nawacitanya.

Bersih-bersih internal pun dilakukan Gubernur Jakarta 2012 -2014. Kartu kredit yang dimilikinya sebagai Komut Pertamina sebesar 30 miliar rupiah, dihapus. Termasuk para komisaris dan direktur, dan elit pertamina serta anak usaha lainnya. Belum cukup sampai disitu, Ahok pun membersihkan kontrak-kontrak yang merugikan pertamina.

Kehadiran Ahok di BUMN plat merah terbesar itu, bukan sekedar gertak sambal. Tapi real dilakukan. Melalui chanel Youtube Panggil saya Basuki Tjahaja Purnama. Ini mengindikasikan Ahok punya insting tajam dalam mencium bau busuk beraroma tak sedap berlabel tak beres. Maka ketidak beresan yang merugikan Pertamina disampaikan ke publik melalui chanel Yotube tersebut.

Publik pun curiga dan mendukung langkah Ahok membersihkan ketidak beresan tersebut.  Staff khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membantah dan mengatakan Ahok tidak perlu bicara ke publik atau tidak mengikuti progres saat ini alias Ahok ketinggalan kereta.

Hal ini justru disimpulkan publik, tidak tepat dan dapat disimpulkan ada yang merasa terganggu.

Sengatan ayah Nicholas Sean ini membuat geram, kesal dan bernada marah dari Staf Khusus Menteri Negara BUMN, Arya Sinulingga. “Jangan komut berasa dirut,” begitu sindiran pedas Arya ke Ahok lewat akun media sosial pribadinya.

Dengan pernyataan seperti itu. Arya telah menghambat program nawacita Presiden Jokowi.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa Ahok ada di Pertamina karena Jokowi ingin melakukan perubahan besar bukan sekedar saja bila perlu gerakan Ahok di Pertamina menginspirasi para komisaris di BUMN yang lain untuk sungguh-sungguh menjalankan nawacita Presiden Jokowi untuk Indonesia maju 2045.