BACA JUGA: Ulang Tahun Menko PMK Muhadjir Effendy, Nawacitapost Serahkan Cinderamata
Foto : Soeharto dan Kawilarang
19 April, Brigade Mataram berangkat dari Jawa menggunakan kapal Waiwerang. 24 April, Soeharto bertemu lagi dengan Kawilarang di kapal perang KRI Hang Tuah Tepatnya di sekitar Pulau De Bril. Rencana berubah. Brigade Mataram yang semula hendak mendarat di Bantaeng justru berlabuh di Makassar pada 26 April. Pasukannya kemudian menyebar di sekitar Makassar, Jeneponto, dan Gunung Lompobattang. Saat operasi inilah Soeharto mulai kenal dengan keluarga BJ. Habibie. Bentrokan dengan sisa - sisa KNIL menghebat di bulan Agustus. Sementara Kolonel Kawilarang sedang berada di Jakarta. 7 Agustus Kawilarang datang ke Makassar dan langsung turun ke lapangan. Dikatakan oleh Kawilarang dalam autobiografinya : A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih (1988:212). Letnan Kolonel Soeharto sedang memeriksa front. TNI berhasil mematahkan perlawanan sisa - sisa KNIL yang akhirnya mengajak berdamai. Kemudian dikatakan Soeharto dalam autobiografinya. Kolonel Kawilarang membawa kabar tentang kesungguhan maksud orang - orang KNIL atau KL untuk meminta damai.
BACA JUGA: Muhadjir Effendy, Berawal Penulis dan Wartawan Hantarkan Jadi Menteri
-
Meski Soeharto dan Kawilarang sama - sama mantan KNIL. Akan tetapi padangan keduanya berbeda. Soeharto menilai sisa - sisa KNIL tak dapat dipercaya. Sementara Kawilarang sebaliknya. Karena pangkat Kawilarang lebih tinggi, maka keputusannya yang diambil. TNI dan sisa - sisa KNIL pun kemudian berunding. Hasilnya KNIL harus keluar dari Makassar. Setelah pemberontakan Andi Azis dipadamkan. Lantas beredar cerita sempat terjadi insiden antara Soeharto dengan Kawilarang di Pelabuhan Makassar. Konon, ada penyelundupan sejumlah mobil dari Makassar ke Jawa. Yang mana melibatkan Soeharto. Sehingga Kawilarang menempelengnya. Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat (2002:310) pernah menanyakan langsung kepada Kawilarang. Namun, Alex tidak mengiyakan pertanyaannya, tidak pula menyangkalnya. Dia hanya tersenyum. Cerita lain tentang Kawilarang yang menempeleng Soeharto disampaikan Sjahrir yang biasa dipanggil Ciil. Yakni dalam sebuah tulisan yang terbit sehari setelah Kawilarang wafat. Dalam tulisannya disebutkan. Bahwa ketika berada di Jakarta, Kawilarang menerima radiogram yang disodorkan Sukarno. Isinya adalah pasukan KNIL telah menduduki Makassar. Padahal dirinya hendak mengabarkan kepada presiden tentang Makasssar yang terkendali.
BACA JUGA: Pilkada Pernah Dimenangkan Kotak Kosong di Indonesia, Jusuf Kalla Tolak Demokrasi?
-
Brigade Mataram pimpinan Soeharto yang ditugaskan mempertahankan Makassar telah mundur. Tepatnya ke lapangan udara Mandai. Begitu sampai di Makassar, Alex langsung memarahi Letkol Soeharto sambil menempeleng Soeharto. Dianggap sirkus yang entah tidak tahu wujudnya. Menurut David Jenkins dalam Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975-1983 (1984). M. Jusuf yang masih kapten berada disana ketika Kawilarang menempeleng Soeharto. Namun pada warsa 1980an, Kawilarang membantah dirinya memukul Soeharto. Sejumlah orang di kalangan militer juga membantah. Meragukan ada Kolonel yang menempeleng Letnan Kolonel. Setelah operasi militer di Makassar dan Ambon, Kawilarang pernah jadi Panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Barat. Di masa tugasnya, mempersiapkan pembentukan pasukan khusus. Kelak menjadi Kopassus untuk melawan DI/TII. Kemudian karir militer Kawilarang terhenti setelah ikut Permesta yang menyerah pada 1961. Soeharto justru mulai bersinar dengan dijadikan Panglima Komando Pembebasa Irian Barat. Lalu menjadi Panglima Komando Tjadangan Angkatan Darat (Kostrad). Sesudah tak aktif di militer, Kawilarang tak mau terlibat atau berbicara tentang politik. Bahkan dilontarkan tanpa alasan lebih jauh. Dituliskan kepada media pada 24 Juli 1971. Hanya ingin bicara tentang kuda peliharaannya. Kawilarang yang pernah tinggal di Jalan Situbondo 8 wafat pada 6 juni 2000. Mendahului Soeharto yang baru tutup usia delapan tahun kemudian. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?