Jakarta, NAWACITApost.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, jejak kultural sorgum menunjukkan bahwa tanaman ini sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Ia menyebut, salah satu bukti historis itu tercantum dalam relief Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah.
"Bicara soal ketahanan pangan, bangsa kita sebetulnya sudah mengembangkan berbagai macam makanan alternatif sejak dahulu kala. Hal ini terbukti dari adanya ukiran sorgum pada relief Candi Borobudur," kata Moeldoko, dikutip Rabu (15/3/2023).
Pernyataan Moeldoko tersebut diperkuat dengan sebuah buku berjudul 'Inscriptions Reliefs mainly on Borobudur and Prambanan Translation of Indian Ramayana by Bhatti into Old Javanese' yang menyebutkan bahwa sorgum merupakan salah satu jenis makanan yang ada dalam relief candi dari abad ke-8 ini, selain tanaman padi. Hal itu juga diperkuat dalam kronik China Chu-fan-chi, sebuah rekaman tentang negeri asing dari abad ke-12-13 M yang ditulis Chau-Jou-Kua disebutkan bahwa Sho-po (Jawa) adalah tempat yang cocok untuk menyelenggarakan pertanian, hasilnya antara lain padi, serat-rami, millet, dan kacang-kacangan.
Bambang Budi Utomo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menafsirkan millet itu sebagai cantel atau sorgum, walaupun mungkin saja yang dimaksud adalah jewawut. Dalam sejumlah referensi lama, antara sorgum dan jewawut memang sering tertukar.
Telah lamanya keberadaan sorgum di Indonesia juga bisa dilacak dari penamaan tanaman ini dalam berbagai bahasa lokal. Menurut pemetaan Blench (2014), sebaran bahasa lokal sorgum bisa ditemukan di sekitar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Kepulauan Maluku. Di Jawa Tengah, tanaman sorgum dikenal sebagai cantel, di Jawa Barat sebagai gandrung, dan di kalangan Melayu, termasuk Bugis di Sulawesi dan Maluku dikenal sebagai batari.