Kamis, 4 Juni 2026

Sikap Pemerintah atas Ex Kombatan ISIS

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Jumat, 7 Februari 2020 | 07:42 WIB
Jakarta, NAWACITA - Ada 73.000 pengungsi Ex Kombatan ISIS di kamp pengungsi. Mereka memang bukan tentara ISIS. Yang jelas tentara berada di penjara di Suriah. Umumnya mereka adalah keluarga dari pendukung ISIS. Namun pengembalian mereka ke tempat asal mereka menimbulkan kekhawatiran atas rencana besar khilafah islam untuk menyebarkan pengaruhnya ke negara lain. Tanpa dukungan AS tidak mungkin ISIS dapat melakukan itu. Antara ISIS dan AS saling memanfaatkan. AS punya kepentingan mengamankan geopolitik dan geostrategisnya, sementara ISIS ingin meluaskan pengaruh idiologinya mendirikan khilafah islam di seluruh dunia.

Anda mungkin mengerutkan kening hubungan antara AS dan ISIS. Tapi semua tahu bahwa ISIS itu terusan dari AL Qaeda yang dibentuk oleh AS. Tujuannya melawan pengaruh Rusia dan Iran. Walau AS bersama koalisi Arab, Irak, Turki, bersama dengan Rusia dan Iran mengusir ISIS di Irak dan Suriah, namun dalam perjalanannya, AS menarik diri dari Koalisi. Secara tidak langsung AS mengingkari kemitraanya dalam koalisi melawan ISIS di Suriah. Tentu keputusan itu merupakan hadiah bagi ISIS dan peluang besar untuk mengulang kejayaannya merebut Suriah dan Irak seperi tahun 2014.
Baca Juga: Gereja Kembali Didemo, Pastor Diungsikan. Negara Diminta Bertindak

Ada indikasi dua tahun setelah kehilangan wilayah terakhirnya di negara Iran, ISIS melakukan reorganisasi di Irak. Mereka bersembunyi di Pegunungan Hamrin Irak. Ini adalah pegunungan yang panjang, dan sangat sulit bagi tentara Irak untuk mengendalikan. Ada banyak tempat persembunyian dan gua. AS jelas akan memperkuat ISIS dengan senjatan dan uang. Karena As tidak ingin kehilangan asset (proxy) yang sangat berharga di Irak sejak kekalahan ISIS dan semakin menguatnya pengaruh Iran di Irak. Apalagi setelah perisitiwa pembuhunah Qasem Soleimani hubungan Iran dan Irak semakin kental dan AS semakin tersudutkan di Irak. Jadi rencana untuk menghidupkan kembali ISIS itu menjadi rasional untuk menyelamatkan perang kepentingan AS di Irak dan Suriah.

Para mereka yang berasal dari beberapa negara , yang bergabung dengan ISIS, itu bukanlah hanya sekedar terpapar radikalisime ISIS. Tetapi lebih dari itu selama mereka berada di Suriah, di pendudukan ISIS, mereka telah menerima dokrin terus menerus. Mereka juga menyaksikan dengan wajah dingin penyembelihan para musuh ISIS. Itu bukan hanya para kombatan tetapi juga keluarga mereka. Anda bisa bayangkan anak anak dan wanita yang bertahun tahun berada di wilayah konflik dengan dokrin jihadis, itu tidak mudah mengubah mereka berbelok haluan. Mereka sudah terlatih bersiasat , termasuk berbohong demi mencapai tujuannya.

Kalau mereka kembali ke tanah air, maka design intelijen mengendalikan mereka pasti terus berlanjut. Apalagi ISIS dalam reorganisasinya mendapatkan dukugan dana besar dari AS. Dana ini akan mengalir untuk membina para jihadis yang pulang ke negara asalnya. Mereka akan jadi agent penyebaran pengaruh khilafah islamiah dan sekaligus sebagai mesin pembunuh kapan saja. Jangan dianggap enteng. 600 orang yang militan itu sama dengan kekuatan 60 juta orang yang diam. Di Irak dan Suriah , tadinya ISIS hanya ratusan saja. Tetapi ratusan itu kemudian berkembang dan bisa meluluh lantakan negeri seperti Suriah dan Irak.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Terima Laporan LBH HIMNI Terkait Penghinaan Etnis Nias

Ingat peristiwa teroris di Surabaya yang melibatkan anak dan istri dalam aksi bomb bunuh diri terhadap Gereja. Aksi ini akan sangat efektif sebagai alat menekan pemerintah untuk mengikuti kebijakan geopolitik AS. Pada waktu bersamaan Partai yang memberikan dukungan kepada ISIS akan mendapatkan dana politik dari AS untuk merebut kemenangan dalam setiap pilkada dan pemilu. Agar mereka menjadi asset ( proxy) AS untuk mengamankan geostrategis AS. Seyogianya pemerintah dalam melihat persoalan pengembalian ex kombatan ISIS ini tidak hanya dari sisi kemanusiaan terhadap nasip 600 orang itu yang ada di kamp pengungsian di Suriah. Tetapi lebih dari itu adalah kemanusiaan yang adil dan beradab bagi 250 juta rakyat Indonesia.

Mayoritas rakyat Indonesia itu inginkan damai. Secara mental mereka tidak siap ribut seperti Suriah. Kalau sampai terjadi, ini akan jadi perang horisontal yang panjang dan penuh amis darah. NKRI akan pecah. Mengapa ? Selama lebih 10 tahun pemerintah gagal meredam radikalisme. Bahkan sekarang semakin pesat perkembangannya. Karena itu, suka tidak suka, selama lebih dari 10 tahun politik kita seperti api dalam sekam.Hanya butuh ledakan kecil maka akan meluas tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebaiknya para elite politik jangan menggampangkan masalah ex kombatan ISIS ini. Jangan karena politik dibawah tekanan AS lantas ragu membela 260 juta rakyat demi menyelamatkan 600 ex kombatan ISIS.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini