Litiwari Iman Gea Perempuan Korban Penganiayan Preman yang Jadi Tersangka, Ini Pendapat Tokoh Nias

0
746
Agustus Gea, Faigiziduhu Ndruru (atas). Sozifao Hia, dan Turunan Gulo (bawah). Kolase

Jakarta, NAWACITAPOST – Penetapan  status tersangka kepada Litiwari Iman Gea–yang merupakan korban kekerasan dan tindakan premanisme yang dilakukan oleh Beni Saputra cs pada 5 September 2021.

Baca Juga : Gebyar Akhir Tahun ! Nawacita TV Gelar Kontes Berhadiah Jutaan Rupiah

Dalam surat pemanggilan yang diterbitkan oleh Polsek Percut Sei Tuan Medan, Litiwarni Gea disangkakan melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama sebagaimana dimaksud Pasal 170 subs 351 ayat (1) KUHPidana.

Simak berita lainnya di Youtube NAWACITA TV

Mendapat tanggapan dari Ketua DPD Himpunan Masyarakat Nias Indonesia Sumatera Utara Turunan Gulo yang disampaikan kepada nawacitapost.com, Minggu (10/10/2021). “Bahwa tindakan Kapolsek Percut Sei Tuan dalam mentersangkakan Litiwarni Gea sangat jauh dari sikap arif dan profesionalitas. Bagaimana mungkin seorang ibu dan seorang gadis berumur 13 tahun bernama Tiara Ratna Sari Hura dituduh mengeroyok anak muda-kekar bernama Beni Saputra cs,”tegasnya.

Baca Juga : Mentersangkaan Litiwarni Iman Gea, Ketua DPD HIMNI Sumut Turunan Gulo : Kapolsek Percut Sei Tuan Medan Tidak Arif dan Jauh dari Profesionalisme 

Sementara itu Tokoh masyarakat Nias yang juga Anggota DPRD Pelalawan, Sozifao Hia, dalam pernyataannya yang diterima nawacitapost.com,  Minggu (10/10/2021).

“Terlepas dari lapor melapor antara korban penganiayaan preman dengan seorang Ibu di pasar. Kejadian tersebut memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan bahwa di pasar itu ada preman yang berkuasa dan berbuat semaunya,” jelas Sozifao Hia

Lanjut Sozifao.  Artinya keamanan di pasar itu jelas tidak ada, lalu di mana posisi Polisi ? Apakah memang polisi di sana tidak ada atau tidak bekerja, sehingga preman yang berkuasa semaunya ? Atau Polisi tidak berdaya terhadap preman di sana, kondisi ini sangat menyedihkan. Harapan kita Kapolda, Kapolres dapat bertindak meluruskan hal ini, jangan sampai kondisinya makin parah dan masyarakat jadi apatis terhadap Polisi di daerah itu.

Baca Juga : Terkait Seorang Wanita Bernama Rosalinda Gea Dianiaya Preman, Pengamat Hukum Agustus Gea SH : Pelapor Bisa Jadi Tersangka

Sebelumnya Pengamat Hukum Agustus Gea ketika dihubungi nawacitapost.com, Sabtu (9/10/2021) “Pelapor bisa saja menjadi Tersangka jika ketika Pelapor melakukan Pembalasan kepada Terlapor yg menjadi Tersangka, bahkan Terlapor bisa saja menjadi Korban dari Pelapor misalnya sampai terjadi penusukan bahkan sampai meninggal dunia dari tindakan dari Pelapor sebelumnya yang kemudian menjadi Tersangka,” ujarnya

“Karena Korban Perempuan sementara Terlapor seorang Preman berbadan tegap, sehingga netizen sangat terpengaruh dan menganggap status Korban menjadi Tersangka dianggap aneh,” tegas AG

“Apa yang diviralkan oleh Korban sebelumnya bisa saja tidak lengkap, tidak memperlihatkan tindakan pembalasan yg dilakukan terhadap Preman yg menganiayanya sehingga netizen menganggap telah terjadi ketidakadilan karena korban dijadikan tersangka oleh Kepolisian karena Kepolisian bisa saja menolak Laporan dari Preman jika setelah dilakukan kajian awal guna menilai layak tidaknya dibuatkan laporan polisi sebagaimana diatur didalam Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019,”tuturnya

Sedangkan Aktivis Anti Premanisme Indonesia, Faigiziduhu Ndruru ketika dihubungi nawacitapost.com di ruang kerjanya, kawasan Bekasi, Senin (11/10/2021).

Pertama Sumatera Utara selain dikenal dengan provinsi yang diduga  banyak korupsi juga dikenal dengan premanisme yang berkedok organisasi masyarakat (Ormas).

Kedua kejahatan tersebut telah menjadi keprihatinan berbagai kalangan berpuluh tahun lamanya. Tempat-tempat kegiatan ekonomi, sentra sentra pasar, tempat hiburan dan kawasan kawasan kegiatan masyarakat kerap jadi tempat pungli para pereman.

“Ironisnya seakan tidak tersentuh hukum dan seakan mendapat ‘lampu hijau’ dari aparat keamanan. Kejadian kasus di Pasar Gambir, Kelurahan Tembung, Kecamatan Percut Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dan viral,  yang  diduga melibatkan preman menganiaya seorang ibu pedangang dipasar tersebut. Saat ini ada bukti bahwa di Sumut masih ada premanisme (khususnya di wilayah hukum Polda Sumut),”tegasnya

“Kapolda sebagai pemimpin tertinggi kepolisian wil Sumut harus segera melakukan tindakan tegas dengan target membersihkan premanisme di wilayah Sumut. Harapan kita Presiden Jokowi memastikan agar melalui Kapolri penempatan pimpinan di wilayah Sumut mempertimbangkan target tersebut,”jelasnya.

Bagaimana mungkin korban yang seorang perempuan yang dianiaya preman pasar menjadi tersangka.

Kasus yang menimpa Litiwari Iman Gea ibarat puncat gunung es. Yang tidak melapor jauh lebih banyak. Halnya dengan kasus Litiwarni yang diduga dianiaya preman akan jadi preseden buruk bagi setiap korban yang melaporkan perbuatan pelanggaran hukum karena takut terbalik jadi tersangka, pungkas Faigiziduhu.