Jakarta, NAWACITApost.com - Salah satu tokoh Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Deli Serdang Jhoni Allen Marbun menuding, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pembohong. Sebab, kedua tokoh tersebut kerap berbicara perbaikan dan perubahan. Namun, nyatanya di Partai Demokrat melenceng dari tujuan awal partai tersebut didirikan oleh para pendirinya.
"Bicaranya perubahan, perbaikan, ini munafik perkataan dan tindakan tidak sesuai dengan omongan," ujar Jhoni, dilansir dari Kompas, Kamis (6/4/2023).
Pada 2013 silam, dalam pidato politiknya SBY menginstruksikan seluruh Pengurus DPP, DPD, dan DPC untuk menghentikan praktik pungutan liar. Semua kegiatan menarik uang apalagi untuk menguntungkan diri sendiri, dilarang tegas dilakukan oleh seluruh jajaran partai.
"Jangan memungut uang apalagi dalam jumlah besar untuk pribadi atau perkaya diri. Seperti untuk pencalonan caleg di pemilu 2014. Kecuali untuk administrasi dan bantuan yang pantas untuk partai silakan, tapi bukan pungutan atau suap untuk memperkaya diri sendiri," tegas SBY.
Jhoni lantas menunjukkan surat edaran yang ditandatangani oleh Ketua Bapillu DPP Partai Demokrat Andi Arif pada 22 Februari 2023. Dalam surat tersebut, tertulis besaran iuran wajib bagi kader Partai Demokrat incumbent Rp100 juta sementara nonincumbent Rp25 juta.
"Rp100 juta satu orang Anggota DPR RI, gila itu tertulis, itu melenceng jauh, kemunafikan yang ada," kata Jhoni.
Padahal, pungutan itu sebelumnya tak pernah ada. Jhoni mengaku pungutan baru ada sejak Partai Demokrat dipimpin SBY dan AHY. "Tiga Ketum sebelum SBY dan AHY tidak ada pungutan seperti itu," ucap Jhoni.