Baca Juga : Setelah Dua Kapolda Dicopot, Anies Hari Ini Dipanggil Kepolisian
TIGA (3) calon berlaga di pilkada ini. AHY – Silvia Murni, Anies Bswedan – Sandiaga Uno, dan petatahan Ahok – Djarot Syaiful Hidayat. Berlangsung dua putaran, putaran pertama mengharuskan AHY bersama Silvia Murni membersihkan balihonya alias tak bisa masuk ke putaran kedua karena kalah.
Putaran Kedua tinggal Anies Baswedan – Sandiaga Uno dan Ahok – Djarot. Sebenarnya diputaran pertama politik identitas sudah dimainkan. Saat putaran pertama Kelompok FPI begitu masif mendukung kampanye AHY. Kabarnya puluhan orang dari FPI dan kelompok lainnya sempat diberangkatkan Umroh. Namun, saat pengumuman resmi KPU, AHY terpental. Kabarnya AHY kecewa dan marah akan hal ini. Sepertinya FPI mendukung AHY hanya setengah hati, terbukti suara AHY di ribuan TPS anjlok.
Putaran kedua menjadi bukti militan dukungan FPI kepada Anies. Berbagai cara kelompok ini memainkan politik identitas. Ucapan kelompok ini gencar diucapakan di tempat ibadah, bahwa yang tidak mendukung Anies, lahir sampai mati tak akan diurus.
Pilkada di putaran ini dimenangkan Anies. Ahok dan Djarot harus terpental dan membereskan ruang kerjanya di Balaikota Jakarta. Bukan hanya itu, Ahok pun di penjara.
Tak lama dari situ tokoh utama FPI, HRS pun harus ‘kabur’ ke Arab Saudi. 3 tahun lamanya berdiam di negara penghasil minyak terbesar di dunia. Selama HRS disana tentu pelru biaya besar. Sampai kepulangan HRS ke Jakarta pada 10 Nopember 2020.
JK memang tak membiayai HRS di Arab Saudi dan Kepulangannya ke Jakarta. Namun usulan dan penetapan Anies sebagai calon Gubernur dan akhirnya menang, ada jasa besar dari mantan Ketua Umum Partai Golkar ini. Bisa saja JK perintahkan Anies untuk biayai HRS di Arab Saudi atau atas inisiatif pribadi Anies.
Yang jelas dengan bertandangnya Anies ke rumah HRS di Petamburan 10 Nopember 2020 malam, ada benang merah tersaji secara jelas. Rakyat Indonesia menyaksikan secara jelas akan hal ini.
Entah apa yang dibicarakan Anies dengan HRS. Dukungan tentu diminta Anies dari HRS. Dan, apakah mungkin HRS menjawabnya dengan ya alias gratis? Dalam Politik itu take n give yang terjadi.
Terlepas dari peran ke tiga orang ini. Anies, JK dan HRS kemungkinan berlaga di 2024 bisa ya dan bisa juga tidak, Yang pasti ketiga orang diminta dan tidak diminta pasti mencari dukungan atau memberi dukungan kepada Partai Politik.