Pasangan Pendatang Baru Pilkada 2020 Kepulauan Nias Diprediksi Sulit Menang

0
576
Foto : Otoli Zebua, Faigiziduhu Ndruru dan Beesokhi Ndruru

Jakarta, NAWACITAPOST – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di Kepulauan Nias sepertinya bakal ajang menantang. Atmosfer sengit sekiranya bakal menyelimuti. Lantaran akan ada pasangan pendatang baru. Pendatang baru merangkak dari bawah dan belum berpengalaman. Diprediksi sulit menang. Pendatang baru tentunya sebelumnya belum pernah terjun langsung menghadapi perpolitikan. Diungkapkan oleh Denny JA pada 27 Juni 2018. Ada tiga hal penting yang diutamakan. Sementara ada tiga aspek yang cenderung perlu diperhatikan. Diantaranya kantong besar, pesona tokoh dan mesin partai politik. Soal kantong besar, setiap calon kepala daerah harus bisa menguasai lumbung suara. Calon yang mempunyai pesona bisa memperoleh suara tinggi. Pesona seorang tokoh mempesona statistik dikenal dan disukai. Terlebih memang mesin partai politik bekerja dalam dua minggu terakhir menjelang pencoblosan Pilkada serentak. Imigrasi suara masif di Indonesia yang mana loyalitas suara untuk tokoh kecil sekali. Mayoritas pemilih mengambang kedekatan tokoh tergantung isu. Kemudian dijelaskan pula Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr. Ibrahim pada 13 Februari 2020. Bahwasanya banyak hal jadi pertimbangan kepala daerah dalam Pilkada. Pilkada adalah seni. Seni memainkan irama gerakan politik, berkomunikasi, mengatur kelemahan dan kekuatan, serta seni membangun citra dan opini. Karenanya setiap lokus menjelaskan kondisi yang berbeda.

BACA JUGA: Mahfud MD Gentle, Amien Rais Curang Sepertinya Tidak Deliver

Foto : Ilustrasi

Keterkaitan popular dengan Pilkada begitu erat. Populer memang menjadi nilai tambah bagi seorang kandidat. Elektabilitas menambah kepercayaan diri kandidat untuk menang. Salah satu model yang dikenal dalam hubungan survei dan perilaku pemilih adalah efek bandwagon. Argumen akan berorientasi dalam efek bandwagon. Yakni seorang pemilih akan cenderung memilih seorang kandidat atau partai politik yang mana diopinikan akan memenangkan pemilu. Pemilih cenderung mengikuti pendapat mayoritas. Meskipun memang tak semua kandidat yang diopinikan menang akan keluar sebagai pemenang pemilu. Hasil poling yang dilakukan pra pemilu bisa mempengaruhi keputusan seorang pemilih. Kemenangan dalam poling bisa menghadirkan kemenangan sungguhan di hari pencoblosan. Atau bisa dikatakan menjadi self-fulfilling prophecy. Namun, tak selamanya demikian. Menunjukkan bahwa sosok seorang kandidat tak melulu dapat menjadi jaminan dalam memenangkan pemilu. Diperlukan kredibilitas kandidat, program kerja kandidat dan partai politik.

BACA JUGA: Indonesia Makin Mesra dengan China, Bisa Saja Rupiah Bikin Anjlok Dollar Amerika

Foto : Ilustrasi teka teki Pilkada

Ketertarikan akan pendatang baru dalam Pilkada serentak bulan Desember 2020 nanti, Otoli Zebua selaku masyarakat angkat bicara. Memang dirinya merupakan salah satu masyarakat berdarah Nias. Baginya terasa mengairahkan demokrasi di Indonesia. Masyarakat kembali memilih kepala daerah tingkat propinsi dan kabupaten dan atau kota. Ada tiga kategori para calon yang mau maju. Mantan, incumbent dan pendatang baru. Kalau diperhatikan untuk pendatang baru, hal yang menarik adalah belum punya pengalaman menjadi kepala daerah. Masyarakat juga belum tahu kemampuan pasangan calon kepala daerah memimpin wilayah. Masyarakat hanya bisa menilai dari latar belakang dan visi misi. Khusus pendatang baru, punya kelebihan bisa melihat titik lemah pemimpin sebelumnya. Biasanya mulai membangun narasi untuk meyakinkan bahwa lebih baik. Semua tentunya bisa menjadi pemilih yang harus beri kesempatan kepada pendatang baru. Tentunya untuk bisa menyampaikan visi misinya. Yang mana nantinya akan dinilai oleh masyarakat. Terlebih kemampuan meyakinkan pemilih penting untuk diperhatikan. Meskipun tidak selalu demikian akan menghasilkan kemenangan. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?