Jakarta, NAWACITAPOST – Tionghoa Politikus Gerindra, Arief Puyuono memang kerap melontarkan pernyataan berupa kritikan. Kritikan yang dilontarkannya tidak tanggung – tanggung dan kontroversi. Terasa pedas bagi yang dikritiknya. Arief pernah menjadi saksi hidup. Yakni menyaksikan betapa mulia dan baiknya hati seorang KH Ma'ruf Amin yang mau menjadikan rumah tinggalnya untuk dijadikan tempat perlindungan. Terutama bagi warga Tionghoa yang rumahnya habis dijarah dan dibakar saat peristiwa 1998. Sebelumnya, saat Pilpres (Pemilihan Presiden) usai pemungutan suara, Arief sempat menyerukan kepada pendukung Prabowo – Sandi. Tak lain untuk boikot pajak. Sontak pernyataan memantik pro dan kontra. Arief juga beberapa kali berselisih pendapat dengan para elite Partai Demokrat. Arief pernah menyebut Ketua Kogasma Partai Demokrat yang juga putra sulung SBY, Agus Harimutri Yudhoyono. Yakni dengan sebutan anak boncel. Meski banjir kecaman dari kolega di Gerindra dan dari Demokrat, Arief menolak meminta maaf atas pernyataannya. Sebelumnya, Arief banyak muncul di media dengan membawa bendera Federasi Serikat Pekerja BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Bersatu. Arief yang menjadi Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mencuat pada 2006 lalu.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Arief Puyuono
Kala itu Arief mengaku diancam. Pasalnya kerapkali mengkritik BUMN. Arief dikirimi paket berisi bangkai ayam dan kain berlumuran darah. Paket dikirimkan ke Sekretariat FSP BUMN. Paket bertuliskan jangan ganggu Kementerian BUMN jika tidak ingin berakhir seperti ini. Dikatakan Arief saat jumpa pers di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta, 31 Mei 2006. Rajin melontarkan kritik ke BUMN dan Kementerian BUMN. Arief juga beberapa kali mendatangi KPK untuk melaporkan dugaan korupsi di BUMN. Arief merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya. Mengikuti sejumlah kursus seperti pelatihan flight attendant, pelatihan flight safety instructor, penataran P4, coaching and counseling, dan training for trainer. Arief juga pernah menyabet sejumlah prestasi. Diantaranya Pokjasus Dewan Ketahanan Nasional, pembicara di SP Percetakan Negara, advokasi serikat pekerja d PT DKB, melepaskan Indosat dari St Telemedia, menolak pembangunan Gedung DPR, hingga pemogokan buruh nasional. Arief memang pernah juga menjadi Ketua Umum Forum Pegawai Merpati Airlines, Lembaga Bantuan Hukum BUMN dan Sentra Gerakan Buruh Indonesia Raya. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Commuter Line Terapkan Aturan Berbeda Tiap Stasiun, Tidak Satu Pintukah?