Ahok Buktikan Capaian Kinerja Pertamina, Bungkam Kelompok Sebelah dengan Data

0
352
Foto : Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok

Jakarta, NAWACITAPOST – Saat diumumkan PT. Pertamina rugi, seolah kelompok sebelah ada angin segar untuk menyerang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bahkan ada kader partai munafik yang meminta Ahok segera dipecat. Tapi justru data pun mampu bicara. PT. Pertamina yang dipimpin Komisaris Ahok tercatat rugi bersih sebesar 767,92 juta dollar AS atau setara Rp 11,13 triliun pada semester 1 2020. Kerugian disebutkan terjadi akibat penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM (Bahan Bakar MInyak) di dalam negeri dan pergerakan nilai tukar dollar AS yang berdampak pada rupiah. British Petroleum atau BP (perusahaan raksasa minyak asal Inggris) rugi sebesar US$ 16,85 miliar atau setara Rp 247,2 triliun pada kuartal II 2020. Rugi karena harga minyak anjlok selama pandemi virus Corona. Pada periode yang sama tahun lalu, BP untung bersih sebesar US$ 1,82 miliar. BP akan memangkas 10.000 pekerjaan, atau 15 persen dari tenaga kerja global. Selanjutnya Royal Dutch Shell, perusahaan minyak asal Inggris – Belanda juga mengalami kerugian sebesar US$ 18,1 miliar setara Rp 262,45 triliun pada kuartal II 2020. Periode yang sama tahun sebelumnya, mendapat laba bersih mencapai US$ 3 miliar atau Rp 43,5 triliun. Kerugian terjadi karena jatuhnya harga minyak mentah dunia akibat tekanan ekonomi di tengah pandemi Corona. Berikutnya Exxon Mobil dan Chevron juga merilis laporan keuangannya di kuartal II 2020. Kedua perusahaan minyak raksasa dunia juga mengalami kerugian akibat pandemi Corona. Yang mana telah menghancurkan ekonomi global. Karena wabah Corona, terjadi penurunan permintaan minyak sepanjang tahun 2020. Exxon mengalami kerugian sebesar US$ 1,1 miliar atau setara Rp 16 triliun. Pada kuartal I 2020 juga mengalami kerugian. Sementara, Chevron juga mengalami kerugian sebesar US$ 8,3 miliar atau setara Rp 121 triliun.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Ahok bersama Presiden Jokowi

Rata – rata perusahaan mengalami kesulitan ekonomi di kala pandemi Corona. Jadi bukanlah Pertamina saja yang mengalami kerugian. Sebenarnya sudah bisa diprediksi ketika harga minyak dunia sempat jatuh dibawah harga US$ 0. Harga minus saking rendahnya permintaan minyak. Banyak negara yang dilockdown. Orang – orang lebih banyak berdiam diri didalam rumah. Sehingga konsumsi minta turun drastis. Namun, kemudian usai perlahan pandemi Corona berlalu, situasi kondisi mulai mengalami masa transisi. Termasuk mengenai perkembangan didalam Pertamina. VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengaku. Penurunan pendapatan Pertamina yang signifikan terjadi pada Maret – Mei 2020. Saat itu laba mengalami penekanan. Pertamina berangsur mengalami kerugian bersih rata – rata 500 juta dollar AS perbulannya. Lantas Pertamina bangkit dari keterpurukan. Pertamina telah berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek. Baik operasional maupun finansial. Sehingga laba bersih pun beranjak naik. Tepatnya sejak Mei hingga Juli 2020 dengan rata – rata sebesar 350 juta dollar AS setiap bulannya. Pencapaian positif akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat. Selain itu, kinerja Laba Operasi dan EBITDA atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi juga tetap positif. Sehingga secara kumulatif dari Januari hingga Juli 2020 mencapai 1,26 miliar dollar AS dan EBITDA sebesar 3,48 miliar dollar AS. Menunjukkan bahwa secara operasional Pertamina tetap berjalan baik. Termasuk komitmen Pertamina untuk menjalankan penugasan dalam distribusi BBM dan LPG ke seluruh pelosok negeri. Menuntaskan proyek strategis nasional seperti pembangunan kilang. Upaya – upaya yang dilakukan Pertamina guna meningkatkan kinerja pun dilakukan. Diantaranya efisiensi belanja operasional (opex) dengan memotong anggaran hingga 30 persen. Melakukan prioritas belanja modal (capex) dengan sangat selektif hingga bisa lebih efisien 23 persen. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Ketok Palu Tuhan, Permalukan Pembenci Ahok