Pernyataan Stafsus Menteri BUMN Arya Sinulingga Tidak Sejalan dengan Program Nawacita Presiden Jokowi

0
637
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Foto Kompas TV

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Staf khusus (Stafsus) Menteri BUMN Erick Thohir, Arya Sinulingga marah kepada Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok. Gara-gara Ahok membongkar kontrak yang merugikan Pertamina.

Baca Juga : Ahok Bongkar Kontrak yang Merugikan Pertamina, Arya Sinulingga : Ngancam!!!

Sebenarnya bersih-bersih Ahok, sudah dilakukan secara internal di Pertamina. Penghapusan kartu kredit kepada petinggi Pertamina dan anak usahanya. Bahkan dirinya sebagai Komut Pertamina mendapatkan limit kartu kredit 30 miliar rupiah dihapusnya.

Itulah yang membuat elit Pertamina dan anak usahanya gerah. Padahal, yang meminta Ahok di Pertamina adalah perintah langsung dari Presiden Jokowi. Karena Jokowi tahu bahwa Ahok mampu menterjemahkan butir kedua nawacita dari kakek Jan Ethes Membuat Pemerintah Tidak Absen dengan Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih, Efektif, Demokratis, dan Terpercaya.¬† Dan itulah yang dilakukan Gubernur Jakarta 2014 -2017, ketika mengemban amanat Jokowi. Artinya, Ahok melaknsakanan Nawacitanya Presiden Jokowi. Padahal Ahok bukan tim kampanye Jokowi – KH Maruf Amin, sementara Arya Sinulingga menjadi bagian tim kampanye Jokowi – KH Ma’ruf Amin, lalu kenapa Arya menutupi atau tidak sejalan dengan program nawacita Presiden Jokowi?

Terkait gebrakan Ahok yang membongkar kontrak-kontrak yang merugikan Pertamina banyak mendapat dukungan neztizen, menyebut :

Gak apa-apa pak Ahok saya dukung. Biar duit rakyat gak dimakanin pejabat ama lumpen politik terus. Allahu Akbar. Demi NKRI

Kalau stafsus ya jangan gaya menteri

Mantap Pak Ahok.

Bukannya komisaris itu yang punya perusahaan atau yang mewakili pemilik perusahaan

Takut ketahuan ya, bos.

Pejabat yang jujur semakin sedikit. Maju terus pak Ahok dibutuhkan orang-orang seperti Anda ini untuk membenahi BUMN yang korup.

Kalau kejahatan diungkapkan tidak perlu batasan, mau siapapun yang melihat kebobrokan adalah tanggungjawabnya untuk mengungkapkannya. Karena batasan fungsional dan struktural makanya banyak bawahan melihat ketidakbenaran tetap mengatakan benar, karena mulut disumpal duit, kemudian Anda berbicara sekarang memangnya Anda merasa lebih tinggi kedudukannya??