Baca Juga : Diduga Zulkifli Hasan Bocorkan JK Dukung Cagub Anies, Adik Ketum PAN Ditangkap KPK
MEGAWATI SOEKARNOPUTERI pernah jadi Wapres (1999 - 2002) dan Presiden (2002 -2004). Tak tergantikan dan melekat menjadi Ketua Umum sebelum dan pasca reformasi, berarti Ibu dari Puan Maharani ini sudah lebih dari 22 tahun menjadi orang nomor satu di Partai Banteng Moncong Putih.
Pilkada 3 - 4 kali, banyak Kepala Daerah tingkat satu dan dua dihasilkan dari tanda tangannya. Pilpres 2014 dan 2019 yang memenangkan Jokowi sebagai Presiden peran KM Mega sudah terbukti dan ampuh.
Boleh dibilang Megawati satu-satunya yang pernah menjadi KM dan berhasil menghantarkan ayah dari Gibran Rakabuming Raka (anak) dan Bobby Nasution (menantu Jokowi) menjadi orang nomor satu di Indonesia, kini memasuki dua periode ditahun kedua tampuk kekuasan Presiden masih digenggam Jokowi.
Peran Jokowi, yang masih menjadi Preiden (2024), mempunyai magnet KM nya luar biasa dan bila dipadukan dengan Mega hasilnya sungguh dahsyat. Walaupun tak punya partai suami dari Iriana ini mampu menggerakan jaringan yang dipunyainya, terutama kelompok aktivis 98 (Adian Napitupulu). Suara kawasan Ttimur Indonesia pasti berpihak pada peran utama KM (Mega - Jokowi), ditambah Jawa Tengah, Kalimantan dan daerah lainnya.
Sementara Jusuf Kalla (JK), KM-nya boleh dibilang hanya di Sulsel serta Sumbar (kampung halaman istrinya). Setelah tak menjabat Wapres dan tak lagi sebagai Ketua Umum partai Golkar, sepertinya JK agak kewalahan memainkan perannya sebagai KM. Apalagi kelompok eks FPI dan eks HTI sudah dibubarkan oleh pemerintahan Jokowi. Jk hanya berhasil menghantarka Anies Baswedan Sebagai Gubernur Jakarta, saat Pilkada 2017. Dan, marah besar kepada Zulkifli Hasan, yang membocorkannya ke media massa, soal dukungan JK ke Anies, karena JK tak mau mengganggu hubungannnya dengan Jokowi, begitu alasannya. Kabaranya soal JK ke Anies, Jokowi sudah tahu dan mendapat informasi sahih dan A satu.
Sedangkan Surya Paloh disebut rajanya King Marker hanya sebatas Pilkada itupun, dengan gebrakan kampanye belum resmi, dan menggandeng partai lain untuk keikutsertaannya di Pilkada (terpenuhi pencalonan Cagub, Cabup, dan Cawali). Gara-gara mengumbar keberhasilan di Pilkada ke media massa, Surya tak menjadi mitra kepartaian PDIP. Salam tak sampai saat pelantikan Presiden Jokowi di periode kedua, 20 Oktober 2019 di Senayan, menjadi titik akhir keretakan Surya dan Mega.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta Ujang Komarudin, setuju bahwa untuk saat ini King Marker baru ada 4, Megawati, Jokowi, JK dan Surya Paloh.
Walaupun masyarkat cerdas, Jokowi dan Mega sebagai KM tak perlu dipersoalkan, bahkan King Marker ini bila disatukan akan menjadi penentu yang bisa mengalahkan KM lainnya.
Yang jelas dan pasti, Pilpres 2024, bukan soal Capres saja, tetapi KM. Dan duet KM yang nampak jelas serta mengarah pada kepastian hanya Mega - Jokowi.