Pahit Hidup Buat Petarung MMA Wanita Asal Ono Niha Mantili Gea Makin Gigih

0
661
Foto : Mantili Gea, Menkumham Yasonna, Legislatif Marinus Gea, Analis Kebijakan Bareskrim Polri Brigjen Pol Bahagia Dachi, Bupati Nias Selatan Hilarius Duha dan Direktur Nawacitapost Beesokhi Ndruru

Jakarta, NAWACITAPOST – Pahitnya hidup membuat seorang petarung MMA wanita asal Ono Niha Mantili Gea makin gigih. Terlebih dirinya memang akan berlaga di One Pride MMA pada (13/03/2021) pukul 22.00 WIB yang mana live disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta Indonesia. Dirinya berlaga untuk membawa nama Ono Niha khususnya Caballus Camp. Dia didampingi oleh Manajer Abenk Laoly dan Pelatih Aman Mendrofa.

Foto : Menkumham Yasonna

Tak henti – hentinya dukungan datang dari Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, Legislatif sekaligus Ketua Umum HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) Marinus Gea, Analis Kebijakan Bareskrim Polri sekaligus Ketua Umum FORNISEL (Forum Nias Selatan) Brigjen Pol Bahagia Dachi, Bupati Nias Selatan Hilarius Duha dan Direktur Nawacitapost sekaligus Ketua Umum Ono Ndruru.

BACA JUGA: Jokowi Bak Soekarno Memimpin, Banyak Negara Sinergi Kerjasama

Foto : Legislatif Marinus Gea

Oleh karenanya Mantili Gea makin gigih dalam mempersiapkan diri untuk berlaga. Dirinya pun menyempatkan waktu untuk berbincang dengan Nawacitapost pada (12/03/2021) sebelum berlaga.  Dirinya berbagi kisah pahit hidup yang sudah dia lewati. Isak tangis pun mewarnai dalam curahan hatinya. Dia pun merasa sangat bersyukur bisa mendapat dukungan penuh dari para tokoh yang menurutnya hebat dan luar biasa kiprahnya.

Foto : Analis Kebijakan Bareskrim Polri Brigjen Pol Bahagia Dachi

“Saya dibesarkan hanya dari seorang ibu. Ayah saya meninggalkan sejak usia saya 2 minggu. Ibu saya hanya bertani. Saya sering mengalami hal – hal yang pahit. Hal terpahit yang saya alami sih untuk uang sekolah benar – benar susah, apalagi jajan. Terus untuk gizi kita tidak ada, vitamin dan susu tak ada. Bahkan untuk makan saja susah,” kata Mantili.

Foto : Bupati Nias Selatan Hilarius Duha

Mantili pun mengingat masa kecilnya. “Waktu kecil sih saya suka jajan ya. Sehingga saya dengan tidak ingin merepotkan ibu, tidak ingin menyusahkan ibu, walau masih kecil, saya sudah bisa berpikir. Kalau ibarat ibu cuma sendiri banting tulang. Sedangkan saya ingin jajan gitu. Ya mau tidak mau. Untuk jajan saya harus mencari uang sendiri cari rongsokan,” imbuhnya.

Foto : Mantili Gea

“Saya ngumpulkan rongsok dari masih SD ya kalau tidak salah untuk uang jajan. Pernah dimarahi sama emak – emak. Jangan ambil disitu, nanti ada yang hilang. Padahal bukan kita yang ambil, ibarat kita yang dituduh. Sedih memang. Sering juga saya diejek orang. Kita tidak terpandang di mata orang dan tidak ada harganya,” lanjut Mantili Gea.

BACA JUGA: Belum Sah, Ibunda Mantan Pacar Kaesang Pangarep Sudah Turut Campur

Foto : Mantili Gea

Mantili juga menceritakan bahwa dirinya terlahir sebagai wanita yang kuat. “Saya juga terlahir seperti ini, bisa dibilang kecowokan, ya mungkin karena faktor saya berteman dengan anak – anak cowok. Terus masa kecil tidak ada waktu untuk bermain. Saya jadi dibesarkan dengan garis hidup yang keras. Waktu kecil dulu bantu ibu, SMP saya sudah ikut menderes. Kadang – kadang pernah juga sih nganter – nganter sawit pakai sorong gitu. Bantu – bantu apa yang bisa dikerjakan. Makan pun  kurang teratur,” katanya.

Foto : Mantili Gea

Mantili juga mengagumi sosok sang ibu. Dirinya pun selalu berusaha sedari kecil untuk membantu sang ibu. “Untuk ibu saya, saya sangat salut. Soalnya dia orang yang sangat kuat. Orang yang tegar walau dia wanita tapi dia bisa jadi tulang punggung. Saya pokoknya semampu saya di masa muda saya, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi orang sukses untuk mengangkat derajat nama baik ibu saya,” ungkapnya.

Foto : Mantili Gea

Lalu Mantili memutuskan untuk mengikuti ajang One Pride MMA di Jakarta. Berawal dari dirinya yang sempat bekerja di Cikarang. “Saya habis lulus sekolah, sempat kerja di Cikarang sekitar 1,5 tahun. Terus habis kontrak. Saya pulang kampung.  Terus sisa – sisa tabungan saya untuk membiayai saya untuk berangkat jadi petarung. Yang memang awalnya ditolak, lalu diterima. Bahkan sekarang sangat didukung. Yang selalu saya pegang adalah 1 Koriuntus 9:26. Yaitu sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul,” ungkapnya.

Foto : Mantili Gea, Pelatih Aman Mendrofa, Manajer Abenk Laoly bersama Menkumham Yasonna Laoly
Foto : Mantili Gea, Pelatih Aman Mendrofa, Manajer Abenk Laoly bersama Menkumham Yasonna Laoly

Mantili mengaku bahwa sosok yang sangat membuatnya tetap kuat dan tegar adalah sang ibu. “Saya sampai saat ini masih salut dengan ibu saya. Soalnya dia sangat hemat dalam sesuatu apapun. Ibu saya bilang tidak bisa ke pasar, tidak ada uang. Hati saya terasa miris. Apalagi kalau ingat dulu. Ibu pernah bercerita. Saking susahnya ibu saya, kalau ibu saya melihat orang ngasih makan anjing. Ibu saya malah berpikir. Sayang sekali nasi itu dikasih sama anjing. Sedangkan kami kelaparan.  Ibu saya juga selalu bilang sudah makan, padahal belum,” pungkasnya. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Dukungan Penuh Para Tokoh ke Mantili Gea, Petarung Bebas Wanita Ono Niha Kini Siap Berlaga

Foto : Laga Mantili Gea