Nama-nama Kelompok KAMI Pernah Dipecat Negara

0
1429

Jakarta, NAWACITAPOST- Siapa tak kenal Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau biasa disapa Profesor Din. Sepak terjangnya di organisasi keumatan tak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi. Mulai dari Sekertaris Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim di Indonesia disingkat ICMI perioode 1990 – 1995.

Baca Juga : Rizal Ramli, Lebih Cocok Jadi Tukang Gaduh Ketimbang Pejabat

Selanjutnya 10 tahun (2005 – 2015) sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dan 17 bulan (Januari 2014 – agustus 2015) menjabat ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Dosen dan Akademisi sejak lulus kuliah sampai sekarang masih tetap mengajar di berbagai Universitas, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Jakarta, UI, Uhamka, dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya.

Pada 23 Oktober 2017 Presiden Jokowi mengangkat dan melantik suami dari Novalinda Jonafrianty sebagai utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerja sama antara agama dan peradaban.

Memang sempat beredar kabar bahwa ayah dari Farazandi Fidinansyah Mihra Dildari, Fiardhi Farzanggi, dan Erlangga Tri Putra Novrianto di coret sebagai Dewan Pengarah Unit kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) saat ini disebut Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) selain sebagai utusan Presiden juga ada nama dari perwakilan Muhammadiyah juga, yaitu Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif.

Mendekati Pilpres 2019, Din sebenarnya di tawari Capres Jokowi sebagai Ketua Tim Sukses. Din menolak jabatan tersebut.

Namun ketika Agustus 2018 nama Din sempat beredar sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres)  mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Din tidak sendiri ada Prof. Dr. Mafud MD, dan Prof. Dr. Maruf  Amin.

Din seperti dikutip Kompas  (3/8/2018) mengaku bersedia jika diminta menjadi calon wakil presiden mendampingi Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Sebelumnya, nama Din masuk dalam bursa cawapres bagi Jokowi. “Saya mendengar nama saya disebut-sebut, baik oleh kelompok tertentu maupun partai politik.

Pada hemat saya, tentu saya menyikapinya dengan penuh rasa syukur. Manusiawi kalau saya tersanjung karena mendapat kehormatan dan penghormatan,” kata Din saat menghadiri Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Sayang enam hari kemudian, tepatnya 9 Agustus 2018 nama Din dan Mafud MD tak terucap lagi oleh Capres Jokowi, yang disebut Maruf Amin.

Ini baru dugaan saja, mungkin karena namanya terlempar dari Cawapres. Akhirnya Din pada tanggal 25  September 2018  mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai utusan Presiden.

Sejak saat pengunduran dirinya tersebut mulai menunjukan berseberangan dengan ayah dari Kaesang. Sampai  berucap di Media, bahwa yang salah bukan Nadiem (Mendkibud) melainkan Presiden Jokowi.

4 bulan sebelum Pensiun Jenderal Gatot Nurmantyo (kanan) diganti oleh Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) sebagai Panglima TNI

Merasa belum puas atas koreksi berformat rongrongan,  pria kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 31 Agustus 1958 bersama beberapa orang mendirikan Gerakan Moral bernama Koalisi Menyelamatkan Indonesia disingkat KAMI, diantaranya Prof. Din Syamsudin, Prof. Rahmad Wahab, Dr. Ichsanoedin Noersy. Dr. Refly Harun. Prof. Dr. Chusnul Mariah, Dr.Said Didu,  Rocky Gerung, Dr. Syahganda Nainggolan. Dr. Ahmad Yani, Sri Bintang Pamungkas, Adi Masardi, Jumhur Hidayat, Prof  Edwin, Habieb Muchsin Al Athos, Habieb Smith Alhadar, Joko Edy Abdurrahman, MS Ka’ban, sedangkan Gatot Nurmantio, Rizal Ramli, dan Rahmawati Soekarno Puteri hadir melalui video call.

Jika dicermati nama-nama tersebut sebagian besar pernah mengabdi kepada negara dengan statusnya belum sampai selesai mengabdi sudah dipecat alias diberhentikan oleh negara karena masih menjabat sebagai abdi negara sudah melakukan kritik yang tak perlu dan tak seharusnya.

Seperti Refli Harun diberhentikan atau dipecat dari Komisaris di BUMN, Rizal Ramli diberhentikan Sebagai Menko Maritim, Din Syamsudin sendiri mengundurkan diri sebagai utusan presiden, dan tragisnya Gatot  Nurmantyo 4 bulan sebelum pensiun jabatan panglima TNI-nya digantikan oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.