PKI, Kebohongan Rezim Kejam Soeharto?

0
909
Foto : Keluarga Soeharto

Jakarta, NAWACITAPOST – Isu Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali kencang berhembus. Terutama saat Pilpres (Pemilihan Presiden) yang mana kandidat kuat salah satunya Joko Widodo atau Jokowi. Entah motif yang berusaha untuk disuguhkan. Dirancang sedemikian rupa. Sehingga mengingatkan sejarah panjang PKI dalam Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI/1965). Dikenal dulu sebagai cikal bakal munculnya Orde Baru. Hingga kini menjadi peristiwa misteri. Namun tokoh – tokoh di masa lalu masih ingin mengkampanyekan sejarah kelam. Yang mana nyaris memecah belah bangsa Indonesia kepada generasi milenial di era now. Para tokoh yang pernah jaya di era Orde Baru berusaha untuk “me-reborn” G30SPKI/1965. Yaitu sebagai sejarah penting yang tidak boleh terlupakan. Hanya saja yang jadi pertanyaan, bangsa Indonesia mau atau tidaknya meluruskan sejarah yang sesungguhnya. Karena dalam catatan sejarah pasca peristiwa G30SPKI/1965, para tokoh dan pimpinan militer di era Orde Lama nasibnya tragis. Yakni yang utamanya dikenal dekat dengan Bung Karno. Banyak yang diadili tanpa pendampingan dan sebagian lagi ada yang meninggal dengan tragis, dibunuh. Sehingga nuansa politisnya dalam sejarah G30SPKI/1965 sangat tinggi.

BACA JUGA: PSI Dukung Jokowi, Bukan Minta Jatah Parlemen Negeri

Foto : Soekarno, Presiden Jokowi dan Soeharto

Kala itu terbagi dua fraksi. Adalah loyalis pro Soekarno dan yang ingin mengggulingkan Presiden pertama RI (Republik Indonesia) Soekarno. Termasuk di tubuh militer juga terbelah dua. Ada kubu yang sangat loyal dengan Presiden Soekarno dan ada yang anti Bung Karno. Sehingga momentum G30SPKI/1965 menjadi titik masuk terus menekan penguasa Orde Lama. Hingga rentetannya tak lepas skenario berikutnya hingga terbitnya Super Semar atau Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Presiden Soekarno. Tak lain untuk memulihkan keamanan. Namun Super Semar justru menjadi titik balik kemenangan gerakan anti Soekarno. Namun disayangkan, uraian sejarah yang dikutip dari WorldPress agak berbeda. Sehingga ada kejanggalan. Diperlukan pengungkapan sejarahnya agar tidak bias dan bisa bersikap netral. Sejarah yang dikutip menceritakan. Kisah menjelang terjadinya penculikan dan pembunuhan terhadap Tujuh Jenderal Pahlawan Revolusi yang dikenal Pro Soekarno. Diantaranya Menteri dan Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani yang sepanjang hidupnya sangat dikenal loyalis terhadap Bung Karno. Letnan Jenderal Anumerta Suprapto, Letnan Jenderal Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan, Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo dan anggota TNI serta Polri lain. Seperti AIP Karel Satsuit Tubuun, Kapten Pierre Tendean dan Kolonel Sugiono.

BACA JUGA: Gatot Nurmantyo Tak Konsisten, Nyapres 2024?

Foto : Pasukan dalam peristiwa G30SPKI/1965

Gugurnya tujuh jenderal TNI saat G30SPKI/1965 membuat Bung Karno terpukul dan seakan tak percaya. Jenderal – jenderal loyalisnya dibantai. Kesedihan Soekarno atas gugurnya tujuh jenderal TNI korban G30SPKI/1965 diungkap. Yaitu dalam buku bertajuk ‘Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno’. Penerbitnya adalah Buku Kompas 2014. Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik. Khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang sangat disayangi, Nasib perwira pertama belum diketahui, Soekarno memerintahkan untuk mencari tahu nasib. Pada 2 Oktober 1965, Soekarno telah memanggil semua Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan para pejabat penting lainnya. Bermaksud segera menyelesaikan persoalan G30SPKI/1965. Pada tanggal 3 Oktober 1965 pagi, Maulwi (pengawal pribadi Bung Karno) dan Wakil Komandan pasukan Tjakrabirawa menghadap Presiden Soekarno menyampaikan laporan. Yang mana tentang perkembangan terakhir termasuk penemuan seorang agen polisi. Setelah mempelajari keterangan seorang agen polisi yang bernama Sukitman, Maulwi bersama Letnan Kolonel Ali Ebram dan Sersan Udara PGT Poniran menumpang Jip Toyota no. 2 berangkat menuju Halim Perdanakusuma. Sekadar informasi, ternyata sewaktu penculikan para jenderal 1 Oktober 1965, Sukitman sedang bertugas. Ikut dibawa ke Lubang Buaya, akhirnya ditemukan oleh patroli Tjakrabirawa. Terlebih dahulu melapor dan bertemu dengan Kolonel AU/PNB Tjokro, perwira piket Halim Perdanakusuma. Dibantu seorang anggota TNI AU berpangkat letnan muda penerbang. Mencari lokasi yang diceritakan oleh agen polisi. Jip Toyota selalu membawa satu set generator listrik berkekuatan 1 PK yang sewaktu – waktu dapat digunakan.  Karena arus listrik sering mati hidup. Menemukan sebuah rumah atau pondok kecil di Lubang Buaya yang didekatnya terdapat sebuah pohon besar. Dilakukan pencarian di sekitarnya. Ditemukan sebidang tanah yang sudah tidak digunakan. Akan tetapi terlihat tanda mencurigakan seperti baru dipakai.

