Foto : Kak Seto berbincang dengan DPR
Psikotest merupakan test umum yang bisa menyimpulkan beberapa aspek. Diantaranya kepribadian, kecerdasan, karakter dan sifat seseorang. Tahan banting atau tidak. Mudah putus asa atau tidak. Bisa menerima kenyataan atau tidak. Bisa menyesuaikan diri atau tidak. Daya ingat jangka pendek atau panjang. Apabila mengalami kegagalan akan seperti apa reaksinya, memaksakan atau mengubah strategi. Sehingga akan mempelajari situasi baru dan bisa berhasil. Psikotest juga bisa ditujukan untuk militer. Yang dilihat disiplin, komitmen, keberanian dan strategi dalam penilaian.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Memang tidak diajarkan sejak dini. Karena memang tidak menghafal jawabannya. Tidak perlu adanya pembelajaran. Malah biasanya bakal gagal. Bahwasanya mengukur apa yang tidak diukur. Dalam masa pendidikan, yang diajarkan seperti unsur etika dan estetika. Namun berbeda dalam perkembangannya. Seperti introvert dan ekstrovert. Kegunaan nantinya yaitu memberikan dan mencocokkan jenis pekerjaan. Yaitu kepada introvert atau sebaliknya.
BACA JUGA: Ray, Penderita Kanker Otot, Butuh Uluran Tangan
Kepribadian seseorang memang bisa dibentuk sedari dini. Seperti pada saat menempuh jenjang pendidikan. Pendidik mengajarkan kepada peserta didik. Pendidik harus siap mental, lebih manusiawi, lebih kreatif dan mencintai anak atau peserta didik. Pendidik juga bisa selalu berpikir positif, mau mengorbankan waktu dan emosional diri. Tapi, memang tidak semua peserta didik bisa disamaratakan. Kembar sekalipun juga berbeda dalam kepribadian dan tingkatan kecerdasan. Kepribadian merupakan pertemuan antara faktor bawaan dan lingkungan.
-
Bagi penyandang berkebutuhan khusus seperti disabilitas, tuna, autisme dan keterbelakangan mental, tidak perlu berkecil hati. Diberikan ruang khusus untuk pendidikan dan memang tidak bisa dicampur dengan yang normal atau umum. Apabila dicampur, ditakutkan rasa percaya dirinya akan turun drastis. Telebih memang akibat frustasi. Sehingga akan sangat lambat dalam perkembangan diri didalam bersosialisasi dan komunikasi. Ini bukanlah diskriminasi. Melainkan pemberian stimulan mental yang ekstra untuk meningkatkan perkembangan diri. Pengajaran pun lebih sabar dalam berlatih komunikasi dan sosialisasi.
BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng
Pengalaman dilakukan kepada salah satu putra salah satu artis, bernama Surya. Melalui homeschooling, pendekatan individual lebih mudah. Terlebih hanya sepuluh orang dalam satu kelas. Sehingga tidak ada bullying dan merasa nyaman. Bisa berkembang dan percaya diri. Bahkan hingga diundang ke London. Bertemu dengan ratu Elizabeth. Tentunya bisa memotivasi yang lain, yang berkebutuhan khusus.
BACA JUGA: 67 Tahun Yasonna Laoly : Bermakna, Berkesan dan Berpesan bagi Semua. Berikut Testimoni Para Tokoh !
Contoh tersebut agar bisa dipahami para orang tua. Yakni untuk tidak memaksakan kehendak dan menerima realita kepada anak dalam memilih pekerjaan yang cocok. Di samping itu, orang tua juga harus menyadari. Mendidik anak juga bukan dengan kekerasan. Baik fisik maupun berbahasa. Pendidikan tidak identik dengan kekerasan. Pendidikan merupakan kerjasama antara pendidik dan yang dididik. Akibatnya memperburuk karakter dengan pendidikan berwujud kekerasan dalih disiplin. Bisa timbul anak tawuran, bullying, geng motor, pemukulan dan sebagainya. Preventifnya untuk siapa saja adalah dengan adanya pelatihan, parenting skill, seminar dan lain – lain.
-
Sebagaimana yang dilakukan Kak Seto untuk memberikan pendidikan kepada semua orang tua. Terutama dalam mendidik anak yang benar sebagai konteks perlindungan anak. Antusiasme memang cukup tinggi. Ada di Palu, Bukit Tinggi, Pemalang, Kediri, Surabaya, Lombok, NTB, Madiun, Bali dan Samarinda. Dari mulai kedinasan, sekolah, organisasi hingga pribadi yang mengundang. Kemudian ada juga yang bercerita bahwasanya adanya perubahan. Terlebih usai mencoba cara pendidikan yang pernah diberikan oleh Kak Seto.
BACA JUGA: Putra Nias, Melenggang dari Guru Besar Jadi Pendamping Menteri
Semua merupakan bentuk kebahagiaan bagi Kak Seto. Tak lain sebagai bentuk balas budi dari masa kecil sampai remaja Kak Seto yang fokus pada dunia pendidikan anak – anak. Memiliki orang tua yang begitu pengertian. Terutama akan potensial diri dan pendidik yang baik dari TK sampai lulus sekolah. Yang mana lebih pengertian dan membimbing dengan penuh cinta. Padahal Kak Seto mengakui bahwa dirinya anak yang bandel, bodoh dan banyak kekurangan dalam kemampuan diri.
BACA JUGA: Sosok Menteri Bertangan Dingin, Pernah Bantu Orang Tua Berjualan
Tidak hanya balas budi tapi juga rasa terima kasih bagi Kak Seto. Dirinya juga pernah berjuang dari usia 15 tahun ditinggal sang ayah, Kak Seto tetap masih merasakan kebahagiaan. Dulu Kak Seto dan kembarannya waktu SMA satu – satunya yang boleh menggunakan celana pendek. Tak lain karena belum bisa beli celana panjang.
-
Kak Seto berjualan koran, tas plastik dan balon di sepanjang junjungan yang ada di Surabaya. Pakai celana pendek pula. Kemudian diberikan celana oleh teman. Lantas lulus, mendaftar ke sekolah kedokteran. Tapi memang tidak lulus sampai ke empat kampus yaitu UI, Gajahmada, UNAIR dan UNDIP dan putuskan pindah ke Psikologi. Pergi merantau ke Jakarta dan menggembel. Tidur di emperan dan disiram air sama satpam. Ya karena telat bangun. Berjuang dan merangkak kemudian akhirnya bisa seperti sekarang ini.(Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Menteri Keuangan Terbaik, Wanita Pertama Jabat Direktur Bank Dunia