Amien Rais Lengser Gus Dur, Karma Jadikannya Gelandangan Politik

0
1943
Foto : Amien Rais, Gus Dur, Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto

Jakarta, NAWACITAPOST – Begitu tingginya rasa percaya diri dari senior PAN (Partai Amanat Nasional) Amien Rais. Tak lain terhadap keyakinan dirinya di dunia perpolitikan. Meskipun terbilang nihil belaka. Pasalnya tidak terpilih dirinya sebagai Ketua Umum (Ketum) PAN. Padahal kan jelas dirinya merupakan salah satu tokoh pendiri PAN. Justru tidak mendapatkan jabatan istimewa dalam partainya sendiri. Bisa dikatakan gelandangan politik. Entah memang bermuka dua atau tidaknya. Malah bercerita kepada Refly Harun. Terekam dalam akun youtube milik Refly Harun pada 13 Mei 2020. Amien Rais punya peluang menjadi Presiden mengalahkan Gus Dur. Bahkan dirinya melanjutkan alasannya menolak menjadi Presiden pengganti BJ. Habibie. Terbilang baginya sebenarnya peluang emas. Namun dirinya memang sengaja tidak mengambil peluang emas menjadi Presiden pada tahun 1999. Amien Rais memberikan kesempatan kepada Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dirinya memang sempat diusulkan kuat untuk menggantikan pemerintahan BJ. Habibie. Sudah didukung oleh banyak tokoh melenggang sebagai Presiden pada tahun 1999. Termasuk juga dukungan berasal dari BJ. Habibie sendiri. Amien Rais mengaku tidak enak dengan Gus Dur. Lantaran dirinya yang dijagokan oleh kelompok poros tengah. Amien Rais juga mendukung Gus Dur untuk menjadi orang nomor 1 di Indonesia.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Amien Rais dan Gus Dur

Kemudian tiba – tiba muncul sebuah dokumen atau arsip ke publik. Yaitu tentang skenario penjatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Dokumen ditemukan oleh seorang penulis muda, Virdika Rizky Utama. Dirinya merupakan penulis buku ‘Menjerat Gus Dur’. Sebuah talkshow diuunggah  akun channel Youtube 164 Channel Nahdlatul Ulama, 27 Desember 2019 lalu. Dirinya yang sehari – hari berprofesi sebagai seorang jurnalis tiba – tiba menemukan arsip. Arsip ditemukannya di kantor DPP Partai Golkar. Tepatnya awal Oktober 2017, ketika ada renovasi kantor DPP Partai Golkar. Setelah liputan, dia melihat adanya petugas yang membuang beberapa dokumen. Rasa penasaran dirinya muncul. dirinya kemudian melihat beberapa dokumen. Kemudian meminta izin kepada petugas kebersihan untuk membawa dokumen. Diizikannya dirinya membawa dokumen. Lantaran rencana akan diloakkan. Dugaan kuat Gus Dur dijatuhkan karena kemarahan beberapa tokoh. Dokumen sebenarnya dokumen Golkar dan HMI connection. Sebelumnya, Luhut yang menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Gus Dur menegaskan pada 11 Januari 2016. Pemakzulan terhadap Gus Dur bukan disebabkan persoalan hukum kasus Brunei dan Bulog. Tidak ada konstitusi yang dilanggar oleh Gus Dur. Lengsernya Gus Dur lebih kepada persoalan politik. Tidak ada aspek korupsi karena pengadilan sudah memutuskan tidak. Gus Dur sebelumnya diduga berperan dalam pencairan dan penggunaan dana Yanatera Bulog. Diduga pula inkonsisten dalam pernyataannya mengenai aliran dana dari Sultan Brunei.

BACA JUGA: Klaim Dubes Palestina Hadir Deklarasi KAMI, Ternyata Dibohongi

Foto : Amien Rais dan Presiden Jokowi

Lantas musuh – musuh politik Gus Dur menjadikan bahan untuk menjatuhkannya. Musuhnya datang dari empat kelompok. Dua kelompok adalah yang kecewa karena kalah dalam Pemilu 1999 dan sisa – sisa Orde Baru (Orba). Tak ketinggalan juga jenderal – jenderal yang gusar dengan supremasi sipil yang dilaksanakan Gus Dur. Kelompok keempat adalah kelompok Poros Tengah. Semula adalah pendukung Gus Dur dalam pemilihan presiden 1999. Lalu berbalik jadi oposan karena gagal memperoleh konsesi politik dan ekonomi setelah Gus Dur naik jadi presiden. Sebagaimana dilakukan oleh Amien Rais kala berbicara dalam forum Korps Alumni HMI (KAHMI) pada 25 Oktober 2000. Amien Rais mempelopori Poros Tengah dan ikut mendukung pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Amien Rais justru menyatakan menyesali dukungannya. Sekarang jelas bahwa Gus Dur memang tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Terutama demi bangsa dan kelanjutan dari republik, serta keutuhannya di masa mendatang. Demonstran anti Gus Dur dimotori aktivis HMI, BEM UI, BEM IPB, KAMMI dan beberapa BEM universitas negeri lainnya. Sementara kubu pendukung Gus Dur umumnya adalah kalangan Nahdliyin seperti Banser, PMII, Garda Bangsa, IPNU dan IPPNU. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa kongkalikong para oposan dan konflik horizontal yang terus memanas. Amien Rais gelar sidang MPR menjungkalkan Gus Dur. Beberapa hari sebelumnya mahasiswa dikoordinir kekuatan hoax demo menuntut Gus Dur mundur. Sementara ratusan ribu Banser yang siap mati syahid disuruh pulang oleh Gus Dur dengan satu kata, jabatan dunia tidak perlu dibela mati – matian. Mungkin dari peristiwa panjang, bahwasanya karma selalu ada. Sesuatu yang ditabur, maka itulah yang dipetik. Jikalau menanam angin, maka badai yang akan dipetik. Demikian terjadi sepertinya Amien Rais yang hilang kejayaan perpolitikan layaknya gelandang politik. Tidak memperoleh kedudukan istimewa apa – apa di masa kini. Dulu memang mampu membuat Gus Dur jatuh. Namun, bagaimana sekarang? Justru bukanlah siapa – siapa lagi didalam perpolitikan. Walaupun sekarang masih saja terus mengkritik pemerintahan utama Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Tapi waktu tentu saja bisa bicara. Benar kata Gus Dur rupanya. Tidak usah digubris. Preman – preman itu akan jadi gelandangan politik seumur hidup. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Amien Rais Berdalil, Jokowi Otoriter Diumpamakan Fir’aun?