BACA JUGA: PNS Melarat, Rezim Kejam Idealisman Dachi?

Foto : Pasukan dimasukkan ke dalam Lubang Buaya

Terlihat ada tumpukan dedaunan dikorek – korek. Terlihat pula permukaan sebuah sumur tua. Karena tidak memiliki peralatan untuk menggali tanah, meminta bantuan warga sekitar untuk menggali sumur. Tak berapa lama, muncul pasukan RPKAD dipimpin Mayor C.I. Santoso dengan membawa agen polisi Sukitman sebagai petunjuk jalan. Ikut pula ajudan Jenderal Ahmad Yani, Kapten CPM Subardi. Setelah mendapat penjelasan dan dicocokkan dengan keterangan agen polisi. Penggalian sulit dilakukan karena lubang sumur hanya pas untuk satu orang. Proses penggalian memakan waktu lama. Hari mulai gelap, belum ditemukan tanda – tanda yang mencurigakan. Generator milik Tjakrabirawa dihidupkan untuk menerangi proses penggalian. Lewat tengah malam mulai tercium bau tak sedap. Setelah penggalian cukup dalam dan terus digali, akhirnya ditemukan sebuah tangan. Penggalian dihentikan sementara karena orang – orang tidak tahan dengan bau yang keluar dari sumur. Setelah berunding dengan C.I. Santoso, disepakati untuk melaporkan kepada Pangkostrad Mayjen Jenderal Soeharto guna instruksi selanjutnya. Penggalian selanjutnya diperlukan tenaga dan peralatan khusus. Misalnya masker dan tabung oksigen seperti yang dimiliki pasukan katak KKO. Saat itu sudah pukul 03.00 WIB dini hari. Rombongan Maulwi pulang untuk Salat Subuh dan istirahat karena mulai merasa flu. Selanjutnya, diperintahkan Letnan Kolonel Marokeh Santoso, Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa. Tak lain untuk menggantikan dan mewakilinya. Jadi, tidak benar berita yang mengatakan bahwa Presiden Soekarno mengetahui peristiwa penculikan G30SPKI/1965. Tidak pernah ada perintah Presiden untuk menghilangkan jejak para jenderal yang diculik. Dinyatakan oleh Putra Dewangga Candra Seta.

BACA JUGA: Deklarasi KAMI Gatot, Diusir dari Bumi Surabaya

Foto : Soeharto menghadiri pemakaman jenderal yang tewas 30 September 1965

Sementara, ada kisah beberapa hari dan jam menjelang peristiwa G30SPKI/1965 dari Kapten Soekarbi. Yang mana merupakan salah satu prajurit yang ditugasi mengamankan kota Jakarta. Setelah persiapan, pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu 25,26 dan 27 September. Pada 28 September pasukan diakomodasikan di kebun Jeruk bersama dengan Yon 454 dan Yon 328. 30 September seluruh pasukan melakukan latihan upacara. Pukul 19.00 WIB semua Dan Ton dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530, Mayor Bambang Soepono. Dalam briefing disebutkan bahwa Jakarta dalam keadaan gawat. Ada kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah. Briefing berakhir pada pukul 00.00 WIB. Pukul 02.00 WIB, 1 Oktober, Kapten Soekarbi memimpin sisa Yon 530 menuju Monas. Di kompleks Monas, berkedudukan di depan istana. Karena kedudukan dekat Makostrad, pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil. Karena tidak ada teguran dari Kostrad, berarti Kostrad tahu bahwa ada disana. Pukul 07.30 WIB Kapten Soekarbi melapor pada Soeharto tentang keadaan Jakarta yang gawat. Kemudian juga adanya isu Dewan Jenderal. Namun Soeharto menyangkal berita. Kapten Soekarbi sendiri mengaku tidak mengetahui terjadinya penculikan para Jenderal. Dia tetap merasa aman karena Pangkostrad Soeharto telah menjamin keadaan.

