Lewat pesan singkatnya, Ahok mengungkap bahwa mafia migas yang sering-sering disebut oleh Presiden Joko Widodo memang masih ada. "Mafia iya, orang dalam dan ngajak orang luar. Tujuannya impor dan komisi, hulu sampai hilir biayanya tinggi," kata Ahok, Senin (06/01/2020), seperti dilansir dari CNBC.
Baca Juga: Hari ini Harga BBM Turun, Abra: Waspada dengan Suhu Eskalasi Politik Amerika-Iran
Menurutnya, yang membuat impor minyak tidak efisien adalah karena kontrak impor minyak bukannya langsung dari produsen. Ditambah, kontraknya juga jangka pendek, hanya 3 sampai 6 bulan. "Mayoritas dari Singapura yang masuk," jelasnya.
Sebelumnya, soal efisiensi beli minyak juga disinggung oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.
Salah satunya adalah dengan membeli BBM atau minyak mentah langsung ke pemasok, tanpa perantara atau trader di pasar.
"Kita sudah mulai tender, bukan melalui trader tapi langsung kepada perusahaan yang menghasilkan minyak," kata Erick Thohir di Tangerang, Minggu (5/1/20).
Baca Juga: China, Iran dan Indonesia Negara Adidaya Masa Depan
Pembelian langsung ini bisa memangkas margin yang tidak perlu. Dia bilang, harga pembelian bisa lebih murah dengan selisih mencapai US$ 5-6 per barel dibandingkan harga minyak yang biasa dibeli Pertamina via trader.
"Selama ini belum dilakukan. ini langsung ke perusahaan, total, tidak ada perantara," ungkapnya.
Erick Thohir tak bermaksud mengusir perantara. Dia mengapresiasi perantara di pasar yang tetap bersaing dengan harga kompetitif, dan tidak disertai praktik sogok-menyogok.
"Tapi mohon maaf jika sengaja merusak pipa, tangki, itu yang juga harus dilawan dan tentu terus akan kita tekan dengan hal-hal lain," tegasnya.