Baca Juga : Ahok Jalankan Butir Keempat NAWACITA Presiden Jokowi
Usai Pilpres, dan Pasangan Jokowi - KH Ma'ruf Amin menang. Arya diminta Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Staf khusus merangkap jubir Kementerian BUMN.
Baca Juga : Pernyataan Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga Tidak Sejalan dengan Program Nawacita Presiden Jokowi
Sepak terjangnya tersohor. Kabarnya, entah benar atau tidak. Sebagian perusahaan BUMN untuk hal tertentu, keputusannya harus diketahui atau seizin Arya.
Baca Juga : Ahok Bongkar Kontrak yang Merugikan Pertamina, Arya Sinulingga : Ngancam!!!
Kembali ke Arya sebagai jubir tim kampanye Jokowi - KH Ma'ruf Amin. Yang mana Jokowi mengusung tema besar kampanyenya, dengan program Nawacita, terdiri dari 9 butir dan butir keempatnya “Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.”
Program nawacita, itulah yang ditepati Jokowi saat menjadi Presiden. Untuk mengekseskusinya Jokowi perlu sosok yang tepat. Maka, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok, ditempatkan sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Tujuannya membersihkan kontrak-kontrak tidak jelas yang ujungnya merugikan Pertamina.
Ternyata Ahok sebagai Komut Pertamina, di dua tahun pemerintahan Jokowi tak ada masalah. Memasuki tahun berjalan ketiga, mulai adanya kecaman. Itu datangnya ternyata dari Kantor Kementrian BUMN. Arya Sinulingga yang mengucapkannya lewat akun media sosialnya. Gegara, Ahok membongkar kontrak yang merugikan Pertamina.
"Jangan Komut rasa Dirut," begitu ucapan Arya ke Ahok lewat media sosial pribadinya. Padahal Ahok jelas-jelas membersihkan pertamina dari kerugian. Hal itu sejalan dan tepat dengan nawacita presiden Jokowi.
Yang jelas dan pasti, Arya mengecam cara Ahok, ia bisa disebut tidak mendukung program Nawacita Presiden Jokowi.