Ketua KPK Firli Sebut Anies Ibarat Baru Bangun

0
381
Foto : Ketua KPK Firli dan Gubernur Anies

Jakarta, NAWACITAPOST – Gubernur DKI Jakarta Anies sedang ramai diperbincangkan. Terlebih usai dirinya memposting foto. Dalam unggahan foto tersebut, Anies menunjukkan dirinya sedang membaca buku How Democracies Die. Yang mana ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Dalam unggahan pada (22/11/2020) tersebut, Anies menuliskan caption: “Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi.” Namun sayang mendapat beragam kritikan. Bahkan Ketua KPK Firli turut berkomentar. Ketua KPK menyebut Anies ibarat baru bangun.

Foto : Update sosial media Anies

Secara tiba-tiba, Firli kemudian menyinggung ramainya pembahasan terkait unggahan Anies yang tengah membaca buku How Democracies Die. Dia mengatakan, jauh sebelum Anies membaca buku tersebut, Firli mengaku bahwa dirinya telah membaca buku lain berjudul Why Nations Fail. “Kalau kemarin saya lihat ada di media Pak Anies membaca How Democracies Die. Sebelum itu, Pak, bukunya ada Why Nations Fail, itu sudah lama saya baca, Pak. Tahun 2002 sudah baca buku itu. Kalau ada yang baru baca sekarang, kayaknya baru bangun, Pak. Makanya banyak yang mengkritisi, kan, sudah lama buku itu, Pak,” kata dia.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Firli kembali melanjutkan. “Nah, saya sudah lama baca buku itu. Maksudnya saya baca Why Nations Fail tahun 2012. Buku ini yang saya maksud. Buku Why Nations Fail yang saya maksud yang saya sudah baca pada tahun 2012. Edisi asli yang dipublish pertama di Inggris Raya tahun 2012 (bukan terjemahan Indonesia). Bukunya masih saya simpan di perpustakaan saya,” katanya.

Foto : Ketua KPK Firli

Bahkan, PDIP DKI menilai unggahan itu sebagai gimik Anies. “Daripada memperbanyak gimik, saran saya, Pak Anies lebih tekun dan konsentrasi saja sama penanganan Covid 19 di Jakarta yang meningkat tajam akhir-akhir ini, buah dari ketidaktegasan beliau,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Ima Mahdiah. Perlu diketahui buku tersebut bercerita tentang kematian demokrasi dengan terplihnya banyak pemimpin otoriter. Kepemimpinan otoriter dinilai akan menyalahgunakan kekuasaan pemerintahan, dan penindasan total atas oposisi.

BACA JUGA: Habib Rizieq Shihab Keberatan Test Covid 19, Positif Terpapar?

Gejala – gejala kematian demokrasi dinilai sedang terjadi di seluruh dunia. Pembaca diajak untuk mengerti untuk cara menghentikan kematian demokrasi ini. Kedua penulis yang merupakan profesor dari Harvard yang menerangkan sejarah dan kerusakan rezim selama abad ke 20 dan ke 21. Menunjukan bahayanya pemimpin otoriter ketika menghadapi krisis besar. Kedua ilmuwan politik ini menyoroti fenomena kemunculan sejumlah pemimpin yang terkesan ‘diktator’, yang justru muncul melalui hasil pemilu. Mereka berpendapat bahwa kini demokrasi mati bukan karena pemimpin dictator dan jenderal militer yang memperoleh kekuasaan lewat kudeta. Melainkan justru oleh pemimpin yang menang melalui proses pemilu.

Foto : Gubernur Anies

Porsi buku ini banyak mengulas soal fenomena yang terjadi di Amerika Serikat. Yakni ketika Donald Trump, yang diusung oleh Partai Republik, menang pada Pilpres Amerika Serikat tahun 2016. Trump unggul atas kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton. Padahal banyak lembaga survei lokal yang memprediksi kekalahan Trump. Trump diduga kuat menang karena berhasil memainkan isu rasisme kulit hitam dan menebarkan ketakutan melalui hoax. Begitu terpilih, Trump langsung mengeluarkan pernyataan kontroversial membuatnya terkesan seperti diktator.

BACA JUGA: Artis Huru Hara Nikita Mirzani Terancam Dipenjara?

Beberapa diantaranya pernyataan perang yang diumumkan lewat akun sosial media pribadinya, rencana membangun tembok perbatasan Meksiko-Amerika Serikat, kebijakan luar negeri Korea Utara dan Afghanistan yang memicu perang, reformasi pajak, sikapnya arogan kepada media yang mengkritiknya, ketidakpercayaannya pada fenomena perubahan iklim hingga yang paling kontroversial soal pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel. Selain itu, buku ‘How Democracies Die’, juga mengulas soal fenomena serupa di Brasil, Filipina, hingga Venezuela. Fenomena pemimpin ‘diktator’ yang menang lewat pemilu juga terjadi di Peru, Polandia, Rusia, Sri Lanka, Turki, dan Ukraina.

Foto : Buku How Democracies Die

Dalam buku ini dijelaskan bahwa kematian demokrasi bisa terjadi justru ketika kaum demagog (‘provokator’) ekstremis dibawa masuk ke dalam arus utama perpolitikan. Pendapat kedua ilmuwan itu berdasarkan pengalaman terpilihnya Trump dalam Pilpres AS 2016. Trump dianggap sebagai demagog yang telah merusak demokrasi AS, meskipun negara itu memiliki konstitusi yang kokoh. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Edhy Prabowo OTT, Susi Pudjiastuti Bakal Jabat Menteri KKP Lagi?