Konflik Demokrat, Yasonna Dongkol Tudingan Kubu AHY Soal Intervensi Pemerintah Menyesatkan

0
269
FOTO : Yasonna H. Laoly

Jakarta, NAWACITAPOSTMenteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Yasonna Laoly telah memutuskan untuk menolak kepengurusan Partai Demokrat hasil Kongres Luar Biasa (KLB) yang diajukan Moeldoko dan Jhoni Allen Marbun. Hal ini menguatkan posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang sah.

Namun sebelumnya banyak yang memperkirakan Kemenkum HAM akan mengabulkan permohonan pengesahan kepengurusan KLB Demokrat Deli Serdang, Sumatera Utara.

 

“Sebenarnya, kita itu dongkol banget , karena nama saya dicatut, saya dibilang itu ada pertemuan MenkumHAM dan Moeldoko. Yaa da pertemuan di Istana tetapi kita ketemu tidak bahas soal ini,” kata Yasonna dikutip dari kanal Youtube Karnis Ilyas Club, Jumat (2/4).

Yasonna menyampaikan bahwa pihaknya akan konsisten dengan aturan perundang-undangan yang ada dan AD/ART partai politik. Kemenkum HAM sebagai reprentasi dari pemerintah akan bersikap netral dalam persoalan seperti ini.

 

“Pemerintah sangat menyesalkan tudingan-tudingan yang menyesatkan dari kubu AHY yang menyebut ada intervensi pemerintah. Karena kadang-kadang tudingan itu seperti orang tidak dewasa menangani parpol,” kata Yasonna dikutip Nawacitapost dari wartaekonomi.

Menurut Yasonna masalah internal parpol harus diselesaikan secara internal, dengan melakukan konsolidasi dengan DPC dan DPD,

“Bukan lari kemana-mana, tuding sana sini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat (PD) kepemimpinan Moeldoko, Saiful Ems mengatakan bahwa sudah selayaknya Ketua Majelis Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendatangi satu persatu orang -orang yang pernah dibohongi dan dituduh-tuduhkan tanpa bukti.

Dan itu bisa dimulai SBY dengan mendatangi dan mencium tangan Ibu Megawati Soekarno Putri, Prof. Subur Budi Santoso, Pak Joko Widodo (Jokowi), dan Pak Yasonna Laoly,” tutur Saiful kepada wartawan, Jumat (2/4/2021).

Saiful Huda Ems mengutip sebuah media nasional kala itu SBY masih menjadi Menkopolkam di Kabinet Megawati, SBY pernah menyatakan di hadapan Presiden Megawati, bahwa ia sama sekali tidak terlibat dalam pendirian Partai Demokrat, namun ternyata dalam AD/ART Partai Demokrat Tahun 2020, SBY malah mencantumkan nama dirinya sendiri bersama Ventje Rumangkang sebagai pendiri Partai Demokrat.

“Pernyataan SBY yang seperti itu, bukan hanya membohongi Presiden Megawati Soekarno Putri, melainkan pula telah membohongi rakyat dan seluruh kader Partai Demokrat pada khususnya,” katanya.

Pihaknya pun mengaku tahu betapa sebelum adanya keputusan Kemenkum HAM yang menolak pengesahan KLB Partai Demokrat pimpinan Moeldoko, berulang-ulang kali SBY dan anak-anaknya telah menuduh-nuduh Pemerintahan Jokowi berada di balik rekayasa keributan internal Partai Demokrat.

“SBY dan AHY mengolok-olok Pemerintahan Jokowi sebagai pembegal demokrasi karena dituduhnya telah ikut intervensi diselenggarakannya KLB Partai Demokrat di Sibolangit,” papar dia.

Atas tuduhan demi tuduhan SBY terhadap Pemerintahan Jokowi khususnya kepada Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna Laoly dan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko itulah, yang menjadikan Yasonna Laoly sempat kesal pada pihak SBY yang terus menuding-nudingnya, hingga Yasonna pernah mengungkapkan kekesalannya pada SBY di hadapan para jurnalis, yang mana Yasonna meminta pihak SBY berhenti untuk terus menyalah-nyalahkan Pemerintah.

“Sebab Pemerintah awalnya sama sekali tidak tau menau soal kemelut internal Partai Demokrat yang berujung dengan KLB di Sibolangit ini,” ulas SHE.

Namun anehnya, ujar dia, seperti tak tahu malu, setelah Kemenkum HAM menolak pengesahan pengurus Partai Demokrat hasil KLB Deliserdang, SBY dan AHY memuji-muji setinggi langit Presiden Jokowi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Menko Polhukam Mahfud MD.

“Pujian setinggi langit yang nampak hanya basa-basi karena tidak disertai permintaan maaf apalagi cium tangan Pak Jokowi dan Pak Yasonna Laoly yang sebelumnya SBY dan AHY hujat setengah mati,” ujarnya.

Atas dasar semua itu, pihaknya mengaku berpikir dan menyerukan agar SBY dan anak-anaknya segera mendatangi Presiden Jokowi, mendatangi Ibu Megawati, Prof. Subur, Pak Yasonna dan lain-lain untuk meminta maaf dan mencium tangannya. Baginya, meminta maaf dan mencium tangan pada orang yang kita zhalimi itu suatu tradisi yang baik dan perlu dilestarikan.

“Pak Jokowi saja yang tidak bersalah apa-apa selalu menundukkan wajahnya di hadapan SBY dan para sesepuh tokoh negara, masak Pak SBY yang berlumuran dosa tidak mau meminta maaf dan mencium tangan Pak Jokowi dan lain-lainnya yang kami sebut di atas,” ketus pria yang juga berprofesi sebaga pengacara ini.