BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Ilustrasi khilafah
Lucunya fenomena muallaf belakangan. Si muallaf seharusnya belajar, malah didaulat untuk mengajar. Kemudian disebut ustadz, yang kalau diartikan bermakna pendidik atau pengajar. Disayangkan si muallaf mau - mau saja. Bukannya merasa rendah diri. Bilang ‘maaf saya harus banyak belajar’. Justru malah dengan tinggi hati mengambil podium dan kursi. Lalu mengajarkan pelajaran, yang mana seharusnya banyak belajar. Menjelek – jelekkan sepertinya bahan jualan. Layaknya mempromosikan sebuah agama yang mana pantas dianut. Bisa dikatakan harus jualan kejelekan – kejelakan. Karena memang tidak ada ilmu yang bisa diajarkan. Pasti ada yang beli karena bad news is a good news. Sindiran menohok tentunya ditujukan untuk orang - orang seperti Felix Siauw, Jonru dan ustadz muallaf yang ngaku dibayar 1 milyar jika kembali Kristen. Sejatinya yang merusak kesucian agama Islam. Pengikutnya yang dangkal agama cepat terpesona. Karena lihat pakaian dan hafalan kitab suci yang nyatanya salah semua. Salah satunya Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Ishomuddin yang menyindir bacaan kitab suci Felix Siauw. Kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang sangat fatal.
BACA JUGA: Makan Siang dan Arahan Menkumham Yasonna Laoly kepada Manajemen Nawacitapost
-
Para ustadz muallaf kebanyakan menggaungkan ideologi kekhilafahan. Tak lain hanya untuk kepentingan politik semata. Sambil menumpang nama agama. Hendak mengambil alih kekuasaan. Tak peduli punya keahlian bidang pemerintah, ekonomi, kesehatan dan lainnya atau tidak. Asal bajunya terlihat agamis. Maka dikatakan bisa jadi khalifah. Berbahaya sekali. Paham khilafah sudah jelas sangat ngawur dan merusak. Tak ada yang bisa menilai tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang kecuali Tuhan. Makanya para Nabi, Rasul dan Wali langsung diangkat oleh Tuhan. Tapi anehnya sistem khilafah justru seperti demokrasi yang ditentukan oleh manusia. Akibatnya seperti zaman khulafaur rasyidin. Saling bunuh membunuh kalau tak puas akan kepemimpinan khalifahnya. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Yasonna Laoly Ketagihan Gowes, Lebih Merakyat, Dikasih Reward dari Jokowi