PSI Dukung Jokowi, Bukan Minta Jatah Parlemen Negeri

0
364
Foto : Grace Natalie bersama Presiden Jokowi

Jakarta, NAWACITAPOST – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sedari awal mendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Bukan berarti minta jatah mengisi parlemen negeri. Namun PSI memang menilai Jokowi adalah kandidat yang terbaik dari lainnya. Bahkan PSI pun tidak sembarang dalam merekrut. Terutama merekrut bagi pengurus, kader dan anggota. PSI tengah disibukkan dalam merapikan struktur dan membuat aplikasi online. Aplikasi online nantinya diperuntukkan untuk anggota legislatif (DPR atau DPRD) kader PSI sebagai laporan. Para anggota legislatif bisa melaporkan segala kegiatannya melalui aplikasi. Yang mana melakukan kunjungan kerja (kunker), perjalanan dinas keluar kota dan keluar negeri. PSI memang berkomitmen membatasi perjalanan dinas dan kunker anggota legislatif kadernya. Bertujuan untuk memilah tujuan perjalananya. Benar atau tidaknya untuk keperluan negeri. Aplikasi sedang proses dirancang sedemikian sesuai kebutuhan. PSI yang diketuai Grace Natalie ingin memberikan perubahan dalam dinamika politik.

BACA JUGA: Korban Janji Palsu Program Pendidikan Gratis di Nias Selatan Tidak Jelas

Foto : Wakil Menteri ATRBPN Surya Tjandra

Grace Natalie menyampaikan pada Juli 2020. PSI tidak sembarang dalam merekrut. Terbukti dengan masuknya salah satu kader menjadi Wakil Menteri ATRBPN dan Staf Khusus bidang hukum dan bisnis. Seperti diketahui Wakil Menteri ATRBPN adalah Surya Tjandra. PSI merasa terhormat dan bangga. Surya Tjandra adalah salah seorang kader terbaik PSI. Sosok yang cerdas dan berintegritas. Menyakini akan mampu berkontribusi besar di posisi wakil menteri. Pernah lama aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Punya sensitivitas yang tinggi dengan isu kemiskinan dan ketidakadilan. Kepeduliannya pada rakyat tak perlu diragukan lagi. Mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan di bidang hukum untuk program S2 di Universitas Warwick, Inggris dan S3 di Universitas Leiden, Belanda. Rekam jejaknya merupakan paket komplit. Sisi lain, PSI juga masih memberikan luas peluang panggung anak – anak muda lainnya. Masih terus mencari bibit penerus yang punya value sebagai pengganti para senior. Memberi kesempatan grooming. Sehingga nanti dalam mencari generasi pengganti tidak kesulitan.

BACA JUGA: Pangeran Cendana, Gurita Menuju Gelandangan

Foto : Grace Natalie dan Tsamara Amany

Mungkin memang banyak yang belum tahu dan percaya terhadap PSI. Bisa jadi kelemahan, namun di sisi lainnya bisa jadi kekuatan. PSI bertindak lebih sustainable (keberlanjutan kemampuan). Disatukan dalam concern, kecintaan dan nilai. Sehingga bisa sehat demokrasi. Tidak cukup capital social saja. PSI sangat memperhatikan efektivitas bekerja. PSI harus bisa berusaha menciptakan momentum. Agar ada perubahan politik. Diperlukan no see the cover atau bungkus luar, tetapi subtansi orangnya. Siapapun bisa mengerjakan dan kinerjanya baik, sekalipun dari suku dan agama minoritas. Sebab nantinya dievaluasi dari hasil yang baik. Maka bisa diberikan kepercayaan. Tidak berpatokan pada punya uang dan darah biru. PSI pun senantiasa bergerak bantu sesama. Bantu masyarakat yang terdampak Covid 19 utamanya. Membagi APD (Alat Pelindung Diri) dan sembako misalnya sampai ke daerah terpencil. Kemudian juga penyemprotan desinfektan juga dilakukan. Diantaranya di Papua, Mamasa, Maluku, Sumatera dan sebagainya. PSI juga mengawali anggota dewan bersedia dipotong gajinya untuk berbagi kasih. Diberikan kepada 175 kabupaten dan atau kota. Memang berusaha value diperjuangkan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : PSI bantu sesama

Perlu diketahui, memang menjadi anggota legislative harus mendapat dukungan partai politik. Tidak gampang. Namun PSI berusaha mengedukasi pentingnya berbagi dan rela. Meskipun memang dukungan partai tidak gratis. Calon legislatif atau kepala daerah yang ingin maju ke ajang pemilihan harus menyiapkan dana. Tak lain dengan besaran tertentu sesuai permintaan partai. Bahkan ada dana yang harus dikeluarkan para calon sebagai bayaran bertemu dengan para petinggi partai yang bersangkutan. Belum lagi ada dana kontribusi yang diberikan ke partai. Memang tidak ada bukti tertera eksplisit biaya tiket partai. Tapi rata – rata calon harus mengeluarkan uang. Untuk sekadar bisa bertemu dengan petinggi partai sudah harus keluar uang, kontribusi dan sebagainya. Yang membuat cukup miris, kadang tidak berarti kalau punya uang, membeli dukungan partai sudah pasti didukung partai. Terkadang yang terjadi adalah uang sudah diserahkan tapi dukungan tidak diberikan. Jadi barrier of entrynya sangat besar. Dengan kondisi demikian sudah pasti orang yang maju adalah orang yang memang punya kemampuan finansial, atau tekad 45 lalu fundrising di belakang. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Adriel Lahagu, Bayi Penderita Kanker Butuh Uluran Tangan Kasih