BACA JUGA: Tommy Soeharto Menggugat, Yasonna Yakin Sudah Benar

Foto : Soekarno dan Soeharto

Namun dia berpendapat bahwa Soeharto pasti lah tahu tragedi penculikan para Jenderal. Karena pada 25 September Kolonel Latief telah memberikan masukan tentang keadaan yang cukup genting kepada Soeharto. Jadi sebenarnya mustahil apabila Soeharto tidak mengetahui tragedi. Yang patut dipertanyakan lagi adalah sebab Soeharto tidak melakukan pencegahan terjadinya tragedi. Yang mana sedang mempersiapkan HUT ABRI. Kostradlah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara. Jadi semua pasukan di Jakarta berada di bawah kendali Kostrad. Semestinya Soeharto bisa memerintahkan pasukan untuk mencegahnya. Dalam cerita versi Soeharto dan Orde Baru disebutkan. Terdapat pasukan liar di sekitar Monas. Kesaksian Kapten Soekarbi juga mematahkan pernyataan. Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada Kapten Soekarbi untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta. Tentunya dia mengenali pasukan yang berada di Monas. Kostrad pun mengetahui kehadiran Yon 530. Namun pada kenyataannya Soeharto membiarkan pernyataan. Yang mana mengatakan bahwa terdapat pasukan liar. Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan Soeharto. Adalah pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief saat menjenguk anaknya, Tommy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dalam versinya dia mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal, anaknya dirawat. Namun kejadian yang sebenarnya adalah sempat berbincang – bincang.

BACA JUGA: Susunan Kepengurusan 2020 – 2025 DPP Partai Gerindra, Ada yang Diragukan

Foto : Soekarno bersama istri dan Soeharto bersama istri

Tapi dari hasil wawancara Soeharto dengan seorang wartawan Amerika mengatakan. Kini menjadi jelas bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk menengok anaknya. Melainkan sebenarnya untuk mengecek dirinya. Rupanya dia hendak membuktikan kebenaran berita, sekitar sakitnya anaknya. Sedangkan dalam majalah Der Spiegel (Jerman Barat) Soeharto berkata. Kira – kira pukul 23.00 WIB Kolonel Latief dan komplotannya datang ke rumah sakit untuk membunuhnya. Akan tetapi tampaknya dia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum. Dengan demikian ada tiga versi yang dikeluarkan oleh Soeharto sendiri tentang pertemuannya dengan Kolonel Latief. Tentunya sangat lah memancing kecurigaan. Soeharto hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya. Drama dan skenario adegan penyiksaan keenam jenderal dalam penyajian film G30SPKI/1965. Ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita versi Soeharto. Serka Bungkus adalah anggota Resimen Cakrabirawa. Pada saat itu dia mendapat tugas menjemput M.T. Haryono. Dia turut menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya. Dia menyatakan. Proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui proses penyiksaan seperti pada film G30SPKI/1965. Satu persatu Jenderal dibawa. Kemudian duduk di pinggir lubang. Setelahnya ditembak. Lantas masuk ke dalam Lubang. Serka Bungkus mengetahui adanya visum dari dokter. Yang mana menyatakan tidak ada tindak penganiayaan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Keluarga Soeharto

Namun sepengetahuannya Soeharto melarang mengumumkannya. Memang pada saat dilakukan visum ada mayat dengan kondisi bola matanya lepas. Tapi demikian terjadi karena sudah lebih dari tiga hari terendam. Bukan karena dicongkel paksa. Tepatnya di sekitar tulang mata pun tidak ada bagian yang tergores. Tentu tidak dapat menduga tujuan dan motif Soeharto menyembunyikan hasil visum. Namun dia terkesan ingin memperparah citra PKI. Agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang tragedi semakin kuat. Kebencian masyarakat pada PKI pun akan memuncak dengan melihatnya. Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi adalah banyaknya orang – orang yang dituduh mendukung PKI. Akhirnya dijebloskan ke penjara. Diantaranya adalah Kolonel Latief, Letkol Heru Atmodjo, Kapten Soekarbi, Laksda Omar Dani, Mayjen Mursyid dan masih banyak lagi. Kebanyakan ditahan tanpa melalui proses peradilan. Orang – orang tersebut kebanyakan mengetahui hal sebenarnya yang terjadi. Seperti contohnya Kapten Soekarbi. Dia ditahan setelah membuat laporan tentang kejadian yang dia alami pada 30 September dan 1 Oktober 1965. Penahanan tanpa proses peradilan dapat disinyalir sebagai sebuah upaya yang dilakukan Soeharto. Agar saksi – saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada khalayak. Ketakutan yang dialami Soeharto tentu justru semakin memperkuat anggapan. Bahwa dialah dalang di balik peristiwa G30SPKI/1965. Jadi bisa dikatakan, PKI, kebohongan rezim kejam Soeharto? (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Pangeran Cendana, Gurita Menuju Gelandangan