Jakarta, NAWACITAPOST-Peristiwa penyerangan terhadap Wakopolres Karanganyar Kompol Busroni yang terjadi pada Minggu (21/6/2020). Pelakunya bernama Karyono Widodo, warga Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Yang pernah terlibat dalam bom Thamrin Jakarta , dan baru bebas pada 2019 dari LP Lampung.

Baca Juga : Simbol Khilafah Di Saat Ini dan Mendatang Bukan Suatu Kebanggaan

Waktu belum genap 2 bulan dari peristiwa tersebut, insiden Sabtu (8/8/2020) di kampung Mertodranan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo yang menimpa keluarga Habib Assegaf bin Jufri yang sedang melaksanakan persiapan acara midoderani dengan korban luka-luka 3 orang.

Dalam waktu 48 jam tepatnya 10 Agustus 2020 berhasil di tangkap aparat kepolisian kota Solo. Pelaku berinisial BD dan HB, tegas Kapolresta Solo, Kombes Pol Andy Rifai.

Insiden tersebut menambah panjang deretan kasus intoleran. Terlebih memunculkan korban luka dan menyulut kemarahan berbagai pihak, setelah beberapa tokoh menjadi sasaran.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah H Sholahuddin Aly (Gus Sholah) meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus yang muncul. Pasalnya jika kondisi ini dibiarkan, akan semakin intens peristiwa serupa terjadi.

Gus sholah menekankan bahwa ”Kami mendesak kepolisian mampu menyeret pelaku. Tidak bisa dibiarkan kelompok intoleran yang terus beraksi,” terang Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah H Sholahuddin Aly melalui keterangan pers kepada awak media.

Hal senada disampaikan Ketua PC GP Ansor Kota Surakarta Arif Sarifudin. ”Kita mendorong aparat kepolisian untuk segera menindak tegas pelakunya. Saat ini suasana di Kota Surakarta relatif aman dan normal, namun kami juga mengimbau pada masyarakat untuk tidak terpancing dengan provokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” paparnya.

Polres Surakarta di back up Polda Jawa Tengah dan Mabes Polri berhasil menangkap pelaku berinisial BD dan HB di Solo pada Minggu (9/8/2020), tegas Kapolresta Surakarta Kombes Kombes Pol Andy Rifai.

Baca juga :  Dipimpin Kemendikbudristek, Hasil Kerja G20 Bidang Pendidikan Tuntas dengan Gotong Royong

Patut diapresiasi langkah dan kebijakan Kapolri Idham Aziz. Aksi-aksi pro radikal terjadi namun berhasil dilumpuhkan

Intolerensi bukan sekedar paham yang mereka lancarkan melainkan aksi pun siap dan telah mereka lakukan seperti yang dilakukan di Solo. Mereka ini dalam melakukan aksinya tak mengenal banjir, bencana alam, dan covid 19. Bahkan hal-hal tersebut dijadikan tumpangan atau boncengan dalam aksi biadabnya selalu dijadikan kesempatan.

Para kelompok intoleren ini tak pernah tidur, mereka terus bangun dan siap menelan korban yang tak bersalah. Perbedaan bagi mereka tidak berlaku. Yang ada kemauan mereka harus diikuti.

Melawan pemahaman dan aksi intolren adalah membentengi warga dengan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila secara terus menerus. Hasilnya pasti didapati secara menakjubkan.