Najwa Shihab Terkesan Provokasi, Antek Orde Baru?

0
563
Foto : Lieus Sungkharisma, Najwa Shihab, Tommy Soeharto, dan Ichsanuddin Noorsy.

Jakarta, NAWACITAPOST – Tayangan salah satu program yang dibawakan oleh Najwa Shihab atau Nana rupanya menjadi viral. Yakni ketika tanya jawab Najwa Shihab dengan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan atau disapa Luhut. Tepatnya yang diunggah ke Youtube pada 24 September 2020. Pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan Najwa Shihab bernada tidak mengenakkan. Bahkan membuat Luhut protes ketika dirinya sedang memberikan penjelasan, dipotong. Belum tuntas menjelaskan. Kemudian juga ada penjelasan yang diiringi dengan video kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah daerah. Diantaranya proses Gibran Rakabuming Raka, calon walikota Solo yang sedang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Namun, mengherankan. Video menyoroti mendalam anak Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Entah sepertinya ada motif tersembunyi. Luhut pun melontarkan kata ke Nana. Jangan marah. Seperti ini memprovokasi lewat gambar – gambar. Rasanya tidak perlu. Namun justru Nana seolah membela diri. Bahwasanya demikian adalah fakta di lapangan. Presiden Jokowi lebih memahami situasi kondisi. Bahkan sudah memberikan saran ke Jokowi, kampanye mendatang bisa melalui daring.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Najwa Shihab dan Menko Maritim Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Rupanya ada kecenderungan topik tertentu. Ketika Luhut menyindir tokoh – tokoh politik, justru dialihkan kembali ke Pilkada. Padahal Luhut memberikan himbauan yang baik. Yaitu agar menahan birahi politiknya dan tidak mengumpulkan massa. Mampu mengontrol birahi kekuasaan. Jangan berkerumun. Nana langsung memberikan pertanyaan, birahi politik yang dimaksud Luhut adalah deklarasi KAMI di Magelang atau bukan. Namun, Nana kemudian malah mengarahkan ke Pilkada lagi. Tidak fokus penjelasan deklarasi yang sama – sama juga mengumpulkan massa. Dianggap melanggar protokol kesehatan Covid 19. Padahal Luhut sempat menyebutkan. Janganlah berdemo dulu untuk sekarang. Sebelumnya pun Nana pernah membuat narasi bernada cukup pedas mengenai Tuan Puan. Kemudian juga menyindir Jokowi menanyakan soal bedanya pulang kampung dan mudik. Bahkan menjadi viral di masyarakat. Pertanyaan – pertanyaan seolah ingin menyudutkan langkah – langkah Jokowi terutama dalam Covid 19.

BACA JUGA: Berkoar Tuan Puan, Najwa Shihab Benar Tuluskah ?

Foto : Presiden Jokowi dan Najwa Shihab

Namun, ada hal yang perlu diketahui. Nana pernah merasa fotonya diframing sebagai antek Orba. Yaitu foto Nana bersama Tommy Soeharto, Lieus Sungkharisma dan Ichsanuddin Noorsy. Padahal hanya sekadar mengundang sebagai bintang tamu. Lalu Nana berusaha menjelaskan foto bersama putra Presiden ke-2 RI Soeharto diambil pada 22 November 2017. Mengundang untuk hadir sebagai bintang tamu dalam program tayangannya. Kemudian ditayangkan 11 Juli 2018. Tidak sama penjelasan dengan Lieus pada 22 November 2017. Dalam pertemuan membicarakan banyak hal tentang situasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diantaranya seperti mencari ruang bagi upaya pemberdayaan ekonomi rakyat, hingga langkah – langkah bersama dalam rangka pemberdayaan umat. Bahkan berharap pertemuan menjadi langkah awal dalam mewujudkan cita – cita bersama. Akan ada tindak lanjut dalam pertemuan. Sama – sama hadir dalam pertemuan. Namun klarifikasi berbeda. Ada kecenderungan tanda tanya besar.

BACA JUGA: Usai Tuan Puan Viral, Jurnalis Narasi TV Milik Najwa Shihab Kini Terancam Hukum Penghinaan Kemenkes

Foto : Klarifikasi Najwa Shihab terkait foto

Lantas Nana pun melanjutkan penjelasan. Jangan mengaitkan dengan keluarga. Namun perlu diketahui. Bahwa dalam silsilah keluarga Nana, ayahnya Quraish Shihab pernah menjadi Menteri era Orba. Lalu berlanjut klarifikasi Nana, judul yang diangkat untuk kehadiran Tommy Soeharto sebagai bintang tamu programnya. Berjudul Siapa Rindu Soeharto. Terlihat dari judul pun, tidak ada terkesan provokasi. Tidak seperti tanya jawab dengan Jokowi atau Menteri Jokowi. Bernada melontarkan pertanyaan pun terkesan berbeda. Ketika tanya jawab dengan Tommy Soeharto, santai dan tidak begitu menggebu. Namun ketika tanya jawab terhadap Jokowi dan Menterinya justru terkesan menggebu dan bernada cukup pedas. Bahkan salah satu Menteri Jokowi mengatakan jangan provokasi. Jangan sok pahlawan dan paling bersih. Keadaan sekarang bicara kemanusiaan. Katanya beragama, dipertanyakan tanggung jawab moral kepada rakyat Indonesia. Bisa direnungkan. Lantas Nana berarti terkesan provokasi, antek Orde Baru (Orba)? (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Pangeran Cendana, Gurita Menuju Gelandangan

 

 

 

 

 

.