FPI Dilarang, Kelompok Radikalisme Ketakutan

0
383
Plang FPI Dirobohkan Aparat Negara Berdasarkan Perintah Peraturan

Jakarta, NAWACITAPOST – FPI sudah resmi dibubarkan dan dilarang di Indonesia. Larangan itu termasuk dalam segala bentuknya. Atribut, baliho, gambar medsos dan terkait lainnya.

Baca Juga : Gebukan Hukum Jokowi Lewat Eddy Hiariej

RESMI diumumkan di kantor Menkopolhukam. Kapolri, Panglima TNI, BNPT, Menkumham, Mendagri, Menkominfo ada dalam barisan, ketika FPI dibubarkan. Mulai tidak terdaftar di Kemendagri melalui Surat Keterangan Terdaftar yang terhenti di  tahun 2019.

Alasan dibubarkannya sudah secara gamblang dijabarkan Menkopolhukam Mafud MD, dan Wamenkumhan Eddy H. Mulai dari  afiliasi dengan ISIS (organisasi teroris berbahaya di dunia), ratusan anggotanya terlibat kriminal teroris, dan sudah pasti melakukan sweping yang bukan haknya kepada café, dan tempat-tempat hiburan.

Merasa sebagai mahasiswa yang harus kritis terhadap permasalahan bangsa. Ketua  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fajar Adi Nugroho  yang aktif di HMI mengeluarkan pernyataan kepada pemerintah tentang mengapa FPI dibubarkan dengan alasan-alasan yang dikatakannya melanggar kebebasan ekspresi demokrasi dan mengekang pendapat, serta argumen yang intinya  pemerintah salah.

Dijamin pernyataan  Ketua BEM UI ini, tidak bulat. Artinya ada di  UI juga yang senada dengan tindakan pemerintah melarang FPI.

Terkait FPI.  Banyak orang menyebutnya sebagai ormas bercorak preman . Selalu membuat ulah. Himbauan dan peringatan dari aparat negara  selalu mereka abaikan.  Di bulan Nopember 2020 saja, ketika pemerintah mengeluarkan ultimatum bahwa tidak boleh ada kerumunan, karena situasi pandemi Covid -19. Ultimatum itu didasarfkan pada UU.

FPI tetap melaksanakan kerumunan, penjemputan Rizieq Shihab di bandara Soetta, Pernikahan petamburan, ceramah Megamendung. Itu saja sudah banyak orang berkerumun. Ceramahnya pun ajakan melawan pemerintah selalu didengungkan. Pemenggalan kepala disampaikan.

Pembersihan berupa pencopotan baliho, dan pelarangan FPI. Suara yang membela hanya segelintir tak  banyak. Alasanm pembelaan pun mereka nadakan pemerintah anti demokrasi, anti HAM, dan jualan-jualan yang saat mereka (FPI) dibiarkan, malah mereka itulah yang kerap sebagai pelanggar berat HAM dan pelanggar super berat demokrasi.

Tentu  pembubaran dan pelarangan FPI sudah pikirkan secara matang, cermat dan pertimbangan yang sangat masuk akal oleh pemerintah. Suriah, dan Irak adalah  negara yang hancur lebur karena ulah dari kelompok yang menyebutnya ISIS. Dua negara itu pemerintahnya membiarkan kelompok anti radikalisme, anti toleransi dibiarkan tumbuh subur, akhirnya berhasil menghancurkannya. Butuh waktu lama untuk memperbaikinya.

Seandainya FPI  tidak dibubarkan dan tidak dilarang. Adakah jaminan negara kita aman? Hanya satu hari Rizieq ada di Indonesia. Begitu beringasnya FPI melakukan segala bentuk provokatif dan  seruan anti pemerintah. Seakan mereka berkuasa. Negara dalam negara itulah yang tepat disematkan kepada FPI dan jejaringnya.

Fajar memang mahasiswa  yang harus kritis. Namun itu hanya dalam bacaan dan teori demokrasi modern  yang  mengharuskan negara (pemerintah) untuk memberikan kebebasan khusunya FPI. Namun dampak yang ditimbulkan, jika FPI dibiarkan tidak dipikirkan.

Yang jelas dan pasti,  jika FPI dibiarkan, maka korbannya adalah seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah membubarkan dan melarang FPI, membuat kelompok radikalisme ketakutan dan diam tak  berkutik,  bukan rakyat Indonesia, dan itu menandakan  Negara Sudah Hadir.

Buktinya, seluruh rakyyat Indonesia mendukung langkah pemerintah terkait pembubaran dan larangan FPI.  Dan, jika survei dilakukan dengan pertanyaan utama setujukah Anda (rakyat) tentang pembubaran dan larangan FPI yang dilakukan pemerintah, jawabnya pasti setuju (maaf bukan mendahului hasil survey), tapi itu jeritan rakyat dari hati lubuk paling dalam.