Baca Juga : Siasat Anies Baswedan Mulai Disadari Kepala Daerah Penyangga
Seperti disampaikan (konferensi pers PSBB Total, Minggu (13/9/2020) mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diberhentikan sebelum waktunya itu. Hal tersebut terkait (kematian meningkat) dengan kegiatan yang telah Anies lakukan tes PCR sebanyak 732 ribu. Jumlah tersebut lebih masif dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Sedangkan PCR skala secara Nasional sebanyak 1,49 juta.
Tes PCR itu ujar suami Fery Farhati gunanya untuk menyelamatkan nyawa warga Jakarta. Sebenarnya apa yang disampaikan Anies ini tidak salah dan tak perlu diperdebatkan lebih jauh, intinya pada tes itu.
Sederhananya Anies menyebut pada tingkat kematian. Didasarkan dengan angka statistiknya secara persentase yang meninggal dibagi dengan jumlah kasus memang menurun. Tapi jumlah orang yang meninggalnya mengalami peningkatan dan cukup tinggi.
Rupanya sengaja ayah dari Mutiara Annisa menyatakan hal itu. Supaya ada pengaruh secara siginifikan dalam dukungan menuju 2024. Ternyata dukungannya menurun, bahkan berada jauh di bawah Gubernur Jawa Barat - Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah - Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur - Kofifah.
Mantan Rektor Universitas Paramadina ini. Semenjak jadi orang nomor satu di Jakarta. Banyak kebijakannya penuh dengan keanehan dan kontraproduktif. Bermain kata menjadi senjata andalannya.
Terbukti sebelum PSBB diterapkan. Anies mengijinkan demo di Senayan, deklarasi KAMI di jalan tugu Proklamasi, Car Free Day, dan Ganjil – Genap. Semua yang dijinkan itu sebagian besar karena desakan pendukungnya, sedangkan UU dan Peraturan cukup dibaca saja.