BACA JUGA: Yasonna Kembali Dilantik Jokowi Kedua Kalinya Jadi Anggota Kompolnas
Foto : Presiden Jokowi dan Amien Rais
Pada awalnya rakyat umumnya percaya akan ada perubahan signifikan bagi kehidupan rakyat. Namun harapan cepat kandas. Karena politik pencitraan (image building) terus saja dilakukan oleh Jokowi sambil terus melakukan janji sosial, politik, ekonomi dan hukum. Terdengar merdu di telinga kebanyakan rakyat Indonesia. Dalam literatur politik, Jokowi cukup lihai memainkan politik yang penampilannya demokratis. Akan tetapi substansinya intinya otoriter. Jokowi menjalankan demokrasi illiberal. Kebebasan berbicara, berpendapat dan berkumpul mulai dicurigai. Namun orang - orang di belakang Jokowi membentuknya menjadi demokrasi populis. Jokowi terbuai dengan puja puji pendukungnya. Para sycophants (penjilat) dapat meyakinkan yang 'terbaik di dunia' benar - benar dicintai rakyat sampai batas yang sangat jauh. Bahkan sampai berani mengatakan 'Aku adalah Pancasila’.Mengungkit cerita saat Fir'aun melawan Nabi Musa AS. Fir'aun menjanjikan posisi penting bagi orang sekelilingnya jika membawanya pada kemenangan. Amien bicara hal demikian sembari menampilkan Surat Al-Anfal ayat 113 dan 114. Dalam sistem otoriter, sistem checks and balances dalam demokrasi akan dimatikan. Trias politika yang menjadi fondasi demokrasi dimatikan. Lembaga legislatif dijadikan lembaga stempel sang otokrat yang sudah jadi penguasa puncak eksekutif. Sementara lembaga yudikatif tak boleh merusak orkestra politik yang sudah dirancang oleh sang otokrat. Penghalang atau penghancuran hukum, secara efektif dihancurkan penegak hukum sendiri. Sehingga obstruction of justice menjadi lebih bahaya lagi. Yaitu menjadi desctruction of justice. Adalah penghancuran keadilan.
BACA JUGA: Ultimatum Jokowi, Gatot Nurmantyo Koalisi Din Syamsudin
-
Tipikal otoritarianisme sepenuhnya dipraktikkan oleh rezim Jokowi. Tangan masyarakat yang tak sejalan dengan rezim akan dipangkas. Rezim otoriter Jokowi makin kuat. Sesungguhnya dianggap immoral dan illegitimate. Rezim otoriter rezim Jokowi bukannya makin lemah. Sehingga demokrasi yang sudah terengah - engah makin tak berdaya. Otoriterisme Jokowi makin kuat dan pekat. Sudah ditendang dari kedudukan istimewa dalam kepartaian PAN (Partai Amanat Nasional) sebagai ketua umum (ketum) memang belum juga menyurutkan ambisinya. Tidak mendapat kursi pemerintahan menjadikan kekecewaan mendalam sepertinya pantas ditujukan padanya. Terlebih memang ada amnesia janji jalan kakinya. Pernah berjanji jalan kaki Yogyakarta - Jakarta jikalau Jokowi kalah Pilpres (Pemilihan Presiden) 2019 tak dilakoni. Nyatanya Jokowi menang. Rakyat lebih memahami kondisi perpolitikan dan kepemimpinan. Sehingga terlihat Amien Rais mungkin hanya bisa mengedepankan subjektivitas pribadi. Ambisi yang tidak terkontrol layaknya pantas disematkan kepadanya. Kekecewaannya sepertinya terlalu dalam ketika sudah menjadi gelandangan politik. Bahkan sebagai pendiri partai pun kini sudah tidak dianggap oleh partainya sendiri.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?