Menteri Pertanian Bertanggung Jawab Cegah Berkelanjutan Virus ASF Mematikan Ternak Babi di Sejumlah Wilayah

0
781
Foto : Ternak babi terkena virus ASF

Jakarta, NAWACITAPOST – Zona hijau Kepulauan Nias khususnya Kabupaten Nias Selatan kini seperti hanya tinggal kenangan. Pasalnya tersulap menjadi zona kematian ribuan ekor ternak babi milik masyarakat setempat. Memang babi ternakan mati mendadak. Disebabkan oleh Virus African Swine Fever (ASF). Sebelumnya pernah terjadi pula kematian pada puluhan ribu babi milik peternak di sejumlah kabupaten dan atau kota di Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Disampaikan Ketua Asosiasi Peternakan Babi (Asperba) Sumatera Utara (Sumut), Robert Dachi, 2 Mei 2020. Sementara, wilayah lain juga ada kematian dalam jumlah besar untuk ternak babi, tepatnya di Bali dan Jayapura. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menyatakan. Ratusan babi yang mati sejak beberapa bulan terakhir. Lantas hingga kini memang belum ada kejelasan kelanjutan proses pencegahan berkelanjutan penyebaran. Ditakutkan akan bertambah buruk jumlah menjadi semakin banyak.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Ternak babi terkena virus ASF

Virus sangat bisa menyebar pesat. Terlebih virusnya memang sangat tahan hidup di lingkungan. Virus ASF merupakan satu – satunya spesies virus dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Virus dikelompokkan dalam grup I. Tepatnya pada sistem klasifikasi Baltimore. Yaitu virus DNA dengan untai ganda. Melansir World Organisation for Animal Health (OIE), ASF adalah penyakit pendarahan yang sangat menular pada babi domestik dan liar. Kemunculan virus disebabkan oleh virus DNA. Besar dari keluarga Asfarviridae yang juga menginfeksi kutu genus Ornithodoros. Penyebaran ASF karena kontak langsung dengan babi liar atau babi lain yang terinfeksi. Konsumsi pakan yang terkontaminasi juga menjadi jalan penularan virus. Pada umumnya, babi yang terinfeksi ASF mengalami demam tinggi, depresi, anoreksia dan kehilangan nafsu makan. Kemudian juga alami pendarahan pada kulit (kemerahan pada telinga, perut dan kaki), sianosis, muntah, hingga diare.

BACA JUGA: Peraturan Dibuat Jerat Rakyat, Untuk Anies Tidak

Foto : Ternak babi terkena virus ASF

OIE menyarankan pentingnya memperhatikan beberapa hal. Diantaranya sektor peternakan, sanitasi dan pembuangan karkas hingga limbah yang layak. Merupakan salah satu solusi guna mencegah penyebaran virus ke babi lain. Deteksi dini dengan langsung membunuh babi yang terinfeksi dan langkah – langkah biosekuriti yang ketat menjadi hal yang juga menjadi perhatian. Demikian merupakan tanggung jawab Menteri Pertanian yang memimpin Kementerian Pertanian (Kementan) dan jajarannya. Kementerian Pertanian adalah kementerian dalam pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pertanian, perkebunan dan peternakan. Sehingga kematian ternak babi dalam jumlah tinggi, Menteri Pertanian harus segera sigap mengambil langkah. Terlebih sejauh ini obat penanganan virus ASF belum ada dan masih tahap proses penelitian. Maka hanya cara pencegahan yang perlu dilakukan. Pencegahan bisa dilakukan ada dua jenis. Menjaga kesehatan babi dengan nutrisi yang kuat dan kebersihan kandang.

BACA JUGA: Peraturan Dibuat Jerat Rakyat, Untuk Anies Tidak

Foto : Ternak babi yang terkena virus ASF

Tentunya sangat diperlukan instruksi langsung dari Menteri Pertanian kepada jajaran kementeriannya. Hanya dengan bisa bersinergi ke semua pihak, baik pemerintah dan media. Bisa berupa memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan penyebaran kematian babi. Tentu saja agar tidak menambah kerugian perekonomian masyarakat. Lantaran memang kerugian yang ditaksir tak tanggung – tanggung, perekornya Rp 3 juta. Oleh karenanya Kementan tidak boleh mendiamkan. Kemampuan daerah terbatas. Berbeda dengan Kementerian. Didukung oleh anggaran dan para ahli di bidangnya. Apabila Kementan tidak melakukan apa – apa, dimungkinkan wabah tidak akan bisa hilang. Jadi bukan hanya bersinergi tapi intervensi untuk memberi solusi. Bahkan jika dimungkinkan Kementan bisa mengajukan anggaran penggantian kepada rakyat untuk membantu. Terutama yang bersifat ternak keluarga bukan corporasi. Lantaran dampak buruk benar – benar dirasakan. Terutama bagi masyarakat Nias. Beternak merupakan mata pencaharian utama. Biasanya ternakan babi dipergunakan sebagai tabungan ketika kelak berobat, menikah, sekolah dan sebagainya.

BACA JUGA: Data BPHN Bicara, Baru 6,9% Masyarakat Sadar Hukum di Indonesia

Foto : Ternak babi terkena virus ASF

Diterangkan oleh Ama Arianus Waruwu kepada Fadaosi Waruwu Nawacitapost. Tinggal di Desa Ononamolo kecamatan Mandrehe Utara kabupaten Nias Barat. Mengalami dampak buruk yang cukup pahit. Menderita kerugian 6 ekor. Sedianya 6 ekor dimaksudkan untuk tabungan persiapan pernikahan putranya. Secara berkala dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Ditambahkan oleh Kepala Desa Balohili kecamatan Umbunasi Nias Selatan, Ama Yoga Halawa. Banyak warga di desanya dan sekitar menderita kerugian. Terlebih akibat ternak yang mati mendadak. Sehingga persiapan anak untuk kebutuhan tahun ajaran baru 2020 pada kenaikan kelas dan lanjutan banyak yang terkendala. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Ganjar dan Khofifah Unggul, Anies Gagal