Nadiem Makariem: Kunci Kesuksesan adalah Karakter, Bukan NEM, IPK atau Rangking

236
1954
Jakarta, NAWACITA – Mitos tentang keberhasilan pendidikan dan kesuksesaan dalam dunia kerja yang diyakini oleh publik selama ini, dibantah oleh Nadiem Makarim. (8/1/2020).
Nadiem Makariem: Kunci Kesuksesan adalah ATTITUDE, Bukan NEM, IPK atau Rangking

Jakarta, NAWACITA – Mitos tentang keberhasilan pendidikan dan kesuksesaan dalam dunia kerja yang diyakini oleh publik selama ini, dibantah oleh Nadiem Makarim. (8/1/2020).

Baca Juga: Cina Memproduksi Segalanya

Menteri Pendidikan terpilih dalam Kabinet Indonesia Maju, pada Pemerintahan Kedua Presiden Jokowi ini, membeberkan kunci kesuksesan dalam hidup sesuai dengan pengalaman pribadinya menempuh pendidikan selama 22 tahun.

Menurut Nadiem merujuk pada beberapa hasil penelitian internasional oleh tim yang sudah tidak diragukan lagi kapabilitas dan pengalamannya dalam riset terhadap pola pendidikan dan keterkaitannya dengan kesuksesan dalam hidup, diantaranya: Thomas J. Stanley yang telah melakukan riset terhadap 733 Millioner di AS.

Dalam rekomendasi akhir riset yang dilakukan, faktor NEM, IPK dan Rangking hanyalah urutan ke-30 dalam menunjang keberhasilan dalam meraih kesuksesan.

Menurut Nadiem, Bangsa kita selama ini sudah terlalu obsesif dengan ketiga hal tersebut diatas, sehingga layak dipercaya untuk menjadi kebanggaan dalam meniti perjalanan karier dan kesuksesan di pelbagai bidang.

“Ini sebuah kesalahan dalam konsep berpikir yang terus kita pelihara. Ini tidak boleh dibiarkan”, kata Nadiem dalam setiap seminar yang dia ikuti akhir-akhir ini.

Nadiem melihat bahwa mitos tersebut harus segera dikikis jika ingin agar generasi bangsa kita bisa berkompetisi di tingkat internasional. Nadiem juga mencontohkan keberhasilan pendidikan di Eropa, khususnya Finlandia dan Jepang di Asia. Dimana, di kedua negara ini, orientasi pendidikan lebih pada pembinaan karakter dan attitude.

“Dikedua negara ini, anak-anak TK sampai SMP, pelajaran budi pekerti seperti toleransi, menghargai, disiplin dan kerendahan hati menjadi sasaran pembelajaran. Selain itu, anak-anak juga diarahkan untuk menemukan passionnya sendiri dalam bidang apa yang disukai dan apa yang menarik untuk digeluti saat dewasa. Artinya, anak-anak tidak lagi diarahkan sesuai dengan keinginan orang tua mau menjadi apa anaknya kelak. Makanya, anak-anak mereka menjadi profesional dalam bidang-bidang tertentu”, tutur Nadiem.

Baca Juga: Ahok Bongkar Mafia Gas, Selama ini Minyak dibeli dari Trader bukan ke Pemasok

Nadiem mencontohkan dirinya yang selama menempuh pendidikan selama 22 tahun mulai TK hingga jenjang Doktoral dan mengajar selama 15 tahun di Negara Maju seperti AS, Korsel dan Australia.

“Di Ketiga Negara Maju ini, ketiga konsep diatas berada pada urutan buntut dalam mencapai kesuksesan. Misalnya, IQ itu diurutan 21 dan bersekolah di Sekolah Favorit di urutan ke 23”, jelas Makarim.

Hal senada juga dia ungkapkan dengan menceritakan bahwa kompetisi dalam bentuk penetapan nilai di Jepang, baru mulai dilaksanakan ketika anak sudah di jenjang setingkat SMA dan sudah memiliki arah menjadi profesional di bidang apa.

Dari hasil riset Stanley, ada 10 yang berada di urutan teratas dalam mencapai kesuksesan dalam hidup. Kesepuluh ini merupakan soft skill yang tidak sepenuhnya bisa didapatkan di bangku sekolah, yakni: 1. Kejujuran (Being honest with all People); 2. Disiplin keras (Being well-disciplined); 3. Mudah bergaul (Getting along with People); 4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse); 5. Kerja keras (Working harder than most people); 6. Kecintaan pada yang di kerjakan (Loving my career/business); 7. Kepemimpinan (Having strong Leadership qualities); 8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/Personality); 9. Hidup teratur (Being very well-Organized); 10. Kemampuan menjual Ide (Having an ability to sell my Ideas/Products).

Menurut Nadiem kesepuluh faktor ini, di Indonesia hanya ditemukan dalam pendidikan Paramuka. Jadi, menurut dia, pembentukan karakter menjadi kebutuhan paling utama, sebab mengejar kecerdasan Akademik semata, hanya akan menjerumuskan diri.

“Bangsa Indonesia bukan tidak butuh orang yg pintar. Saya sangat percaya bangsa Indonesia sudah banyak orang-orang pintar. Namun bangsa Indonesia lebih membutuhkan orang-orang yang punya Karakter beradab sopan santun dan berakhlak mulia.

Comments are closed.