Jumat, 5 Juni 2026

Resesi Ekonomi Depan Mata, Bayang Jurang Jangan Sampai Jadi Nyata

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Senin, 20 Juli 2020 | 11:35 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Ekonomi  negara  tetangga, Singapore  resmi  memasuki  jurang  resesi ekonomi. Terlebih setelah pertumbuhan ekonomi kuartal 2 mengalami kontraksi yang cukup  dalam. Tepatnya di angka  minus  41,2%.  Bayang - bayang  akan  menghantui negara Asean lainnya. Termasuk Indonesia yang juga akan mengalami nasib yang sama sebagai dampak pandemi Covid 19. Yang mana telah meluluhlantahkan berbagai aktivitas bisnis di berbagai negara belahan dunia. IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Malaysia kuartal dua akan minus 2%. Kemudian kuartal tiga minus 9,7%. Sedangkan Thailand kuartal  dua minus 2,2% dan kuartal tiga akan  mengalami   kontraksi   yang   cukup   dalam   minus   17%.   Ekonomi Indonesia kuartal dua diperkirakan akan minus dikisaran 3,5% - 5,1% dengan titik  tengah  4,3%. Lalu kuartal  tiga  diperkirakan  minus  3%  dan  kuartal  empat akan   minus  2% . Dengan demikian   pertumbuhan   ekonomi  tahun   2020 diperkirakan    minus    2%. Jika    pertumbuhan    sekonomi    satu    negara mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut - turut maka dipastikan memasuki  jurang   resesi   ekonomi. Yang mana akan   menimbulkan   semakin bertambahnya permasalahan serius. Diantaranya  gelombang  PHK  (Pemutusan Hubungan Kerja) dan  pengangguran, daya  beli  masyarakat semakin  menurun dan kemiskinan    semakin    bertambah. Terlebih karena banyak masyarakat  yang  kehilangan  mata  pencaharian  dan  pelaku  UMKM  akan bertumbangan.  Dampak  resesi  ekonomi  akan  menjadi  beban  sosial  yang harus diwaspadai dan perlu penanganan ekstra. Sehingga tidak menimbulkan gejolak sosial yang dapat mengganggu stabilitas  perekonomian dan politik. Pelaku usaha berharap agar pemerintah sigap mengantisipasi dampak resesi ekonomi yang akan dihadapi.

BACA JUGA: Rasa Senioritas Personil Angkatan Laut, Mengamuk dan Merusak di Mako Satreskrim Polres Nias Selatan

Foto : Sarman Simanjorang selaku Ketua Umum DPD HIPPI Provinsi DKI Jakarta bersama Menteri BUMN Erick Thohir

Pertama cara upaya dan strategi agar pertumbuhan  ekonomi jangan  jatuh  (minus)  terlalu  dalam. Semoga tidak mencapai dua digit. Yang kedua cara menjaga daya beli masyarakat atau konsumsi rumah  tangga tidak turun secara drastis. Yang mana  kini  di level  2,84%  bisa  naik  diangka  3,5 - 4%. Sehingga  mampu  menahan pertumbuhan   ekonomi   tidak   jatuh   terlalu   dalam. Ketiga menciptakan program padat karya. Tak lain untuk dapat menampung para tenaga kerja yang  terkena  PHK. Keempat, menyediakan  modal  kerja  untuk  UMKM. Sehingga   potensi   dan   kekuatan   UMKM   dapat   dijadikan   benteng   dan kekuatan       perekonomian       nasional. Terlebih dalam proses pemulihan perekonomian. Kelima berbagai kebijakan dan regulasi   pemerintah seperti stimulus  dan  relaksasi  benar - benar  berjalan  di lapangan. Yakni untuk  membantu pengusaha    dapat    bertahan    selama    pandemi    Covid    19. Keenam mengevaluasi  pemberian  bantuan  sembako  menjadi  bantuan  tunai  untuk menggerakkan   konsumsi  rumah   tangga. Ketujuh     mengerakkan   semua potensi  kementerin  terkait   untuk  fokus  menangani  Covid  19  dan  pemulihan perekonomian. Terakhir  segera  membentuk  Komite  Percepatan Pemulihan    Perekonomian    Nasional    (KP3N)    atau    sejenisnya. Semata – mata untuk membantu  pemerintah  merumuskan  dan  menyusun  blue  print berbagai strategi, program dan kebijakan      yang      dibutuhkan. Sehingga      pemulihan perekonomian nasional dapat lebih cepat dan target pertumbuhan ekonomi tahun 2021 dapat tercapai diangka 4,5 -5,5%.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

-
Foto : Presiden Jokowi

Pemerintah  harus  memberikan  perhatian  dan  kebijakan  khusus  terhadap modal  kerja  UMKM. Tentu yang  diharapkan  mampu  menopang  perekonomian selama  pandemi  Covid  19.  Jutaan  UMKM  kini  tidak  dapat  membuka usahanya. Memang karena  sudah  kehabisan  modal  kerja  atau habis  membiayai kebutuhan rumah tangga selama 4 bulan lebih dengan kondisi tutup. Sektor UMKM sangat mudah  digerakkan  asalkan  pemerintah  segera  memberikan  modal  kerja. Yaitu dengan  persyaratan  yang  mudah  dijangkau  dan  dipenuhi.  UMKM  butuh modal tidak banyak dan variatif di kisaran 10 s/d 25 juta. Sudah dapat membuka  usahanya. Modalnya  langsung  berputar  dan  langsung  merekrut tenaga kerja. Namun jika mendapatkan modal kerja dengan skema standar perbankan  dipastikan  UMKM  tidak  akan  dapat  memenuhinya.  Bila  perlu pemerintah    membentuk    Satgas    Permodalan    UMKM. Yang mana untuk    dapat merumuskan penyaluran modal UMKM. Persyaratannya yang  mampu dipenuhi  seperti  jenis  usaha, lama  usaha  dan  prospek  selama  ini.  Jika Pemerintah  lamban merespon modal kerja UMKM maka akan mencari  alternatif  lain. Yaitu  meminjam  ke  rentenir  atau  bank  keliling dengan   bunga   yang   sangat   tinggi.   Hal demikian   dilakukan   karena   mudah mendapatkan  dan  tanpa  jaminan. Bahkan terlebih memang siap  mencicil  setiap  hari. Inilah yang membuat UMKM susah naik kelas. Akankah kondisi semacam demikian dibiarkan  terus? Saatnya  mewujudkan  harapan  Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Cara menangani  UMKM  memakai  manajemen  krisis. Memberikan  perhatian penuh terhadap UMKM yang memberikan kontribusi sangat besar. Terutama terhadap penyediaan lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, ekspor dan investasi. Demikian disampaikan Sarman Simanjorang selaku Ketua  Umum DPD HIPPI Provinsi DKI Jakarta. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Sekolah Tidak Pernah Pakai Sepatu, Pratikno Kini Jadi Menteri 2 Periode Jokowi

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini