Baca Juga : Jika Taliban Indonesia Berkuasa? Syariat Islam Hukumnya
Maklum Jokowi bukan ketua Umum Partai di daerah dan di Pusat. Jokowi hanya sebuah magnet yang bisa ditarik oleh partai politik yang mengusungnya. Efek Jokowi ada, ya. Sangat besar dampaknya.
Di Solo, perubahan dratis terjadi. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diberdayakan secara luar biasa. Perbedaan pendapat tentang kebijakan dengan Gubernur Jawa Tengah (kala itu Bibit Waluyo) dilakukan kakek Jan Ethes tanpa membuat malu sang Gubernur.
Saat menjabat orang nomor satu Jakarta, Ayah dari Kaesang selalu blusukan ke kampung-kampung kumuh di Jakarta. Pembenahan pun terjadi. Hasilnya : Banjir dan kemacetan berkurang. Itu dari segi fisik. Sementara dari keadilan, Jokowi dan dibantu Ahok menerapkan siapa berkeringat dan bekerja mendapat jerih payah yang layak.
Ketika dipercaya menjadi Presiden ketujuh. Periode pertama, gebrakannya begitu mencengang dan membuat decak kagum dunia internasional. Bandara, bendungan, jalan tol, dan pembangunan infrastruktur lainnya di seluruh Indonesia berhasil dibangun dan dinikmati seluruh rakyat Indonesia. Jokowi melakukan pembangunan fisik itu dimulai dari luar pulau Jawa, tepatnya kawasan Indonesia Timur.
Pembangunannya tak ada yang mangkrak. Artinya bisa digunakan secara maksimal oleh rakyat. Pembangunan di Papua dan Papua Barat terus digencarkan. Hasilnya, BBM satu harga bisa dinikmati rakyat Indonesia yang bermukim di bumi Cendrawasih. Saham terbesar Freeport dikuasai pemerintah Indonesia.
Supaya pembangunan berjalan lancar dan sukses. Jokowi perlu kepastian keamanan. Polri dan TNI harus bersinergi. Tanpa ada yang merasa superioritas diantara keduanya. Memang, konflik sempat terjadi, tetapi bisa diselesaikan dengan beradab tanpa melebar ke mana-mana. Atau digoreng kesana kemari.
Bahkan, kelompok radikal sebelum era Jokowi mendapat tempat dan kenyamanan bergerak secara luar biasa. Perlahan mulai ditaklukan dan dibubarkan. Pembubaran HTI 2017 dan FPI Desember 2020.
Pandemi Covid yang masih melanda Indonesia. Berhasil ditanganinya secara mujarab. Hanya dalam waktu dua bulan (second wafe atau gelombang kedua pandemi) yang di awal Juli 2021 angka positifnya mencapai 50.000 lebih, sembuh 20.000 dan angka kematian sempat di atas 2.000. Kini : Data Kemenkes 23 Agustus 2021 turun menjadi 9.000 yang postif, kesembuhan di atas 40.000 dan kematian 800).
Jokowi sadar, untuk bisa berhasil membangun Indonesia. Tak perlu jadi ketua umum partai merangkap presiden, melainkan rekatkan TNI dan Polri. Tentu melibatkan jejaring kelompok aktivis NKRI dan milineal, serta menghargai adat yang ada di Indonesia yang merupakan modal kekuatan utama membangun Indonesia.