Baca Juga : Tepat, Komandan yang Tegas kepada FPI dan Kelompok Intoleren – Radikal Jadi KASAD
Kabar adanya reuni 212 akan menggelar pertemuan pada 2 Desember 2021 di Jakarta. Tentu bagi Jenderal Dudung, itu bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Pengalamannya kenyang dengan ormas yang sifatnya anarkis. Eks FPI pada Nopember 2020 tak berkutik. Dudung saat itu Pangdam Jaya memerintahkan anak buahnya menurunkan spanduk dan baliho Riziew Shihab serta eks FPI.
Apalagi kini Dudung sebagai KSAD. Punya kewenangan penuh dalam memobilasi keamaman di di matra Angkatan Darat, Pandam Jaya, Kostrad, Kopasus dan kesatuan lainnya bisa digerakan Dudung hanya hitungan menit untuk mengamankan Jakarta dari gangguan keamanan yang akan terjadi.
Terkait Reuni 212 dan KSAD Jenderal Dudung Abdurachman. Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa punya pendapat. Dudung Abdurachman sangat piawai dalam bersikap. "Eks FPI sudah dilarang total. Dudung pasti tahu apa langkah yang tepat bila korelasinya dengan aksi 212," kata Herry seperti dikutip GenPI.co, Minggu (21/11/2021).
Herry juga tidak memungkiri tangan dingin Dudung tentang persoalan mengenai eks FPI. Dia pun menilai KASAD Dudung Abdudrachman sosok yang profesional dan memiliki kapabilitas.
"Saya yakin Dudung profesional dan kapabel soal menangani eks FPI maupun ormas lainnya," kata Herry.
Herry juga menilai Reuni 212 bisa melanggar protokol kesehatan ataupun tidak. Jika acara tersebut melanggar prokes, Herry meyakini Dudung akan mengambil sikap tegas.
Sebelumnya, Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin mengingatkan Jenderal Dudung agar selalu memiliki hubungan yang baik dengan ulama.
Pasalnya, para ulama juga memiliki peran besar dalam perjuangan dan Kemerdekaan RI dari penjajahan.
"Para petinggi TNI dan Polri harus ingat jas merah, apalagi jas hijau, jangan sekali sekali hilangkan jasa ulama, tentunya ulama yang istikamah,” kata Novel Bamukmin seperti dikutip JPNN, Kamis (18/11/2021).
Sepertinya dari pernyataan Novel Bamukmin. Sudah menyiratkan adanya permohonan belas kasihan untuk dibolehkan aksi reuni 212 menggelar pertemuan akbar.
Namun disisi lain juga. Novel akan berpikir dua kali untuk menggelar perhelatan reuni 212. Sebab Jenderal Dudung tak akan segan-segan melakukan keamanan terukur dan terjamin bagi warga masyarakat khususnya yang ada di Jakarta, bila ada kelompok yang mengganggu keamanan negara.