Berlawanan arah jarum jam ; (alm) Geoger Junus Aditjondro, Antasari Azhar, Nasarudin, dan Anas Urbaningrum. Foto Kolase.

Jakarta, NAWACITAPOSTSaat Anas Urbaningrum  (eks Ketua Umum Partai Demokrat) di sidang dalam ruang pengadilan, atas kasus korupsi wisma Atelet Hambalang. Nama Ibas putra bungsu SBY, minta dihadirkan sebagai saksi utama (yang mengetahui dan dugaanya ikut terlibat dalam kasus tersebut). Muhammad Nazardin (eks Bendahara Umum Partai Demokrat) terang-terangan menyebut Ibas terlibat aktif dalam kasus korupsi wisma atlet dan alat kesehatan.

Baca Juga : Lindungi Koruptor Donatur HTI dan FPI?  Novel Baswedan Ngotot Tetap di KPK

SEMENTARA Antasari Azhar (eks Ketua KPK) menyebut penahanan dirinya akibat ia menahan besannya SBY, Aulia Pohan. Bahkan mantan Kajari Jakarta Selatan itu menyebut SBY mengutus Hary  Tanoesoedibjo  ke rumah pribadinya di kawasan Serpong, agar Antasari mencabut perkara  menantu AHY, jika tidak maka akan bermasalah.

Antasari menjawabnya tidak bisa mencabut perkara Aulia Pohan, karena sudah masuk dalam pokok perkara dan penyidikan. Begituah jumpa pers Antasari Anshar 4 tahun lalu. Bahkan Antasari meminta SBY agar jujur dalam masalah pengutusan Hary Tanoe untuk menemui dirinya.

Tiga renteten orang yang dipenjara dan dua sudah bebas sementara satu lagi (Anas) diperkirakan tahun depan bebas murni. Mengungkapkan sepak terjang Cikeas menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadinya.

Belum cukup sampai disitu, almarhum George Junus Aditjondro (akademisi dan peneliti korupsi politik kekuasaan orde baru) dalam bukunya Membongkar Gurita Cikeas; Di Balik Skandal Bank Century dengan tebal buku 183 halaman, mengungkapkan secara panjang lebar bagaimana SBY,  di Pilpres 2009 kampanyenya didanai oleh dana Century dan kemenanggannya itu didapat dengan mengorbankan banyak pihak.

Serta korupsi yang dibanguns SBY sudah ada dan dilaksanakan dalam Pilpres 2009, dan berlanjut dalam kekuasaannya sebagai Presiden.

Baca juga :  Pemerintahan SBY : ASN/PNS Pro Khilafah Tidak Boleh Dipecat

Lalu, apa hubungan semuanya itu dengan Novel Baswedan.  Novel telah bekerja di KPK selama 14 tahun (2007 – 2021).  Ibaratnya, walaupun Komisiner KPK berganti-ganti, tanpa penyidik melaksanakan penyelidikan, maka nama yang disebut Anas, Nazaruddin, Antasari dan (alm) George Aditjondro tak berefek alias jalan ditempat saja dengan suara gongongan yang terdengar.  Yang ada dan terjadi malah penyidik KPK akan membungkam dan menangkap para yang menyebut nama Cikeas,  seperti yang dialami ketiga orang itu, kecuali George. Dan penyidik dewa atau senior di KPK itu bernama Novel Baswedan.

Kabarnya Kini  tidak bekerja lagi di KPK atau berhenti, diberhentikan sebagai pegawai KPK.  Sehingga, apa yang telah disebut Anas, Nazarudin, Antasari, dan (alm) George bisa dibuka lagi, khususnya terkait tran dan klan Cikeas.  Siap-siap Gurita dan Dosa Cikeas dibuka lagi?